Limbah Barang Bekas Membawa Berkah

JAKARTA – Di sebagian besar wilayah kota Jakarta, masih banyak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun lembaga lainnya.

Seperti yang dialami Agung Satimo, pemilik lapak limbah barang bekas. Ketertarikannya dengan usaha limbah barang bekas berawal dari tetangga depan rumahnya yang setiap harinya meminjam uang ke dirinya untuk membeli barang bekas ke warga dan berencana ingin membuka lapak limbah barang bekas. Melihat keseriusan tetangganya ingin membuka lapak, akhirnya dirinya memberikan modal dalam mendirikan usaha tersebut dengan perjanjian yang disetujui yakni bagi hasil.

Memasuki satu tahun usaha tersebut, dirinya merasa dirugikan dikarenakan apa yang sudah tertulis di dalam perjanjian tidak tercapai. Dirinya tidak melihat hasil yang dicapai dari usaha tersebut dan modal yang telah ia keluarkan tidak kembali. Ia merasa dibohongi oleh tetangganya tersebut.

“Atas saran dari beberapa anak buah, saya diminta untuk membuka lapak sendiri dengan alasan saya sudah mengetahui seluk beluk tentang limbah barang bekas,” jelasnya, Selasa (19/9/2017).

Agung Satimo sedang melayani pelanggan. Foto: M. Fahrizal

Tepat di tahun 1999 itulah dirinya mulai menjalankan usaha limbah barang bekas dengan dua bulan pertama dirinya hanya menyewakan tempat untuk anak buah. Ia belum memberikan bayaran atau gaji ke anak buah. Seiring dengan berjalannya waktu, perlahan-lahan usaha ini mulai berjalan dengan adanya modal yang dirinya dapatkan dengan meminjam dari saudara. Usaha ini berjalan hingga sekarang. Modal yang ia pinjam pun sudah dapat dikembalikan.

Modal awal yang sebenarnya ia keluarkan setelah dua bulan pertama menjalankan usaha yakni 1 juta diberikan ke anak buah untuk keliling belanja barang bekas ke rumah-rumah warga. Mekanisme sistem kerja usaha limbah barang bekas ini yakni sistem jual beli atau bisa disebut juga timbang bayar.

“Jadi saya memberikan modal ke anak buah untuk mencari atau membeli dagangan dalam hal ini barang bekas di kampung ataupun dimana saja. Setelah mereka mendapatkan, kemudian pulang kembali ke lapak, lalu ditimbang. Lalu saya memberikan bayaran ke mereka. Modal awal yang ia berikan akan mereka kembalikan,” katanya.

Namun, lanjutnya, biasanya yang namanya dagang itu tidak selamanya sesuai dengan harapan, kadang-kadang modal malah dibawa pulang ke kampung oleh anak buah juga ada. Itulah risikonya orang dagang.

Untuk harga barang yang dirinya tetapkan kepada anak buah maupun orang lain yang datang ketika melakukan transaksi timbang bayar berbeda-beda. Dari jenis logam begitu banyak mulai dari tembaga, kuningan, aluminium yang memiliki lima macam jenis lagi, dan itu semua memiliki harga yang berbeda. Untuk saat ini harga tertinggi yakni tembaga dengan kisaran harga Rp70 ribu per kilo.

Sementara untuk jenis kertas juga memiliki macam jenis seperti kardus, koran, dengan memiliki harga yang berbeda berkisar yang terendah Rp1000 dan tertinggi sekitar Rp5000. Yang datang ke lapak ini kebanyakan memang anak buahnya sendiri karena ia memberikan gerobak, tempat tinggal, dan modal sebesar Rp200 ribu per hari. Anak buah yang ada saat ini berjumlah 17 orang dengan 15 orang yang berkeliling dan 2 orang membantu di lapak untuk melakukan sortiran dengan bayaran harian Rp80 ribu sudah termasuk uang makan.

Barang-barang yang dirinya dapatkan dari anak buahnya selanjutnya disortir dipilah-pilah sesuai dengan jenis, kemudian pindah ke supplier yang akan mengambil barang-barang tersebut. Supplier ini pun berbeda-beda, barang-barang sortiran itu sudah memiliki masing-masing supplier.

Untuk penjualan dirinya ke supplier seperti supplier kertas dilakukan seminggu dua kali dengan bayaran yang dirinya terima berkisar Rp2 hingga Rp3 juta. Untuk supplier besi dilakukan seminggu sekali dengan kisaran yang diterima Rp3.5 hingga Rp4 juta. Sementara untuk logam perputarannya sangat cepat dan juga memerlukan biaya yang cukup besar pula. Ia melakukan transaksi dengan supplier 3 hari sekali dengan bayaran yang dirinya terima berkisar 5 juta.

“Semua barang yang saya jual ke supplier, saya mengambil keuntungan 25% hingga 30% per kilo. Jadi saya tidak bisa pastikan omzet yang saya dapatkan per bulan,” jelasnya lagi.

Menurutnya lagi, dirinya memang ingin memiliki modal yang lebih apalagi melihat grafik peningkatan usaha limbah barang bekas ini dikarenakan harga untuk limbah barang bekas  seperti mengikuti kurs dolar. Ketika dolar naik tentu barang limbah ini juga ikut naik, maka dari itu dirinya berkeinginan untuk menambah modal agar usahanya lebih maju dan berkembang lagi.

“Saya mencoba untuk mencari koperasi yang ada di lingkungan ini, tetapi tidak ada. Beberapa dari tetangga yang memiliki usaha berbeda memberikan saya saran untuk pinjam ke bank keliling (Bangke), namun saya tidak lakukan,” jelas  Agung yang punya lapak daur ulang Gunung Mas ini.

 

 

Lihat juga...