Caci, Tarian Perang Masyarakat Manggarai

MAUMERE – Tarian Caci bagi orang Manggarai yang bermukim di bagian barat pulau Flores, Provinsi NTT, biasanya merupakan pertandingan antar kampong. Semakin jauh kampung yang dilawan, maka semakin sering dilakukan pertandingan Caci.

Dalam pementasan tarian Caci di lapangan umum Kota Baru Maumere, Paul Bangkur selaku ketua keluarga besar Manggarai di kabupaten Sikka mengatakan, dulu selain adu ketangkasan dalam tarian Caci juga disisipkan ilmu gaib.

“Tetapi saat ini tarian Caci yang dipentaskan menampilkan ketangkasan pribadi, yang diuji bagaimana kelincahan dari para pemain Caci untuk menyelamatkan diri dari cambukan sang lawan,” ungkapnya.

Pemain Caci yang memperagakan tarian Caci yang sangat seni juga melakukan teriakan untuk menunjukkan siapa dan asal dirinya dan sebagai orang Manggarai dengan adanya pentas tarian Caci sebagai bentuk menyebarkan budaya Manggarai oleh warga diaspora di kabupaten Sikka.

Paul menjelaskan, Caci dimainkan dua orang laki-laki yang akan melakukan pukulan secara bergantian dan bertukar posisi sebagai penyerang dan bertahan dan saat menari pemain Caci juga melecutkan cambuk kepada sang lawan.

“Kalau pukulan mengenai badan, maka akan meninggalkan luka goresan dan luka ini tidak diobati dengan obat, dan dibiarkan sembuh secara alami dan biasanya pemain Caci tidak terlalu merasakan sakit,” ungkapnya.

Caci, jelas Paul, berasal dari kata Ca yang berarti Satu dan Ci yang berarti Uji atau Adu, sehingga Caci bermakna pertarungan satu lawan satu untuk membuktikan siapa yang terbaik.

Seorang penari Caci sedang berlutut memohon restu leluhur dan mempersiapkan diri untuk pementasan tarian Caci. -Foto: Ebed de Rosary

Ketua Ikatan Mahasiswa Manggarai Maumere, Ernestus Holifil, menjelaskan, pementasan tarian Caci ini selain melibatkan mahasiswa Manggarai dari kabupaten Sikka juga yang menetap di kabupaten Ende.

Pementasan tarian Caci, tegas Ernestus, dilakukan agar anak-anak muda bisa mengenal budayanya yang sudah diwariskan nenek moyang, sebab bila warisan budaya tidak dilestarikan maka lama-kelamaan akan hilang.

“Pementasan ini bermaksud menggugah anak muda untuk membangun kembali budaya daerahnya, sebab anak muda sebagai agen perubahan sehingga saatnya anak muda berubah,” tegasnya.

Sementara, Bupati Sikka, Drs. Yoseph Ansar Rera, memberikan apresiasi kepada anak muda yang mementaskan budaya tarian Caci guna memaknai sumpah pemuda dan sekaligus menegaskan, bahwa di kabupaten Sikka juga terdapat warga Manggarai, sehingga mari kita bersama membangun kabupaten Sikka.

Disaksikan Cendana News, penari Caci melengkapi dirinya dengan cambuk (larik) dan perisai (nggiling), penangkis (koret) serta panggal (penutup kepala) dan di bagian pinggang belakang disematkan untaian giring-giring yang berbunyi saat penari bergerak.

Penari Caci juga memakai topeng atau hiasan kepala (panggal) yang terbuat dari kulit kerbau yang keras berlapis kain berwarna-warni, serta hiasan kepala yang berbentuk seperti tanduk kerbau guna melindungi wajah dari pecutan.

Pada bagian wajah ditutupi menggunakan kain destar, sehingga mata dengan menyisakan ruang agar mata bisa melihat gerakan lawan baik saat memukul maupun saat melakukan pergerakan.

Permainan Caci yang dipentaskan dari sekitar pukul 10.00 WITA hingga sore sekitar pukul 16.00 WITA ini mendapat perhatian dari warga kota Maumere yang terlihat memadati lapangan Kota Baru Maumere.

Lihat juga...