Pola Tanam Padi ‘SRI’ Cocok Diterapkan di Kupang

KUPANG – Penanaman padi menggunakan teknik SRI (System of Rice Intensification) di Desa Tarus, Kabupaten Kupang, NTT, mampu meningkatkan hasil panen hingga 100 persen dari bibit padi yang biasa digunakan dengan kebutuhan air yang lebih sedikit.

Yanes Sain, petani yang menggunakan sistem tersebut, mengatakan bahwa peningkatan hasil panen bisa berkali-kali lipat daripada menanam padi secara konvensional. “Kalau menggunakan sistem konvensional, 10 are, bisa menghasilkan 400 hingga 600 kilogram beras. Dengan sistem SRI, pada panen kedua bisa menghasilkan 1.200 kilogram,” kata Yanes Sain, yang lahannya digunakan sebagai demplot, Sabtu (21/10/2017).

Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dan FTP UGM membuat demplot SRI di Desa Tarus dan Desa Baumata sejak 2016. Hasil demplot menunjukkan terjadi peningkatan produktivitas padi dengan metode SRI.

Pada 2016, lanjut Yanes Sain, hanya 5 are lahannya yang menggunakan sistem SRI tersebut dan 5 are lagi untuk menanam padi secara konvensional. Hal itu untuk mengetahui perbandingan hasil panen.

Kedua sampel tersebut diberi perlakuan yang sama, diberi jarak tanam 30 cm antara benihnya dan diberi pupuk yang sama, yang membedakannya pada sistem SRI padi tidak digenangi air seperti penanaman padi pada umumnya.

Air pada tanaman yang menggunakan sistem SRI, kata dia, hanya sampai tanahnya basah. Setiap lubang, hanya ditanami satu benih saja.

“Pada 1 bulan pertama, sempat ragu juga, soalnya biasanya satu lubang ditanam tiga sampai lima benih, tetapi dengan sistem SRI hanya satu saja. Tetapi, setelah 1 bulan, hasilnya satu lubang bisa tumbuh sampai 120 batang,” katanya.

Sistem SRI ini juga mengharuskan petani menjaga jumlah air yang dialirkan ke lahan padi, jangan sampai tergenang dan jangan sampai kering. Selain itu, petani juga harus membersihkan gulma yang ada di sawah agar padi dapat tumbuh dengan sempurna.

Saat ini, Yanes masih didampingi tim dari UGM dalam menaman dengan sistem SRI tersebut. Setelah itu, dia berancana akan meneruskan menanam padi dengan sistem SRI karena cocok dengan iklim Kupang yang kering dan tidak membutuhkan banyak air.

Sekretaris Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Murtiningrum, mengatakan, SRI merupakan metode berkelanjutan untuk pertumbuhan tanaman dengan menggunakan bibit berumur muda, yaitu 7 hari setelah pembenihan, dengan jarak tanam lebar sekitar 30 cm, menggunakan pupuk oraganik, dengan irigasi terputus-putus, dan beberapa penyiangan.

“Karena membutuhkan air yang lebih sedikit, metode SRI cocok untuk wilayah Kupang yang beriklim kering,” katanya.

Menurut Sri, yang dibutuhkan dalam penanaman padi dengan sistem SRI ini adalah ketelatenan petani, agar air tidak kering dan juga tidak terlalu basah. Jika diberi perlakuan secara intensif, menurut dia, 1 hektare sawah dapat menghasilkan 10 hingga 12 ton.

Direktur Eksekutif ICCTF, Tonny Wagey, mengatakan bahwa metode SRI yang sudah diadopsi Indonesia pada 2002 merupakan salah satu inovasi untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat sekaligus mengantipasi perubahan iklim. (Ant)

Lihat juga...