Seribu Lebih Karamba di Waduk Cengklik, Mengkhawatirkan

SOLO – Banyaknya enceng gondok di waduk Cengklik, Boyolali, Solo, Jawa Tengah, menjadi kendala utama tidak lancarnya saluran irigasi dan sedimentasi.

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menilai, banyaknya enceng gondok di waduk Cengklik tak lepas dari keberadaan petani ikan yang memanfaatkan karamba. Bahkan, keberadaan karamba saat ini yang jumlahnya mencapai seribu lebih menjadikan kondisi perairan di waduk Cengklik kian mengkhawatirkan.

“Jumlah karamba ikan di Waduk Cengklik mencapai 1.057 buah. Karamba ikan ini sudah menggunakan luas waduk hingga 38.046 meter persegi. Selain enceng gondok, revitalisasi waduk juga terkendala banyaknya karamba ikan,” papar Yunita Candra Sari selaku Kepala Pelaksana Harian (PLH) BBWSBS usai menggelar rapat koordinasi dengan Komisi VI DPR RI bersama Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pada Jumat (13/10/2017).

Banyaknya karamba ikan di waduk Cengklik justru membuat enceng gondok semakin subur. Sebab, adanya pakan ikan di karamba justru menjadi pupuk bagi enceng gondok sehingga pertumbuhannya semakin cepat. Pihaknya meminta, sebelum dilakukan revitalisasi agar dilakukan penertipan bagi petani ikan yang menggunakan karamba.

“Revitalisasi dapat berjalan jika memang karamba ikan ini ditertibkan, karena memang jumlahnya sangat banyak dan membuat volume air semakin berkurang dengan merebaknya enceng gondok,” tandasnya.

Menurut dia, jumlah sedimentasi di waduk Cengklik hingga 2015 mencapai 2 juta meter kubik. Selama dua tahun, yakni 2015 dan 2016 telah dilakukan pengerukan sedimentasi, namun jumlahnya masih sangat kecil. “Pada 2015 dilakukan pengerukan sedimentasi 50 ribu meter kubik. Demikian juga pada 2016 juga dilakukan pengerukan sedimentasi dengan jumlah yang sama,” imbuhnya.

Sementara keberadaan enceng gondok di waduk Cengklik saat ini sangat mengkhawatirkan. Enceng gondok sudah menyebar di waduk hingga seluas 692.000 meter persegi. Banyaknya sedimentasi serta enceng gondok membuat volume tampungan air berkurang dan air waduk tidak mencukupi kebutuhan irigasi di 3 kecamatan berbeda.

Revitalisasi waduk Cengklik akan dimulai pada 2018 dan selesai dikerjakan pada 2019. Proyek nasional untuk mengangkat sedimentasi dan membersihkan enceng gondok itu diperkirakan akan menelan anggaran hingga Rp37 milliar. “Kita juga akan melakukan penataan kawasan dan pembuatan jording treck. Guna pengangkatan sedimentasi dan lain sebagainya,” kata Candra.

Sementara, Anggota Komisi VI DPR RI Endang Srikarti Handayani menambahkan, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Boyolali, sebagai pemilik wilayah yang memiliki petani ikan di karamba. Guna suksesnya revitalisasi waduk Cengklik, Komisi VI akan menggandeng Pemkab Boyolali untuk penertiban sekaligus mencari solusi untuk petani ikan di waduk.

“Setelah pertemuan ini, akan dilakukan pertemuan-pertemuan lain untuk membahas persoalan enceng gondok dan karamba ikan. Karena karamba yang jumlahnya seribu lebih ini dinilai terlalu banyak, maka harus dikurangi. Semua harus memiliki pemikiran agar semuanya tertata dengan baik, baik petani ikan maupun petani penggarap pertanian,” terang Endang.

Banyaknya petani ikan yang menggunakan karamba, menurut Endang, banyak yang tidak mengatahui, jika pakan ikan justru menjadikan enceng gondok subur. Oleh karena itu, pihaknya akan memberikan sosialisasi kepada petani ikan, serta melibatkan Pemkab Boyolali sehingga revitalisasi bisa berjalan dengan lancar.

“Karena ini untuk kepentingan bersama, tentu penataan karamba ini harus segera diupayakan. Termasuk akan dilakukan pengurangan dan solusinya seperti apa nanti kita bahas bersama,” pungkasnya.

Anggota komisi VI DPR RI Endang Srikarti Handayani. Foto: Harun Alrosid
Lihat juga...