KHARTOUM – Setidak-tidaknya tiga orang tewas dan 20 lebih terluka dalam bentrok Tentara Sudan dengan masa pengungsi yang melakukan unjuk rasa, Jumat (22/9/2017). Bentrokan terjadi saat Presiden Omar al-Bashir berkunjung ke Darfur selatan.
Bentrokan itu terjadi ketika tentara mencoba membubarkan pengunjuk rasa setelah presiden Bashir mengunjungi daerah Shatia, tempat pemerintah dituduh melakukan pembersihan suku. Kunjungan tersebut adalah kedatangan pertama presiden ke daerah itu sejak kemelut di Darfur pada 2003.
Bashir berkunjung ke Darfur untuk melihat perkembangan di wilayah tersebut setelah Sudan berhasil menyelesaikan konflik kekerangan yang terjadi. Kunjungan tersebut sebagai tindaklanjut dari rencana keputusan AS yang pada Oktober mendatang akan mencabut sanksi sebagai penghargaan terhadap Sudan karena berhasil menyelesaikan perang dan perbaikan tindakan kemanusiaan di lapangan.
“Sedikit-dikitnya tiga pengungsi tewas dan 26 lagi terluka ketika tentara berusaha membubarkan pengunjuk rasa di penampungan Kalma. Saya meminta semua pihak yang terlibat dalam bentrokan ini untuk sesegera mungkin mencari penyelesaian. Resolusi damai adalah satu-satunya jalan bagi masyarakat Darfuri,” kata anggota penjaga perdamaian Uni Afrika PBB UNAMID Jeremiah Mamabolo.
Pemerintah Sudan tidak segera menanggapi permintaan untuk memberikan keterangan. Perang di Darfur dimulai pada 2003, ketika petempur suku bukan Arab mengangkat senjata melawan pemerintah Sudan, yang dipimpin suku Arab.
Pertempuran tentara dengan pemberontak di wilayah Kordofan dan Nil Biru juga pecah pada 2011, ketika Sudan Selatan mengumumkan kemerdekaannya. Gencatan senjata jangka pendek diumumkan pada tahun lalu. (Ant)