Upaya Konservasi Hutan dan Kebun dengan Jalan Budidaya Lebah

LAMPUNG – Bulan Agustus hingga September menjadi masa bermekarannya beragam jenis bunga dari berbagai tanaman di wilayah Kabupaten Lampung Selatan.  Di antaranya bunga pohon mahoni, kemiri, kopi robusta, kopi cokelat serta berbagai jenis pohon lain yang serentak berbunga.

Proses menjadi bunga beragam jenis pohon atau tanaman tersebut dimanfaatkan oleh Zainal Abidin (51) yang berada di Dusun Sawung Kuring, Desa Rawi, Kecamatan Penengahan dengan melakukan proses penggembalaan dua jenis lebah yang dipeliharanya, yakni jenis lebah madu (Apis cerana) dan lebah klanceng (Trigona spp).

Pepohonan di areal perkebunan menjadi sumber pakan bagi lebah madu yang dibudidayakan oleh Zainal. [Foto: Henk Widi]
Proses penggembalaan dengan membawa ratusan rumah lebah atau bendala ke areal perkebunan seluas lima hektar. Dilakukan dengan menggantungkan atau mengikat ratusan bendala terbuat dari kayu kelapa dan kayu randu berbentuk bulatan dan kotak pada pepohonan jengkol atau kopi cokelat yang berdekatan dengan hutan dan perkebunan yang tengah memasuki masa pembungaan.

Selain Zainal, beberapa warga pemilik budidaya lebah madu bahkan menitipkan bendala di kebun milik warga lain karena lebah madu ikut membantu proses penyerbukan serta mendukung pembuahan berbagai jenis tanaman perkebunan tersebut. Warga pembudidaya madu pun akan memperoleh madu dan propolis serta hasil lain dari budidaya tersebut.

“Menggembalakan lebah di areal perkebunan yang luas menguntungkan petani dan pembudidaya lebah. Karena keberadaan lebah membantu penyerbukan bunga mulai dari proses pencarian serbuk sari bunga oleh lebah hingga buah-buahan milik petani bisa berbuah sempurna. Sebaliknya, pemilik lebah mendapat sumber pakan untuk lebah penghasil madu,” terang Zainal Abidin, warga Dusun Sawung, Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, sebagai salah satu peternak atau pembudidaya lebah saat ditemui Cendana News, Rabu (6/9/2017).

Keuntungan yang berlipat dari hasil perkebunan berupa buah-buahan yang cepat mengalami penyerbukan di antaranya kakao, kopi robusta, kemiri serta berbagai buah lain sekaligus memberi hasil dari madu lebah yang dibudidayakan. Proses penggembalaan lebah madu dan klanceng, diakui Zainal, hanya dilakukan pada saat musim pembungaan. Karena pada kondisi normal semua bendala yang dimilikinya ditempatkan di lokasi khusus yang ada di dekat rumahnya.

Lebah klanceng atau Trigona spp sebagian menetap di gubuk dan bumbung kayu sebelum dipindah ke rumah buatan. [Foto: Henk Widi]
Selain di lokasi kebun miliknya, pada penghujung bulan Agustus proses penggembalaan  dilakukan hingga ke kawasan perladangan penduduk yang memelihara tanaman jagung dan kacang panjang dengan tujuan memberikan pakan bagi lebah madu. Sepanjang bulan Maret hingga September menjadi masa untuk menggembalakan lebah. Sementara di bulan lain dari Oktober hingga Februari budidaya lebah madu mengalami masa paceklik karena berkurangnya sumber pakan dari alam.

Proses penggembalaan lebah madu hingga ke wilayah yang dekat dengan perkebunan dan hutan juga memberi kesempatan bagi lebah untuk mencari sumber pakan dari pohon kapuk, rambutan, kelengkeng serta buah-buahan lain yang bunganya menjadi pakan utama bagi lebah.

“Berdiam di dekat kawasan kehutanan dan perkebunan membuat saya harus kreatif dengan tetap menjaga lingkungan serta menghasilkan lebah madu,” ungkap Zainal.

