Kemarau, Petani di Ketapang Manfaatkan Kolam Terpal
LAMPUNG — Musim kemarau yang melanda wilayah Lampung tidak mengurang kreativitas petani budidaya tanaman semangka di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang. Musim kemarau justru dimanfaatkan oleh Slamet untuk memulai budidaya tanaman semangka di lahan miliknya seluas dua hektare.

Slamet mengatakan, proses pembuatan guludan tanah dengan mulsa plastik sebagai media tanam sudah disiapkan semenjak satu bulan sebelumnya, sembari menunggu bibit semangka yang akan disemainya sebanyak 5.000 bibit untuk ditanam pada sekitar ratusan guludan dengan mulsa plastik dilubangi berjarak 75 sentimeter.
“Bedengan atau guludan terlebih dahulu diberi pupuk organik berupa campuran kompos serta pupuk kotoran ternak dan juga pupuk kimia lain sebagai penyubur tanah, sehingga pertumbuhan tanaman semangka akan maksimal”, beber Slamet, petani semangka di Desa Karangsari, saat ditemui Cendana News di area budidaya semangka sistem sewa, Senin (25/9/2017).
Meski memperoleh lahan sewa yang berjarak 300 meter dari sungai, ia masih tetap bisa melakukan penanaman semangka (citrullus lanatus) yang merupakan tanaman merambat dan cocok ditanam dalam iklim tropis tersebut.
Sebagai sumber pasokan air, ia menggunakan mesin sedot dua unit bertenaga solar dengan proses pengaliran air dua kali sepanjang 150 meter pada penampungan pertama dan 150 meter pada penampungan kedua.
Penampungan terbuat dari kolam terpal berukuran 2 x 3 meter tersebut diakuinya lebih efektif dibandingkan penggunaan tower air atau drum-drum berukuran besar, karena bisa dipergunakan sebagai pasokan air untuk penyiraman media semai sebelum dipindahkan ke mulsa.
Kolam terpal yang mampu menampung air selama musim kemarau bahkan bisa dipergunakan untuk melakukan proses penyiraman selama musim tanam semangka, yang sudah memasuki usia 10 hari masa tanam dengan prediksi masa panen akan dilakukan saat semangka berusia sekitar 60 hari.
“Penggunaan terpal sebagai kolam buatan menjadi solusi kebutuhan air yang sangat sulit diperoleh saat kemarau ini. Namun, saya sebagai petani menyiasatinya dengan proses penyedotan air,” beber Slamet.
Setelah air hasil penyedotan dari sungai ditampung di kolam terpal plastik, penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari, untuk memenuhi kebutuhan air tanaman semangka yang terkadang sebagian mati, sehingga perlu dilakukan proses penyulaman menggunakan bibit cadangan.
Seperti pada penanaman sebelumnya, semangka jenis tanpa biji tersebut diakuinya menghasilkan sekitar 6-8 kilogram per pohon, dengan harga Rp3 ribu per kilogram di level petani, dan kerap dijualnya kepada pedagang besar yang menyalurkan semangka ke wilayah luar Lampung.
Penyortiran buah juga dilakukan sebelum dijual mulai dari berat lebih dari 4 kilogram hingga kurang dari 2 kilogram. “Saya sengaja menanam buah semangka di musim kemarau, karena seperti pengalaman sebelumnya rasa lebih manis dibandingkan saat musim hujan”, ungkapnya.
Berbekal semangat dan kerja keras tanpa memperhatikan halangan pasokan air, Slamet dibantu sang adik, Budiono, mulai merawat tanaman semangka miliknya yang pernah memberinya penghasilan kotor sekali panen mencapai Rp10 juta lebih. Meskipun menggunakan modal cukup besar dalam biaya operasional pengolahan lahan, penyediaan air dan perawatan, ia mengaku usaha budidaya semangka terus digelutinya meski dengan menggunakan lahan sewaan dan pengairan dengan pola terpal plastik.