Masyarakat Keluhkan Paku Pohon Pemasangan Media Promosi

LAMPUNG – Masyarakat di wilayah Kabupaten Lampung Selatan mulai gerah dengan “tradisi” atau kebiasaan paku pohon yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab dalam aktivitas pemasangan media promosi berbagai jenis diantaranya poster lowongan sekolah, lowongan pekerjaan, iklan produk bahkan yang terbaru wajah para bakal calon kepala daerah. Pemasangan media promosi tersebut bahkan merata di setiap pohon di sepanjang jalan desa, jalan kabupaten, provinsi bahkan tepi jalan nasional.

Sunarto (39) warga Desa Palas Aji Kecamatan Palas menyebut sangat menyayangkan pemasangan banner, spanduk sebagai media promosi memanfaatkan beberapa jenis pohon diantaranya pohon mahoni, pinang, mangga, palem serta berbagai jenis pohon peneduh lain. Tradisi tersebut bahkan sudah muncul sejak kampanye pemilihan calon legislatif dan kepala daerah mulai sejak tahun 2013 dengan pemasangan media promosi memanfaatkan poster di pohon.

“Sekarang merata pemasangan media promosi tidak hanya bertujuan komersil namun beberapa media promosi bersifat non komersial sudah ikut memasang media promosi dengan menggunakan paku meski sebagian dilem dan ditali,” beber Sunarto, warga Desa Palas Aji Kecamatan Palas, saat ditemui Cendana News di depan rumahnya yang sebagian pohon miliknya pernah digunakan sebagai media pemasangan banner, Senin (6/11/2017).

Jumino, warga Desa Palas Aji yang pernah menemukan pohon yang terpaku. [Foto: Henk Widi]
Sunarto bahkan mengaku proses pemasangan media promosi menggunakan paku biasanya dilakukan pada pohon yang berada di tepi jalan provinsi dan dilakukan pada malam hari menghindari protes dari warga. Sebagian terang-terangan memasang pada siang hari terutama spanduk yang dipasang dengan cara dibentangkan atau direkatkan menggunakan lem.

Ia mengeluhkan pemasangan media promosi tersebut terutama di beberapa bagian pohon yang dimiliki secara pribadi meski sebagian dipasang pada tanaman pohon yang sengaja ditanam sebagai peneduh di tepi jalan provinsi. Ia berharap instansi pemerintah bisa menindak tegas atau menertibkan baner baner media promosi karena selain merusak keindahan juga merusak pohon. Padahal ungkapnya pohon justru bisa dimanfaatkan untuk media menanam anggrek.

“Saya memiliki pohon mahoni saat ditebang ratusan paku ada di pohon sehingga saat digergaji justru merusak mesin gergaji,” beber Sunarto.

Jumino (60) warga lain yang tinggal di tepi jalan provinsi menyebut sangat menyayangkan kebiasaan memasang iklan atau media promosi dilakukan pada pohon peneduh sehingga sangat mengganggu bahkan membahayakan pemilik pohon. Pemasangan juga kerap membahayakan pengendara jalan jika sewaktu waktu tali putus terutama saat hujan disertai angin.

“Jika pemasang mau mengeluarkan modal seharusnya pemasangan menggunakan media khusus berupa tiang bambu atau kayu sehingga tidak harus memaku pohon,” beber Jumino.

Jumino menyebut sebagian masyarakat sepertinya membiarkan dan terkesan permisif akan keindahan yang dirusak oleh ulah oknum-oknum tak bertanggung-jawab dalam memasang media promosi tersebut. Ia bahkan menyebut sebagian pemasang bahkan orang jauh dan memasang saat malam hari tanpa izin pemilik pohon yang terkadang ditempel pada tembok rumah. Saat ini menjelang pemilihan kepala daerah memang bertebaran poster bakal calon kepala daerah.

Sebagian pohon peneduh tak luput dipaku untuk pemasangan media promosi. [Foto: Henk Widi]

Kembali

Pesan Anda telah terkirim

Peringatan
Peringatan
Peringatan
Peringatan

Peringatan.

Lihat juga...