Harga Naik, Permintaan Beras di Sejumlah Pasar Lamsel Turun
LAMPUNG — Kenaikan harga beras di sejumlah pasar tradisional di Lampung Selatan mulai berimbas pada tingkat permintaan dari konsumen yang membeli di toko beras.
Kondisi tersebut diakui oleh Suradi (60) salah satu pedagang beras di pasar tradisional Pasuruan Kecamatan Penengahan. Kenaikan harga beras sudah mulai terjadi pada pekan pertama Januari 2018. Kenaikan sudah terjadi dari para distributor pemasok beras yang akan dijual ke konsumen terutama jenis beras medium dan premium.
Suradi menyebut sebelumnya harga beras jenis medium dijual dengan harga Rp8.000 hingga Rp9.500 per kilogram. Namun hingga mendekati pekan kedua bulan ini harga beras jenis medium mencapai Rp10.500 hingga Rp11.500.
Sementara beras kualitas medium sudah mencapai Rp12.000 dan kualitas premium mencapai Rp13.000. Beras jenis ini merupakan jenis beras IR 64, Muncul dan Ciherang. Kenaikan tersebut diakuinya membuat daya beli masyarakat menurun sehingga stok di gudang miliknya masih cukup banyak.
“Berdasarkan pengamatan saya kenaikan harga beras ini memang naik setiap pekan dan sudah terjadi dari tingkat distributor imbasnya saya sebagai pedagang pengecer harus ikut menaikkan harga kepada konsumen,” terang Suradi kepada Cendana News, Selasa (9/1/2018)
Suradi membeberkan kenaikan harga beras disebutnya terjadi secara bertahap mulai dari Rp300, Rp500 hingga mencapai harga yang sekarang. Harga yang sekarang merupakan harga paling tertinggi untuk beras yang dijualnya.
Ia menyebut kondisi di lapangan sejumlah pedagang memang menjual beras dengan harga berbeda meski sebagian sudah mengalami kenaikan.
Akibat kenaikansebagian konsumen yang biasanya membeli beras kualitas medium berbentuk kemasan saat ini mulai membeli beras medium dengan sistem curah.
Kualitas beras curah atau asalan diakuinya tidak kalah dengan beras dalam kemasan yang diakuinya dijual dengan menggunakan merk dagang Rojolele dan Manggis dalam kemasan 10 kilogram, 15 kilogram serta 20 kilogram.
“Jenis beras yang saya jual hanya ada tiga jenis berupa beras Muncul, Ciherang dan IR 64 yang sebagian merupakan produksi lokal Lampung,” terang Suradi.
Salah satu konsumen bernama Sabrina (40) asal Desa Pisang Kecamatan Penengahan mengakui sebelumnya ia kerap membeli beras medium dengan harga Rp300.000 sudah memperoleh tiga karung dengan harga per kilogram Rp10.000.
Dengan naiknya harga beras ia harus merogoh kocek lebih dari biasanya. Ia bahkan biasanya membeli sebanyak tiga karung sekaligus namun kini hanya membeli satu karung sembari menunggu harga beras turun.
Sabrina yang kerap membeli beras jenis Muncul dalam kemasan mengaku kebutuhan akan beras disebutnya kerap dipenuhi dengan membeli dari beberapa penggilingan namun akibat masa tanam petani padi dan masa panen dipastikan mundur dirinya terpaksa membeli di toko beras.
“Saat musim panen biasanya saya membeli beras dari tempat penggilingan sebanyak satu kuintal tapi sekarang petani bahkan masih memasuki masa tanam,” sebutnya.
Salah satu petani padi di Desa Klaten, Suminah (40) mengakui dampak dari mundurnya masa tanam dan dipastikan akan menyebabkan mundurnya masa panen antara April hingga Mei membuat stok beras petani berkurang.
Sebagian petani yang tidak memiliki stok di lumbung dan titipan di sejumlah penggilingan bahkan dipastikan akan mengalami kesulitan mendapatkan beras.
Suminah yang memiliki stok gabah untuk digiling sewaktu-waktu mengungkapkan sebagian petani bahkan terpaksa “nempur” atau membeli secara eceran dari petani lain saat stok persediaan menipis dengan harga sudah berkisar Rp11.000 per kilogram.
Selain nempur sebagian warga bahkan memilih meminjam gabah ke penggilingan dengan jumlah sekitar 1 kuintal dan akan dikembalikan dengan sistem “yarnen” atau bayar panen untuk memenuhi kebutuhan beras.
