Banyumas Butuh 90 Ton Sampah Plastik untuk Campuran Aspal

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Permasalahan sampah plastik di Kabupaten Banyumas teratasi dengan adanya pabrik yang mengolah aspal dicampur dengan sampah plastik. Setidaknya 90 ton sampah plastik per tahun akan terserap untuk pembuatan aspal.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Suyanto mengatakan, untuk campuran aspal 1 ton, dibutuhkan sampah plastik sebanyak 2,5 kilogram. Dan melihat dari kebutuhan aspal, dalam satu tahun dibutuhkan 90 ton sampah plastik untuk campuran pembuatan aspal.

“Kita sedang berupaya untuk bisa memenuhi kebutuhan sampah plastik sebagai campuran aspal, hanya saja memang tidak semua sampah plastik bisa diambil, hanya sampah plastik berupa tas kresek atau tas plastik,” kata Suyanto, Rabu (15/1/2020).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Suyanto, Rabu (15/1/2020) ditemui disela-sela acara di sebuah hotel di Purwokerto. -Foto: Hermiana E. Effendi

Lebih lanjut Suyanto menjelaskan, pabrik pengolahan aspal hotmix yang dicampur dengan sampah plastik ini, sudah diuji coba pada bulan Desember 2019. Dan mulai bulan Januari ini produksi akan lebih dimaksimalkan. Dan DLH berupaya agar pemenuhan 90 ton sampah plastik dalam satu tahun bisa terpenuhi.

Sampah plastik yang sudah dicacah akan dibeli oleh perusahaan daerah, Banyumas Investama Jaya (BIJ) dengan harga Rp 6.000 per kilogram. Dan dalam pembelian sampah plastik tersebut, BIJ juga dibantu oleh aplikasi Salinmas, yaitu pembelian sampah melalui online.

Terkait kekuatan aspal yang dicampur dengan sampah plastik ini, Suyanto mengatakan, kualitasnya bahkan lebih bagus. Mengingat plastik memuai jika terkena panas dan semakin memuai akan semakin membuat aspal kuat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Banyumas, Irawadi menjelaskan, sampah plastik yang digunakan sebagai campuran aspal harus memenuhi beberapa persyaratan. Antara lain, sudah dipilah, dicacah, dalam kondisi bersih dan kering. Sebab, jika tidak sesuai dengan persyaratan, maka akan berpengaruh terhadap kualitas aspal.

“Untuk kualitas aspal yang dicampur dengan sampah plastik ini sudah dilakukan uji coba oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan hasilnya dari sisi kualitas memang jauh lebih bagus, meskipun secara produksi sedikit lebih mahal biayanya, karena ada tambahan plastik,” pungkasnya.

Lihat juga...