Legislator: Kebijakan Impor Beras Akibat Kurang Koordinasi
SOLO — Kebijakan pemerintah yang mengimpor 500 ribu ton beras dari luar negeri menjadi catatan tersendiri bagi Komisi IV DPR RI. Pasalnya, kebijakan impor beras itu muncul akibat tidak adanya koordinasi yang baik antara Menteri Perdagangan dengan Menteri Pertanian, menyikapi kondisi pangan secara nasional.
Hal inilah yang diungkapkan anggota Komisi IV DPR RI, Darori Wonodipuro saat menghadiri pelantikan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Karanganyar, Solo Jawa Tengah, masa bakti 2017-2022. Menurut dia, kebijakan impor yang hanya akan merugikan petani seharusnya dikaji lebih matang sebelum dilaksanakan.
“Saya harap kebijakan yang menyangkut masyarakat banyak harus dianalisis benar-benar. Impor beras yang dilakukan tiba-tiba ini harus dikaji kembali, jangan sampai rakyat yang dirugikan,” kata Darori saat ditemui awak media, di Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Rabu (24/1/2018).
Adanya kebijakan impor 500 ribu ton, lanjut dia, cukup mengkagetkan semua pihak, terutama kalangan wakil rakyat di Senayan. Sebab, hasil kroscek dengan Menteri Pertanian, kondisi beras secara nasional sebenarnya masih cukup.
“Jadi semua terkejut. Bagaimana tidak, saat kita tanya Mentan (Menteri Pertanian) beras katanya cukup, tapi Mendag (Menteri Perdagangan) impor beras,” tekannya.
Menurut data Menteri Pertanian, produktivitas beras nasional mencapai 2,6 juta ton, sedangkan konsumsi dalam negeri 2,3 juta ton. Masih adanya sisa 0,3 juta ton menjadikan Indonesia masih surplus beras.
“Kalau seperti ini tidak ada koordinasi yang baik antar menteri. Seharunya kebijakan impor beras ini didasari rekomendasi Menteri Pertanian,” tegas dia.
Komisi IV menilai, kebijakan impor beras hanya akan membuat petani semakin terpuruk. Sebab, impor beras yang sudah dilakukan pemerintah akan berdampak dengan penjualan hasil panen petani.
Diperkirakan, Februari-Maret 2018, petani sudah mulai panen raya. Sementara beras impor masih berada di pasaran, dan akan membuat harga beras lokal jatuh.
“Secara pribadi saya kecewa dengan kebijakan impor beras ini, karena tidak berpihak pada petani. Petani selalu dirugikan, karena saat panen harga menjadi jatuh karena impor beras,” imbuhnya.
Adanya kebijakan impor yang sudah terlanjur dilakukan, pihaknya meminta pemerintah agar beras impor masuk cadangan pangan nasional. Fungsinya, untuk antisipasi jika ada kejadian darurat sehingga cadangan beras harus dikeluarkan.
“Ini untuk melindungi petani agar tidak mengalami harga yang jatuh akibat beras impor. Kalau tetap dijual di pasaran, petani dipastikan semakin pailit,” pungkas Ketua HKTI di Jawa Tengah.