Mata Rantai Distribusi Akibatkan Disparitas Harga di Pulau Sebesi
LAMPUNG – Pulau Sebesi yang di dalamnya terdapat sebuah desa bernama Tejang Pulau Sebesi merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Rajabasa yang ada di Kabupaten Lampung Selatan.
Kawasan itu dihuni oleh ratusan kepala keluarga. Menjadi lokasi transit wisatawan yang akan menuju ke Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Wilayah yang berdekatan dengan Pulau Sebuku dan dihuni masyarakat itu juga kerap memanfaatkan distribusi barang dan pengangkutan manusia menggunakan transportasi laut dari Pelabuhan Canti menuju Pelabuhan Pulau Sebesi dengan jarak sekitar 45 menit dalam kondisi cuaca baik dan ombak tenang.
Adanya puluhan kapal motor berpenumpang dengan kapasitas hingga 60 penumpang, membuat Pulau Sebesi terhubung dengan daratan Pulau Sumatera untuk memasok beberapa kebutuhan masyarakat. Kebutuhan masyarakat mulai dari kebutuhan pokok beras, makanan ringan, bahan bakar gas elpiji serta bahan bangunan berupa semen maupun kebutuhan lain bahkan harus diangkut dengan kapal.
Transportasi menggunakan kapal laut tersebut diakui oleh Sahrul, warga Pulau Sebesi, membuat berbagai kebutuhan sehari-hari memiliki harga yang lebih tinggi dari harga di wilayah Pulau Sumatera. Faktor mahalnya biaya distribusi termasuk upah buruh angkut diakuinya ikut memicu disparitas harga yang ada di Pulau Sebesi dengan di Pulau Sumatera.
“Tingkat kemahalan barang di Pulau Sebesi jika dibandingkan dengan di daratan Sumatera pasti berbeda. Maka, dengan adanya rantai distribusi dari produsen hingga ke konsumen berimbas kenaikan harga yang tak bisa dihindari,” beber Sahrul, warga Pulau Sebesi yang berbelanja di Kalianda untuk kembali dijual di Pulau Sebesi pada warung yang dimilikinya saat ditemui Cendana News, Kamis (21/9/2017).

Sahrul menyebut, saat ini dalam kondisi normal beberapa jenis barang memiliki selisih dari mulai Rp3 ribu hingga Rp10 ribu dibandingkan dengan harga barang di wilayah Pulau Sumatera, di antaranya tabung gas Rp20 ribu di tingkat pengecer bisa mencapai harga Rp25 ribu saat tiba di Pulau Sebesi. Bahan bangunan berupa semen di wilayah Lampung Selatan hanya seharga Rp50 ribu bisa mencapai harga Rp75 ribu di Pulau Sebesi untuk setiap sak.
“Harga tersebut saat kondisi normal di daratan tentunya akan mempengaruhi ditambah kelangkaan produk tertentu jelang hari raya, maka harga di Pulau Sebesi ikut naik,” ujarnya.
Perbedaan harga yang terjadi di Pulau Sebesi dengan desa-desa lain di Kecamatan Rajabasa lainnya juga diakui oleh Sunarso selaku Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) cabang Pelabuhan Canti yang sehari-hari ikut bekerja sebagai buruh angkut di Pelabuhan Canti.
Sunarso menyebut, sudah bertahun-tahun lalu terjadi disparitas harga antara wilayah Pulau Sebesi dan di daratan Pulau Sumatera, khususnya dalam beberapa komoditas yang tidak ada di Pulau Sebesi. Harga barang-barang yang didatangkan dari luar Pulau Sebesi memiliki kecenderungan mahal, namun sebaliknya harga barang di Pulau Sebesi khususnya hasil bumi lebih murah.
“Perbedaan harga yang terjadi memang wajar karena ongkos distribusi menggunakan transportasi kapal laut sehingga harga lebih mahal di Pulau Sebesi,” beber Sunarso.
Salah satu faktor kenaikan harga yang terjadi di Pulau Sebesi diakuinya dimulai dari ongkos transportasi saat barang dibawa ke Pelabuhan Canti selanjutnya dibawa menggunakan kapal dari Pelabuhan Canti ke Pelabuhan Pulau Sebesi. Rata-rata ongkos angkut setiap item barang meski mulai Rp1000 per buah dengan banyaknya item biaya membuat harga lebih mahal di Pulau Sebesi.
Sebanyak 35 buruh pelabuhan Canti yang bekerja sebagai buruh angkut, diakui Sunarso memiliki peranan yang sangat penting untuk membantu distribusi barang sehingga barang kebutuhan masyarakat bisa sampai ke Pulau Sebesi. Selain keberadaan buruh angkut di Pelabuhan Canti, keberadaan buruh angkut yang sebagian menggunakan gerobak ikut menambah beban transportasi barang yang akan didistribusikan.
“Jadi wajar harga barang di Pulau Sebesi agak lebih mahal. Bukan karena ingin mencari keuntungan. Namun biaya-biaya penunjang yang harus dikeluarkan agar barang bisa sampai ke pulau tersebut,” ungkap Sunarso.
Para buruh yang ikut membantu perdagangan antarpulau tersebut diakuinya memang cukup membantu meski belum bisa menekan perbedaan harga di Pulau Sebesi dan Pulau Sumatera. Dermaga yang terbuat dari kayu sementara belum bisa dilalui kendaraan roda empat. Oleh sebab itu peran buruh angkut dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu hingga Rp75 ribu masih sangat diperlukan.
Beruntung sejak dua tahun terakhir beberapa pemilik usaha mulai membuat gudang penyimpanan sekaligus toko berbagai jenis barang sehingga bisa memutus rantai distribusi dan mendekatkan barang sebelum diangkut ke Pulau Sebesi. Warga bahkan kini tidak harus membeli jauh beberapa barang ke Pasar Kalianda karena toko kebutuhan pokok hingga kebutuhan bahan bangunan sudah tersedia di dekat Pelabuhan Canti. Meski belum bisa menurunkan harga yang ada di Pulau Sebesi.
