Harga Jatuh dan Terserang Hama, Petani Semangka Hanya Bisa Pasrah
YOGYAKARTA – Di musim kemarau ini, sejumlah petani di pesisir selatan Kulonprogo, secara serentak beramai-ramai menanam buah semangka di lahan persawahan maupun ladang atau tegalan mereka. Namun sayang, setiap datang musim panen seperti saat ini, harga semangka di tingkat petani justru mengalami penurunan bahkan bisa dikatakan jatuh.
Harga semangga di tingkat petani kualitas A yang biasanya mencapai Rp2.000-2.500 per kilogram, turun menjadi hanya Rp1.500-1.600 per kilogram. Sedangkan untuk semangka kualitas B hanya dihargai separuhnya yakni Rp750 per kilogram. Semangka kualitas C bahkan hanya dihargai Rp300 per kilogram sehingga petani biasa menjual dalam sistem borongan.
“Tidak tahu kenapa saat musim semangka seperti sekarang ini harganya justru selalu jatuh. Lebih parahnya lagi, hasil panen kali ini juga sedang buruk. Jadi benar-benar merugi,” ujar salah seorang petani semangka, Musiati (50) warga Dusun Pancas, Karangwuni, Wates, Kulonprogo, Senin (18/9/2017).
Musiati mengaku, menanam semangka di ladang seluas kurang lebih 2000 meter persegi miliknya yang berada tak jauh dari pesisir pantai. Di usia tanam 45 hari atau kurang dari 2 minggu sebelum masa panen, 50 persen dari tanaman semangka miliknya diketahui terkena serangan hama sehingga daun menjadi keriting, mengering, dan tak bisa tumbuh. Padahal semangka yang dihasilkan rata-rata baru seberat kurang dari 1 kilogram per buah.
“Banyak yang terkena jamur. Sehingga daun mengering sebelum panen. Padahal buahnya belum besar. Sehingga mentok sampai panen hanya sebesar ini saja. Tidak bisa tumbuh lagi,” katanya.
Selain hama jamur, kondisi cuaca yang kurang mendukung serta keadaan tanah yang berpasir dinilai menjadi penyebab buruknya hasil panen semangka miliknya kali ini. Ia pun mengaku harus merugi karena modal yang ia keluarkan tak sebanding dengan hasil panen yang ia dapat. Bagaimana tidak, sebagian besar hasil panen semangka miliknya dipastikan hanya dihargai Rp300 per kilogram karena masuk kategori C.
“Untuk bisa dihargai Rp1.600 per kilo semangka harus memiliki kualitas A dengan berat minimal 3 kilo per biji. Sedangkan kualitas B beratnya harus 1,5-2 kilogram per biji. Sedangkan semangka hasil panen saya kurang dari 1 kilogram per biji. Sehingga mau tidak mau dijual borongan,” katanya.
Padahal disampaikan Musiati, untuk menanam semangka, ia mengaku telah mengeluarkan modal cukup besar. Yakni untuk membeli pupuk, mulsa, pestisida pengusir hama hingga biaya operasional seperti bahan bakar untuk menghidupkan disel guna menyiram tanaman.
“Ya mau bagaimana lagi, petani kecil seperti saya ini hanya bisa menanam. Kalau sedang rugi ya rugi. Sudah biasa. Tapi kalau tidak menanam mau kerja apa lagi,” tutupnya.