Mengenal Sejarah Arek-Arek Suroboyo di Anjungan Jawa Timur
JAKARTA — Pemandu Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Munarno mengatakan, TMII telah sukses merangkum ragam budaya bangsa Indonesia menjadi satu kesatuan yang menarik dan bernilai seni tinggi.
Sehingga tak heran jika TMII menjadi tempat tujuan para wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengenal ragam budaya. Ada sekitar 34 provinsi di TMII yang mengembangkan, melestarikan, dan memperkenalkan budayanya masing-masing.

“Adanya TMII ini sangat luar biasa, karena dari mulai anak-anak TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi bahkan masyarakat umum bisa mengenal budaya tanpa harus datang ke daerah. Salah satunya Anjungan Jawa Timur,” ungkap Cak Narno begitu sapaanya kepada CendanaNews, Minggu (10/9/2017).
Dia menyampaikan, pihaknya juga senantiasa memberikan informasi terkait budaya dan obyek wisata yang ada di Jawa Timur kepada para pengunjung. Misalnya, seorang pengunjung yang ingin liburan ke Malang. Sebelum datang ke daerah tersebut bisa minta informasi di Anjungan Jawa Timur, lengkap akan diberikan brosur sebagai tuntunan.
“Ya mereka ingin tahu, ada apa sih di Malang, baik itu budaya, makanan khas, dan obyek wisatanya. Kami ini kan perpanjangan tangan Provinsi Jawa Tengah, apapun yang dibutuhkan pengunjung akan diinformasikan,” ujar Cak Narno.
Dikatakan dirinya, anjungan Jawa Timur hadir di TMII untuk memberikan edukasi kepada anak-anak, maupun masyarakat pada umumnya, terkhusus lagi warga Jawa Timur yang tinggal di Jakarta agar mengenal budaya dan adat istiadat mereka.

Untuk mengenal Anjungan Jawa Timur, jelas Cak Narno, dibagi menjadi tiga bagian. Halaman pertama atau bagian depan menggambarkan sejarah dan kesenian Jawa Timur. Halaman ini ditandai dengan dua buah patung, Kotbuto dan Angkobuto, yang mengapit jalan masuk ke anjungan.
“Parung tersebut merupakan gambaran patih kembar dari Blambangan, selagi diperintah oleh Menak Jinggo. Kedua patung ini untuk menyambut tamu atau pengunjung Anjungan Jawa Timur,” ucap pria kelahiran Surabaya, 53 tahun lalu ini.
Di halaman ini, juga dibangun kompleks percandian Penataran di Blitar, di lengkapi dengan sebuah patung Ganesha di dalamnya. Dalam mitologi Hindu, kata Cak Nur, Ganesya melambangkan keperkasaan dan ilmu pengetahuan.
Masih di halaman ini pula, keagungan kerajaan Majapahit digambarkan dalam bentuk relief Penobatan raden Wijaya sebagai raja Majapahit Pertama. Diperagakan pula adegan Sumpah Palapa dimana patih Majapahit, Gadjah Mada bersumpah akan menyatukan nusantara.
“Propinsi Jawa Timur beribukota Surabaya, yang dikenal sebagai kota Pahlawan. Sejarah mencatat bahwa daerah ini pernah menjadi pusat kerajaan besar, Majapahit dengan tokoh negarawan Gajah Mada. Sejarah itu tergambar di Anjungan Jawa Timur ini,” papar Cak Narno.
Adapun patung Garapan Sapi, dengan latar belakang perbukitan kapur utara menggambarkan permainan dan tontonan dari pulau Madura yang amat terkenal.
Selanjutnya, ungkap Cak Narno, adalah halaman ke dua atau bagian tengah anjungan Jawa Timur menggambarkan alam perjuangan. Memasuki halaman kedua ini dibatasi oleh Gapura Padaruksa, yang sisi kanan kirinya ada pintu masuk ke halaman ini.
Di halaman ini berdiri tegak sebuah tugu tinggi meruncing yang bersegi 10 dan mempunyai 11 keratan. Itu adalah tiruan “Tugu Pahlawan Surabaya” yang dibuat kecil dengan skala 1:15. Di depannya nampak patung “Patriot Bambu Runcing” yang mengingatkan kita betapa gigihnya para pahlawan dalam melawan dan mengusir penjajah, dan betapa banyaknya yang gugur sebagai kusuma bangsa pada saat itu.
“Halaman kedua mengambarkan perjuangan Arek-Arek Suroboyo yang tergambarkan dalam relief Pertempuran 10 November 1945. Ada juga relief Hotel Yamato atau Hotel Orange, tempat penyobekan bendera merah putih biru. Hotel itu sekarang jadi Hotel Majapahit,” jelas Cak Narno.
Di halaman ini juga terlihat bangunan tiruan Menara Mesjid Ampel. Sejarah mencatat bahwa di antara 9 tokoh penyebar agama Islam di Jawa Timur yang terkenal dengan sebutan Wali Sanga, empat di antaranya berada di Jawa Timur, yaitu Sunan Bonang, Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Drajat.
Di halaman ini tersaji panggung yang setiap minggu mempergelarkan seni budaya Jawa Timur, seperti Ludruk, Ketoprak, Wayang Kulit, Wayang Orang, Jaranan, Reog Ponorogo, dan musik tradisi yaitu musik gamelan untuk mengiringi gelaran seni budaya tersebut.

Selanjutnya, kata Cak Narno, halaman ke tiga yang dibatasi regol pagar warna abu-abu. Halaman ini menggambarkan alam pedesaan. Di halaman ini terlihat beberapa rumah adat, dimana sebuah rumah kepala desa, lengkap dengan pendopo dan kenthongannya.
Rumah ini merupakan bangunan induk anjungan Jawa Timur. Bangunan tersebut aslinya berasal dari Ponorogo, sedangkan rumah dalem yang menyatu dengan pendopo itu aslinya dari Pacitan, yang sengaja diboyong ke TMII untuk menggambarkan bentuk arsitektur tradisional secara asli dan utuh.
Adapun bangunan lain yang tampak di halaman ini adalah rumah yang berasal dari Madura. Diwakili oleh Kabupaten Sumenep, Pamekasan, Bangkalan dan rumah Situbondo, yang merupakan model Jawa-Madura. Selain itu, ada juga rumah adat Pacitan.
Di halaman ini dilengkapi mushola, dan tersaji juga alat transportasi dari Bangkalan, dan perahu-perahu nelayan dan pagupon yaitu tempat memelihara burung merpati. Sebagai peneduh mata, Anjungan Jawa Timur juga dihiasi ragam pohon buah-buahan khas Jawa Timur, antaranya pohon Srikaya, Kelapa Gading, Sawo Kecik, dan lainnya.
“Inilah cerita singkat yang ada di Anjungan Jawa Timur yang sarat dengan edukasi budaya. Anjungan ini juga ada pelatihan tari khas seni budaya Jawa Timur, komunitas Ludruk Jakarta juga rutin latihan di sini setiap Selasa malam,” pungkas Cak Narno.[Ant]