1.300 Hektare Tanaman Kedelai di Sikka Dikembangkan
MAUMERE – Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita) bersama ikatan alumni (Iluni) Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Faperta Undana) akan melakukan pengawalan dan pendampingan bagi pengembangan kedelai seluas 1.300 hektare yang ada di Kabupaten Sikka.
“Kami bertugas untuk mengawal dan melakukan pendampingan terkait bantuan yang menggunakan dana APBNP 2017 pada kelompok tani penerima manfaat agar program nasional swasembada kedelai bisa tercapai,” ujar Yance Moa, Senin (6/11/2017).
Ketua Korda Gempita Kabupaten Sikka, saat ditemui Cendana News di kantor Dinas Pertanian Kabupaten Sikka menjelaskan, pihaknya mendukung program pemerintah pusat dilibatkan untuk memastikan kelompok penerima manfaat memang ada, baik dalam hal kesiapan lahan, bantuan sampai di kelompok. Hingga penanganan teknis saat tanam hingga panen.
Dalam melakukan fungsi pengawasan ini, kata Yance, pihaknya akan bekerja sama dengan Dinas Pertanian dalam hal ini Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dimana dari Gempita ada 7 personil sementara dari alumni Faperta Undana ada 5 personil yang akan diterjunkan pada 160 kelompok tani yang tersebar di 21 kecamatan di Kabupaten Sikka.
“Kami akan berpartisipasi aktif dimana alumni Faperta Undana juga akan bekerja sama dengan PPL menangani permasalahan teknis agar penanaman hingga panen berjalan sukses dan hasil produksi yang dicapai bisa sesuai target,” ungkapnya.
Sementara itu, kepala bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian kabupaten Sikka, Inocensius Siga, saat ditanyai Cendana News mengatakan, untuk Kabupaten Sikka penanaman kedelai sudah masuk tahun ketiga dimana tahun 2015 dilakukan uji coba pada lahan seluas 250 hektar, 2016 seluas 200 hektar dan tahun 2017 seluas 1.300 hektar.
“Tahun ini kita fokus pada pengembangan kedelai dan peningkatan produksi yang akan dikembangkan pada lahan yang sangat luas sehingga membutuhkan pendampingan dan kerja sama semua pihak agar program nasional ini bisa berhasil,” tuturnya.
Dalam program nasional ini, terang Ino sapaannya, setiap kelompok tani akan mendapatkan bantuan bibit kedelai sebanyak 50 kilogram per hektar, rijobium, pestisida 2 liter per hektar, pupuk organik cair 2 liter per hektar serta pupuk urea sebanyak 50 kilogram per hektar.
“Saya berharap para petani bisa menangkap peluang ini dan mendukung program pemerintah agar produksi kedelai meningkat dan selain itu pemerintah juga akan membeli hasil panen petani karena sudah ada kerja sama antara kementrian perdagangan dan Bulog,” terangnya.
Hasil panen kedelai petani, lanjut Ino, sudah pasti akan dibeli Bulog dengan harga 9.500 rupiah per kilogram dan harga jual di pasar sebesar 8.500 rupiah per kilogram sehingga ketakutan petani soal penjualan komoditi ini bisa teratasi.
