Usaha Keripik Jadi Solusi Anjloknya Harga Pisang
LAMPUNG— Harga komoditas pisang yang terus anjlok, dari semula berkisar Rp15 ribu pertandan menjadi Rp8 ribu per tandan untuk kualitas super, dan harga Rp8 ribu anjlok menjadi Rp4 ribu per tandan untuk pisang asalan, memukul usaha para petani pisang di Lampung Selatan.

Anastasia (43) bersama dengan keluarganya, sejak 2009 memproduksi keripik pisang dengan berbagai varian rasa yang disukai konsumen. Di antaranya rasa pedas manis, melon, jagung bakar, balado, stroberi, cokelat, rasa manis, gurih dan rasa original tanpa tambahan rasa lain. Bahan baku pisang yang digunakan merupakan jenis pisang raja nangka yang besar dan renyah saat digoreng.
“Kami membeli dari lapak pisang dan sebagian dari hasil kebun sendiri, dan saat ini petani lebih memilih menjual pisang ke produsen keripik dibanding menjual ke pengepul, karena harganya anjlok,” terang Anastasia, Selasa (15/8/2017).
Sebagai usaha kecil rumahan yang masih dikerjakan secara manual melibatkan tenaga kerja keluarga, Anastasia menyebut memulai usahanya itu dengan modal Rp1 juta, untuk membeli alat pemotong (pasah) pisang, perekat plastik elektrik, pembelian plastik, pembelian label serta kemasan karton yang sudah diberi label dengan nama Keripik Pisang Kinasih.
Usaha keripik pisangnya pun mengalami pasang surut permintaan. Pada hari biasa, menurun, sementara saat mendekati hari raya mengalami kenaikan permintaan.
Menurut Anastasia, usahanya saat ini mulai harus bersaing ketat dengan produsen keripik pisang rumahan lain yang berasal dari beberapa kecamatan di Lampung Selatan, dengan lokasi penjualan di Bakauheni sebagai wilayah pelabuhan. Persaingan tersebut terlihat dengan banyak bermunculannya produksi keripik pisang dengan berbagai merk dan berimbas pada persaingan antar produsen.
“Kami awalnya memang menitipkan produk keripik pisang ke sejumlah toko oleh-oleh. Tapi, sekarang banyak pasokan dari wilayah lain dan beruntung pesanan tetap stabil”, ungkap Anastasia.
Isteri dari Alex Hermanto (48), ini mengatakan, persaingan antara pemilik usaha rumahan pembuat keripik pisang terlihat dari proses pengemasan dan label yang saat ini dikemas dengan plastik dan karton yang menarik. Ia menyiasati hal tersebut dengan tetap menjaga kualitas rasa, sehingga konsumen tetap setia membeli keripik buatannya yang renyah dan dipasarkan dalam jangka cepat. Ia bahkan lebih memilih menerima pesanan dalam waktu dekat dibandingkan menjual dalam jumlah banyak dan menyiapkan stok dengan resiko kualitas rasa akan berkurang.
Strategi menerima pesanan tersebut bahkan dilakukan dengan menggandeng pekerja dari pabrik garmen di Serang, Banten, yang memasarkan keripik buatannya sepekan sekali saat para pekerja tersebut pulang bekerja. Usahanya pun cukup berhasil dengan rata-rata menjual 200 bungkus keripik pisang berbagai ukuran dan ratusan bungkus lainnya dititipkan di toko oleh-oleh.
Harga jual keripik pisang buatannya saat ini mulai Rp10 ribu untuk ukuran 250 gram berbagai rasa, Rp20 ribu per kilogram untuk rasa original, keripik berbagai rasa Rp40 ribu berbagai rasa untuk ukuran 1 kilogram yang dijual setiap minggunya.
“Kami juga menerima pemesanan produksi dari instansi pemerintah, sehingga produksi kami tetap bertahan, meski banyak produsen keripik lain yang muncul”, ungkap Anastasia.
Beberapa konsumen yang kerap membeli keripiknya mengaku enggan membeli keripik yang dijual di sejumlah toko dengan stok lama yang terkadang sudah dalam kondisi tak layak konsumsi. Mencegah hal tersebut, pemesan terkadang datang langsung ke rumahnya dan memesan dalam jumlah banyak hingga 10 kilogram, dan dikemas saat pelanggan datang tak berapa lama setelah proses penggorengan untuk menjaga kualitas rasa.
Beromzet sekitar Rp4 juta sekali produksi dengan jumlah mencapai 400 bungkus dan minim memproduksi hingga 100 bungkus dalam sebulan, saat permintaan sepi ia mengaku tak pernah kehilangan pelanggan. Bahkan, masih banyak memiliki pelanggan setia yang membeli langsung kepadanya. Rasa keripik pisang original diakuinya banyak dibeli konsumen terutama pemesan dari luar wilayah Lampung dengan dibantu oleh sang anak yang masih sekolah dengan memanfaatkan media sosial.
“Sistem penjualan langsung memang sangat membantu jumlah penjualan dibandingkan sistem titip barang di toko, karena sering stok menumpuk, sehingga strategi penjualan orang per orang masih membuat usaha keripik saya bertahan”, terang Anastasia.
Kesulitan permodalan sebagai pemilik usaha rumahan tak lantas membuatnya terjebak kepada rentenir atau mengajukan pinjaman ke bank dengan sistem bunga. Dirinya mengaku kuatir tak mampu mengembalikan. Bertahan hingga delapan tahun produksi, ia menyebut permintaan stabil dan banyaknya bahan baku pisang serta kemampuan menjalin relasi dengan berbagai pihak membuat produksi keripiknya bertahan hingga kini.