Budidaya lebah madu jenis Apis cerana, diakuinya, pada masa panen bisa menghasilkan keuntungan hingga Rp4 juta bahkan bisa lebih. Diperoleh dari penjualan madu serta propolis. Saat ini menjual madu dan propolis ke luar daerah dengan sistem pesanan sebagian datang kepadanya. Harga madu lebah dengan berbagai ukuran mulai 50 mililiter hingga 150 mililiter dijualnya dengan harga Rp75 ribu hingga Rp250 ribu. Banyak dipesan untuk berbagai keperluan khususnya kesehatan.

Selain lebah Apis cerana, Zainal menyebut, lebah yang dibudidayakan di antaranya lebah klanceng atau Trigona spp. Ini merupakan jenis lebah madu yang sudah bertahun-tahun ia pelihara secara tradisional didukung oleh lokasi perkebunan yang berdekatan dengan kawasan hutan Gunung Rajabasa. Awalnya, ia membiarkan klanceng hidup pada sejumlah bumbung bambu serta gelodok kayu pada gubuk kandang ayam dan rumah hingga akhirnya memindahkan klanceng tersebut pada gelodok khusus untuk budidaya lebah klanceng.

Pelatihan budidaya klanceng merupakan kegiatan yang pernah dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih- Way Sekampung (BPDAS-WSS) dalam upaya pemanfaatan kawasan yang berdekatan dengan hutan. Salah satunya dalam pengelolaan petani mandiri berbasis kehutanan dengan budidaya lebah madu jenis klanceng. Pelatihan pembuatan rumah tiruan dari batang kelapa dan kayu randu dilakukan untuk mendukung sektor usaha tersebut.

“Awalnya sulit karena belum terbiasa membudidayakan lebah klanceng termasuk memanen madu dan propolis. Namun karena sudah bertahun-tahun budidaya tersebut, semakin dikembangkan hasilnya cukup lumayan. Mendukung sektor usaha perkebunan yang saya miliki,” ungkap Zainal.

Pohon jati menjadi lokasi menempatkan kotak rumah buatan untuk lebah klanceng dalam masa penggembalaan. [Foto: Henk Widi]
Madu lebah klanceng bahkan diakuinya lebih mahal dibandingkan dengan madu jenis lain dengan ukuran 50 mililiter madu lebah biasa dijual Rp75 ribu sementara untuk ukuran yang sama madu lebah klanceng dijual dengan harga Rp250 ribu. Hampir tiga kali lipat lebih mahal. Proses pemeliharaan yang sulit dan belum banyaknya masyarakat membudidayakan lebah tersebut menjadi faktor mahalnya madu lebah klanceng.

Warga lain yang membudidayakan lebah meski dalam jumlah sedikit sebanyak puluhan bendala atau rumah lebah di antaranya Somad yang tinggal tak jauh dari perkebunan milik Zainal Abidin. Ia menyebut budidaya atau ternak lebah sebagai usaha budidaya berbasis perkebunan dan kehutanan belum banyak dilirik orang. Tingkat kesulitan dan membutuhkan ketekunan yang tinggi menjadi faktor masih sedikitnya budidaya lebah penghasil madu jenis Apis cerana serta Trigona spp. Peluang tersebut bisa menjadi sumber mata pencaharian warga di sela-sela pekerjaan utama sebagai petani pekebun.

“Pemanfaatan kebun dan hutan melalui budidaya lebah madu meski sulit namun bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan asal ditekuni,” terang Somad.

Keuntungan berlipat tersebut sekaligus ikut membantu pemerintah dalam upaya konservasi hutan dengan budidaya lebah madu. Warga juga tidak akan merusak hutan karena penghasilan dari sektor budidaya lebah madu cukup menghasilkan. Mulai dari madu, propolis, serta bagian lain yang memang kaya manfaat dan bernilai jual tinggi.

Lihat juga...