Jelang Hari Aksara Internasional, Suluh Harapan Insani Siapkan Kejutan Kegiatan

LAMPUNG – Berada di pedalaman Kabupaten Lampung Timur tepatnya di Desa Girimulyo Kecamatan Marga Sekampung, tidak menghalangi semangat anak-anak di Rumah Belajar Suluh Harapan Insani untuk menimba ilmu seusai sekolah. Yaitu dengan melakukan kegiatan pelajaran tambahan serta kegiatan membaca buku.

Lusia Yuli Hastiti (28) sebagai penggagas serta pengajar di rumah belajar Suluh Harapan Insani menyebut, keinginan anak-anak pedesaan dari jenjang SD hingga SMP untuk belajar terus meningkat dari semula hanya belasan siswa menjadi puluhan siswa. Semangat belajar siswa cukup tinggi di desanya.

Keinginan untuk memberantas buta aksara di desanya melalui pendirian rumah baca Suluh Harapan Insani  dilakukan dengan merelakan sebagian tanah milik orang tuanya menjadi rumah belajar. Bangunan tersebut berukuran 3×5 meter beratapkan asbes dan berdinding papan. Sebagai upaya menambah koleksi buku-buku Lusia menyebut, kerap menyisihkan uang dari pekerjaannya sebagai seorang guru honorer untuk membeli ratusan buku. Buku tersebut bisa digunakan untuk bacaan anak-anak sekaligus buku pelajaran para siswa. Buku-buku koleksi yang diperoleh dari membeli di sejumlah toko buku tersebut kini semakin bertambah dengan adanya bantuan dari pihak yang peduli terhadap buku bacaan untuk anak-anak di pedesaan. Kini sudah berjumlah lebih dari 1500 buku lebih.

“Beberapa buku baru sudah saya beli untuk tambahan koleksi menjelang peringatan Hari Aksara Internasional. Harapan saya meski anak-anak tinggal di pedesaan namun mereka tetap memiliki buku-buku bacaan bermutu,” ungkap Lusia Yuli Hastiti kepada Cendana News, Kamis (7/9/2017).

Keinginannya untuk membiasakan anak-anak dengan budaya literasi bahkan dilakukan dengan membeli buku-buku kamus beragam bahasa di antaranya kamus bahasa Inggris, kamus bahasa Jerman serta buku-buku aksara Lampung sebagai pelajaran muatan lokal anak-anak di wilayah tersebut. Rumah Belajar Suluh Harapan Insani yang sudah digagasnya semenjak tahun 2013 meski masih menempati rumah orang tua dan kini menempati bangunan baru, telah memiliki murid sebanyak 50 siswa yang terdiri dari siswa SD dan SMP. Proses belajar pun bisa dilakukan mulai siang hingga malam dengan pembagian tiga kelas. SD saat siang hingga sore dan siswa SMP pada malam hari.

Lusia mengungkapkan, untuk kegiatan literasi itu dirinya kini dibantu oleh salah satu pengajar untuk mengajar di rumah belajar Suluh Harapan Insani. Di sela-sela kesibukannya menjadi tenaga pendidik di sebuah SMP swasta di Kecamatan Marga Sekampung, Lusia tetap mencurahkan waktu untuk rumah belajar yang dirintisnya. Selain untuk kegiatan belajar dengan keberadaan buku-buku bacaan di rak yang terbuat dari papan, ia juga mengelola sebagai perpustakaan. Koleksi buku pun terus ditambah khususnya untuk bacaan anak-anak usia SD hingga SMP. Selain itu buku-buku pertanian, resep masakan, dan pengelolaan perikanan yang diperuntukkan bagi para orang tua.

Lusia menyebut, meski memasuki era digital dalam budaya literasi, namun dengan keterbatasan fasilitas di desanya termasuk minimnya sinyal telekomunikasi serta tidak adanya fasilitas komputer, membuat dirinya belum bisa memfasilitasi puluhan siswa untuk bisa mengakses internet. Ia menyebut, keinginannya untuk mengenalkan bacaan positif dari internet masih terkendala dengan keterbatasan fasilitas meski di beberapa tempat sudah ada perpustakaan desa yang dilengkapi dengan fasilitas komputer dan internet.

Di kolong meja, anak-anak membaca buku dengan penuh semangat. [Foto: Istimewa]
“Sementara waktu fokus saya dengan memperbanyak buku-buku bacaan dan alat-alat tulis karena saya ingin anak-anak di desa sudah bisa membaca sekaligus mengenal pengetahuan lewat buku,” ungkap Lusia.

Sejauh ini, selain sebagian buku dibelinya menjelang momen Hari Aksara Internasional, dirinya juga mendapat donasi buku dari Yayasan Transformasi Bangsa yang ikut peduli pada gerakan literasi di pedalaman dengan bantuan buku berjumlah sekitar 500 biji. Ia bersyukur pada  pihak yang peduli pada kegiatan literasi dengan memberikan buku-buku kepada rumah belajar Suluh Harapan Insani. Pada peringatan Hari Aksara Internasional 8 September besok, ia akan membuka buku-buku baru yang sebagian masih dibungkus plastik tersebut.

“Buku-buku donasi dikirimkan lewat paket dan baru saya lihat sebagian. Besok bisa sebagai kejutan untuk anak-anak sekaligus menjadi kegiatan peringatan Hari Aksara Internasional. Besok akan dibaca oleh para siswa,” ungkap Lusia.

Dalam momen Hari Aksara Internasional dirinya juga berencana melakukan kegiatan membaca 15 menit. Membaca bersama dengan kuis-kuis singkat berhadiah alat tulis untuk siswa-siswanya direncanakan akan dilakukan bertepatan dengan Hari Aksara Internasional. Meski sederhana, ia berharap, acara tersebut bisa menyentuh nurani bahwa rutinitas membaca secara intensif setiap harinya perlu menjadi kesadaran.

Siswa asyik mengikuti pelajaran tambahan di rumah belajar Suluh Harapan Insani. [Foto: Istimewa]
Lihat juga...