Guru Honor di SDN Kolit Andalkan Sumbangan Wali Murid
MAUMERE – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kolit di Desa Ojang Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka merupakan salah satu sekolah milik pemerintah yang ada di negeri ini, namun masih mempekerjakan guru honor dengan gaji seadanya.
Sekolah dengan 5 ruang kelas ini berjarak sekitar 76 kilometer arah timur Kota Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka. Bangunan gedung sekolahnya sangat merana dengan berlantai tanah dan berdinding bambu belah (halar).
“Saya sudah ajukan ke Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, dikatakan untuk tahun 2017 belum ada bantuan dana bagi kami para guru honor. Saya juga sudah urus surat juga tapi mungkin beritanya di bulan Desember 2017 ini,” ujar Diana Pisesa Bahar.
Salah seorang guru honor yang ditanya Cendana News Kamis (21/9/2017) mengaku bahwa 5 orang guru honor di SDN Kolit Desa Ojang masih berharap pada dana komite yang dikumpulkan oleh para orang tua murid sebagai gaji mereka.
Diana, sapaannya mengaku, di SDN Kolit Ojang hanya dirinya saja yang mendapat dana bantuan dari pusat sebesar Rp300 ribu per bulan dan diterima 3 bulan sekali. Sementara dana yang berasal dari honor daerah bantuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka tidak diterima dirinya bersama 4 teman guru honor lainnya.
“Empat teman saya lainnya yang guru honor juga belum mendapat tunjangan dana baik dari pemerintah pusat maupun dari Dinas PKO Sikka. Katanya untuk mendapatkan honor daerah harus memenuhi persyaratan terkait masa tugas dan lainnya,” tuturnya.
Diana mengaku, 14 tahun menjadi guru. Awalnya bertugas di SDK Ojang hingga tahun 2013 dipindah ke SDN Ojang untuk mengabdikan diri di sekolah yang didirikan tahun 2013. Awalnya merupakan SD Satu Atap pemisahan dari SDK Ojang yang baru pada tahun 2014 menjadi sekolah definitif.
Dirinya telah berulangkali memasukkan berkas untuk diangkat menjadi guru berstatus pegawai negeri bahkan menjadi guru honor daerah namun usaha tersebut selalu kandas meski persyaratan sudah mendukung.
“Tiap kali ada penerimaan pegawai, kami para guru di pedalaman tidak pernah diberitahu dan tidak pernah diangkat menjadi pegawai negeri. Meski sudah lama mengabdi. Sementara yang lain yang baru 5 tahun jadi guru sudah jadi pegawai negeri,” sesalnya.
Diana menambahkan, sekolahnya juga masih kekurangan guru PNS dimana hanya kepala sekolah saja yang berstatus PNS. Serta masih kekurangan seorang guru untuk mengajar kelas 2 SD sehingga para guru honor pun ikut membantu mengajar di kelas 2.
“Katanya mau ada penambahan guru berstatus PNS, tapi belum juga terealisasi sampai saat ini, sehingga kami masih kekurangan seorang guru untuk mengajar di kelas dua,” tuturnya.
Lasarus Pala, S.Pd, seorang guru di SDN Kolit Desa Ojang Kecamatan Talibura kepada Cendana News juga mengaku hanya mengandalkan pendapatan dari uang yang dikumpulkan orang tua murid sebesar Rp100 ribu per bulan. Itu pun tidak pasti tergantung dari banyaknya orang tua murid yang membayar. Sebab ada juga yang tidak mempunyai uang.
Lasarus, guru honor yang sudah 2 tahun mengajar di sekolah ini berharap, pemerintah daerah bisa membantu memberikan tambahan pendapatan bagi guru-guru di pedalaman. Mereka bekerja tanpa kenal lelah meski hanya berstatus guru honor komite.

Bupati Sikka, Drs.Yoseph Ansar Rera dalam pidato di HUT RI tanggal 17 Agustus 2017 lalu mengatakan, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan guru honorarium, pemerintah memberikan Insentif Daerah kepada 300 Guru Honor dan dukungan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk 80 guru yang tersebar di 21 kecamatan.
Kebijakan itu guna meningkatkan kompetensi guru, maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka, kata Ansar, juga akan memberikan pelatihan kepada 1.006 guru Sekolah Dasar (SD) dan 274 guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Kabupaten Sikka.