JAMBI – Angka pertumbuhan penduduk di Provinsi Jambi terus meningkat atau berada di atas rata-rata nasional, yaitu 2,3 persen, sementara di tingkat nasional 2,0 persen, yang disebabkan tingginya angka kelahiran.
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Provinsi Jambi, Sri Banun Saragih, mengatakan peningkatan pertumbuhan penduduk tersebut terlihat dari banyaknya angka kelahiran.
“Per tahunnya jumlah bayi yang lahir hampir 25 ribu. Dan, itu tersebar di semua kabupaten/kota di Provinsi Jambi, dan setiap daerah beda-beda angka kelahirannya,” kata Sri, di Jambi, Senin (25/9/2017).
Dari data yang ada, angka kelahiran tertingi ada di Kabupaten Tebo, yaitu mencapai 2.673 bayi, disusul Kabupaten Bungo 2.613, Batanghari 2.447 orang bayi dan kabupaten lainnya berkisar hampir 2.000.
Menurut Sri, tingginya angka pertumbuhan penduduk ini sejalan dengan tingginya angka perkawinan, di mana angka perkawinan jauh di atas angka kelahiran. “Yang menjadi perhatian, angka perkawinan ini didominasi usia muda, yaitu 15 hingga 19 tahun. Nikah muda salah satu faktor tingginya angka kelahiran,” katanya.
Di desa, kata Sri, nikah muda merupakan tradisi, sebab para orang tua menganggap jika sudah nikah, maka lepas tanggung jawab mereka sebagai orang tua. “Tradisi ini merupakan hal yang salah, sebab nikah muda otomatis mereka tidak melanjutkan pendidikan. Jika sudah tidak berpendidikan, maka pengetahuan untuk berumah tangga sangat minim”, katanya, menjelaskan.
Selain itu, katanya, pertumbuhan penduduk juga diakibatkan ambisi pasangan untuk mendapatkan anak sesuai dengan jenis kelamin. “Misal, belum dapat anak laki-laki belum mau berhenti, sebenarnya mau cewek mau cowok sama saja. Makanya, program pemerintah dua anak cukup. Sekarang biaya hidup tinggi, biaya sekolah juga, kebutuhan lain yang tak terduga juga banyak. Kalau memaksa timbul angka kemiskinan yang tinggi,” katanya, lagi.
Untuk mencegah tingginya angka pertumbuhan penduduk, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Bahkan mereka juga menitipkan program mereka kepada mahasiswa yang melaksanakan kuliah kerja nyata.
“Usaha kita sudah maksimal, tapi kenyataannya masih tinggi juga. Dan sekarang kita punya program KB gratis yang dilakukan serentak. Program ini dilakukan disetiap kabupaten/kota, namun hari dan tempatnya berbeda,” katanya, menambahkan. (Ant)