Pecinta Motor Tua Kopi Darat di Munca

LAMPUNG — Kesan antik, unik dan nyentrik terlihat dari ratusan penghobi kendaraan jenis C50, C70, C90, CB, yang merupakan jenis kendaraan roda dua jenis bebek yang diproduksi pada kurun 1950 hingga 1990 atau dikenal dengan Honda C Series pabrikan Jepang serta Vespa yang merupakan jenis skuter asal Italia.

Tanpa membedakan asal-usul, jenis motor yang dikendarai satu hobi akan motor jadul yang modelnya tak lekang oleh waktu tersebut membentuk beberapa komunitas penghobi motor antik C series Nusantara.

Beberapa jenis kendaraan, di antaranya Honda C70 atau dikenal dengan sebutan ‘Si Pitung’, ikut hadir dalam kegiatan pertemuan para penghobi kendaraan antik tersebut atau dikenal dengan “kopi darat” di Munca, Desa Canti, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Minggu (5/11/2017).

Taat Tapsiri, selaku Ketua Paguyuban HACLA (Honda Clasic Lampung),  mengungkapkan, acara kopi darat tersebut sengaja digelar di pesisir Rajabasa yang dikenal sebagai tempat wisata dengan keunikan pemandangan alam pegunungan bahari sekaligus kuliner ikan yang menggugah selera.

“Sebagai anggota komunitas penghobi motor jadul dan nyentrik, kita lakukan silaturahmi sesama anggota. Jika selama ini intens komunikasi hanya melalui media sosial atau grup WhatsApp, namun kini bisa ketemu langsung sekaligus memperlihatkan kepedulian pecinta motor antik pada dunia literasi di Lampung Selatan”, terang Taat Tapsiri, di sela kopi darat Triwulan IV di Munca Desa Canti, Kecamatan Rajabasa, yang berada di pesisir pantai tersebut, Minggu (5/11/2017) sore.

Para peserta kopi darat triwulan IV di Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan. [Foto: Henk Widi]
Sebagai sebuah kegiatan pertemuan antar anggota komunitas motor antik sekaligus bakti sosial, Taat Tapsiri mengapresiasi penggagas kegiatan tersebut digelar di Lampung Selatan, terutama salah satu anggotanya yang juga pecinta motor antik bernama Sugeng Hariyono, menjadi salah satu pegiat literasi dengan kendaraan berkeliling kampung menebarkan literasi dengan kendaraan GL Max 100 cc 1986. Bahkan, bersama sang istri, Asih Kurnia, yang juga mengendarai motor C70 sebagai penggerak Cetul Pustaka Nusantara.

Taat Tapsiri mengaku senang bisa diajak belajar lebih peduli dalam dunia pendidikan, terutama jika selama ini klub motor antik sudah sering melakukan kegiatan bakti sosial (Baksos), namun dalam acara di Lampung Selatan lebih berbeda dengan kegiatan donasi buku.

Donasi buku  diakuinya sekaligus bisa berbagi rasa merdeka dengan anak-anak generasi penerus bangsa. Ke depan, ia juga berharap kegiatan seperti ini akan menjadi agenda lain, sehingga muncul Sugeng Hariyono yang lain di Lampung ini, karena dengan membaca anak-anak bisa melihat dunia.

Taat Tapsiri (kanan), Ketua Paguyuban Honda Clasic Lampung. [Foto: Henk Widi]
Hal yang sama juga diakui Dedi Kurniawan, anggota Honda Antik Modifikasi Kalianda (HAMKA) yang menyebut anggota komunitas motor meski memiliki hobi yang unik, harus tetap memiliki kepedulian terhadap sesama manusia.

Kepedulian tersebut telah dilakukan dengan menggelar kegiatan bakti sosial lain sebelumnya berupa aksi donor darah,membantu warga berkekurangan serta di antaranya membantu bedah rumah.

Dalam kegiatan kopi darat, komunitas pecinta motor antik tersebut total dihadiri oleh 160 motor antik dengan total peserta 200 anggota, di antaranya dari HACLA dan dari beberapa klub motor antik lain di antaranya  Honda Antik Modifikasi Kalianda (HAMKA), dan dari kabupaten lain di Provinsi Lampung.

Beberapa klub motor antik dari kabupaten lainnya, dari klub HTC berasal dari Bandar Jaya, Lampung Tengah, klub HAC dari kabupaten Tanggamus, klub JACK dari Kota Bumi, kabupaten Lampung Utara, klub JPM dari kota Bandar Lampung, klub KHC dari Katibung Lampung Selatan dan  klub HMC dari Sidomulyo, Lampung Selatan, serta sebagian dan club HCI Regional 1 Sumatera.

Sugeng Hariyono sebagai salah satu anggota klub motor antik dengan kendaraan GL Max 100 cc 1986, yang menjadi armada pustaka bergerak di Lampung Selatan dengan membawa buku ke pelosok desa di Lampung Selatan mengaku mengapresiasi anggota klub motor antik yang mendonasikan buku.

“Pemberian donasi buku sekaligus memperlihatkan kepedulian komunitas atau klub motor pada dunia literasi dan berempati pada dunia pendidikan”, terang Sugeng Hariyono.

Dedi Kurniawan, anggota HAMKA (kanan) menyerahkan donasi buku secara simbolis kepada Sugeng Hariyono (kiri) pegiat literasi di Lampung Selatan. [Foto: Henk Widi]
Sugeng Hariyono mengaku, jumlah buku yang didonasikan dengan berbagai jenis buku bacaan untuk anak-anak usia TK hingga SMP tersebut, di antaranya buku dongeng, ilmu pengetahuan dengan jumlah buku yang terkumpul sebanyak 600 eksemplar yang didonasikan untuk Motor Pustaka dan Cetul Pustaka Nusantara.

Tujuan donasi buku tersebut dilakukan supaya terus bisa berbagi rasa merdeka dengan menebar virus baca masyarakat Lampung Selatan.

Hadir juga dalam kopi darat motor antik, perwakilan dari Armada Pustaka Lampung Motor Pustaka dan Cetul Pustaka Sugeng Hariyono dan Khaja Muda, selaku pegiat literasi Rumah Akar Raja Baca.

Kegiatan kopi darat yang dilakukan secara rutin tiap tiga bulan sekali tersebut dilangsungkan selama dua hari sejak Sabtu (4/11) hingga Minggu (5/11) yang merupakan kegiatan paguyuban HACLA, diisi dengan diskusi, sharing pengalaman, stand up comedy, permainan unik, wisata alam, donasi buku dan akan digelar triwulan sekali secara rutin.

Lihat juga...