Budaya Menyambut Tamu “Kunyahlah Siriah” di Minangkabau
PADANG — Bagi masyarakat di Sumatera Barat, tamu yang datang dalam suatu kegiatan atau upacara adat, tidak hanya disambut dengan senyum sapa yang ramah, tetapi di Minangkabau memiliki cara yang sudah menjadi budaya, yakni dengan siriah (sirih) yang dihidangkan dalam carano.
Di dalam carano sendiri merupakan wadah yang diisi dengan kelengkapan sirih, pinang, gambir, dan kapur sirih, serta dulamak atau kain penutup. Namun, tidak lah satu persatu tamu yang disambut dengan carano yang berisikan sirih. Pengamat Seni dan Budaya di Sumatera Barat B. Andoeska menjelaskan, penyambutan tamu yang dimaksud ialah tamu yang dituakan atau yang dihormati.
Seperti di Minangkabau, orang yang dituakan atau yang dihormati itu seperti datuak, niniak mamak, beserta pimpinan daerah. Makna dari menyambut tamu terhormat dengan siriah, melambangkan sebuah hubungan persaudaraan, dari yang menyambut kepada orang yang disambut.
Ia menjelaskan, ada empat unsur di dalam carano siriah langkok itu yaitu, daun siriah warnanyo hijau rasonya padeh, kaduo buah pinang warnanyo kuniang rasonyo kalek, nan katigo Gambia warnanyo coklat rasonyo paik, lalu nan ka ampek nyo sadah warnanyo putiah rasonyo masin.[Daun sirih warnanya hijau rasanya pedas, kedua buah pinang warnanya kuning rasanya kelat/sepat, yang ketiga Gambir warnanya coklar rasanya pahit, kemudian yang keempat sadah warnanya putih rasanya asin]
“Dulu, ketika dalam sebuah Rumah Gadang. Sebelum niniak mamak memasuki Rumah Gadang karena ada suatu musyawarah, bundo kanduang harus menyambut niniak mamak dengan siriah, pertanda menghormati orang yang dituakan di dalam kaum datang,” katanya, Minggu (10/9/2017).

Namun, seiring berkembangnya zaman, ada terjadi penambahan cara menyambut tamu yang dihormati, yakni ada tarian persembahan. Bahkan, hal itu juga telah dilakukan di dalam acara pernikahan, dan acara lainnya.
Menurut Mak Etek, panggilan populer B. Andoeska, alasan yang membuat siriah dianggap menjadi tanda menyambut tamu, karena siriah adalah lambang persaudaraan atau kebersamaan. Selain itu juga melambangkan basa-basi yang memperlihatkan sebuah kesederhanaan.
“Berbeda dengan daerah lainnya, tamu yang datang disambut dengan berbalas pantun atau dengan cara lainnya. Namun di Minangkabau, siriah itu melambangkan keserderhanaan, karena siapapun yang disambut dan menyambut, tetap saja menggunakan siriah, dan tidak ada dengan yang lainnya,” ujarnya.
Adapun pepatah petitih dalam menyambut tamu itu yakni :
Sairiang balam jo barabah
Barabah lalu balam mandi
Sairiang salam jo sambah
sambah lalu salam kembali
Tanam siriah jo tabu udang
Tanam karakok di halaman
Cabiaklah siriah gatoklah pinang
Ambiaklah rokok kapamenan tangan
Tarantang tali dibawah janjang
Elok diambiak pangabek sikek
Kok dirantang namuah panjang
Elok dipunta nak nyo singkek
Putiah kapeh dapek diliek
putiah hati bakaadaan
sakian sambah dari ambo
Akan tetapi, Ma Etek juga sangat menyayangkan, bahwa budaya memberikan siriah itu mulai beralih ke cara praktis, yakni ada di daerah perkotaan yang menggunakan rokok sebagai pengganti siriah, ketika mengundang untuk datang ke suatu acara pernikahan.
“Dulu orang yang maucok (mengundang) itu datang ke rumah-rumah sanak keluarga menggunakan siriah. Sekarang, ada daerah yang menggantinya dengan rokok, dengan bahasa ambil lah rokok ini sebagai pengganti siriah. Padahal, makna dari memberikan siriah itu tidak sama dengan memberikan rokok,” tegasnya.
Mak Etek juga khawatir, apabila generasi Minangkabau yang sekarang tidak mengetahui apa makna budaya memberikan siriah itu, seiring zaman berlalu, akan terjadi pergeseran budaya, dari yang lama ke yang modern. Padahal, budaya lahir dari nenek moyang, bukanlah lahir dari zaman, seperti saat ini serba praktis.