Sosok Dewi Gukrasani di Mata Direktur Budaya TMII

JAKARTA – Dewi Gukrasani Laswiyati, istri Direktur Budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sulistio Tirtokusumo,  telah berpulang ke rahmatullah di usia 64 tahun pada Senin (14/8/2017) pukul 18.50 WIB di RS Fatmawati, Jakarta. Almarhumah disemayamkan di TPU Cinere pada Selasa (15/8/2017) pukul 13.00 WIB.

Rahdyan Adhi Pralampito dan Azka Keenandira Aqillasyaban ( putranya). Foto: Sri Sugiarti

Sang suami, Sulistio, mengungkapkan, sejak Maret 2017, istri tercintanya  menderita sakit kanker ovarium stadium empat hingga akhirnya dirawat di RS Puri. “Pada 14 Maret, istri saya operasi di RS Puri Cinere, tapi setelah 5 kali kemoterapi pada 3 Agustus lalu,  kondisinya drop terus hingga  mengembuskan nafas terakhir. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Allah SWT punya rencana lain, kami iklas,” ujar Sulistio, kepada Cendana News, di rumahnya di Mega Cinere, Depok, Jawa Barat, Selasa (15/8/2017).

Dia mengaku tidak punya firasat apapun terkait meninggalnya istri tercinta. Sang istri pun tidak pernah berpesan apapun pada dirinya. Hanya saja, kata Sulistio, sang istri pernah mengucapkan terima kasih pada dirinya yang telah setia mendampingi dalam keadaan ia sakit. Dalam suka dan duka menjalani biduk rumah tangga pun, diungkapkan Sulistio, mereka senantiasa saling menghargai dan menghormati serta jalinan komunikasi tak pernah terputus dengan ego masing-masing. Yakni selalu menyatu harmonis hati saling mengayomi dan menyayangi.

“Saya tak pernah punya firasat, istri juga nggak pernah pesan apapun. Cuma dia pernah bilang gini ke saya ‘terima kasih ya, bapak telah berupaya untuk kesembuhan Ibu. Saya bangga sama Bapak’,” kata Sulistio, menirukan ucapan sang istri.

Di mata Sulistio, Dewi adalah perempuan penyabar dan pengertian serta selalu ada untuk keluarga dalam suka dan duka. “Istri saya bangga pada saya, saya juga. Istri saya itu the best,” kata dia, sambil tersenyum, matanya pun terlihat berbinar.

Almarhumah Dewi meninggalkan dua putra, Riesang Dananjoyo dan Rahdyan Adhi Pralampita. Kedua putranya sudah menikah, dan memberikan cucu masing-masing satu. Adapun istri Riesang adalah Gita Pitranti, dan anaknya bernama Rashya Tara Pratama. Sedangkan istri Adhi bernama Lestari Adithami dan anaknya Azka Keenandia Aqillasyaban.

Direktur Budaya TMII, Sulistio Tirtokusumo ( baju koko hitam berpayung biru) berdoa bersama keluarga besar dan para pimpinan TMII, pada proses pemakaman Almarhumah Dewi di TPU Cinere, Depok, Jawa Barat, Selasa (15/8/2017). Foto: Sri Sugiarti

Sulistio bersama kedua anaknya serta menantunya selalu bergantian menjaga Dewi di rumah sakit, mereka tak pernah lelah.

Adhi, putra kedua Sulistio, berkisah saat mendampingi sang ibu di masa kritis. Diungkapkan Adhi, saat ibu dirawat di ruang ICU RS Puri Cinere, dirinya teringat pesan ibunya untuk zakat, infak, dan wakaf. Kebetulan, dompet sang ibu dipegang Adhi. Dia pun segera berzakat dan infak lewat ATM. Namun, saat akan wakaf, jaringan terganggu tidak bisa lewat ATM.

Sabtu malam Minggu, tepatnya tanggal 12 Agustus 2017, Dewi dipindahkan ke RS Fatmawati. Namun, kata Adhi, kondisi ibunya itu terus drop. “Dalam hati, ini ada apa kok kondisi ibu drop terus seperti ada yang terganjal. Saya pun teringat belum wakaf, mungkin ini yang mengganjal Ibu,” ucap Adhi.

Senin paginya, Adhi segera berwakaf di Masjid Sawangan tak jauh dari rumah dia. Bada zuhur, Adhi ditelepon Riesang, kakaknya mengabarkan kalau ibunya drop lagi. Dia pun segera ke rumah sakit menemui ibunya.

Sesampai RS, Adhi langsung ke lantai 3 tempat ibunya dirawat, untuk menjaganya mengantikan kakak dan ayahnya. Dokter berpesan, agar Adhi terus menjaga ibunya, karena kondisinya kritis. “Saat itu, ibu sudah koma,” kata Adhi.

Dalam kondisi ibunya koma, Adhi tetap mengajak bundanya untuk membaca Surat Alfatiha. “Ibu, kita baca surat Al Fatiha, ya 7 kali,” kata Adhi menirukan ucapannya kala itu pada ibunya. Pada bacaan kelima surat Al fatiha, kata Adhi, mata ibunya terlihat melek, dengan kedipan ke atas ke bawah. Alhamdulilah, Adhi bersyukur Allah SWT menjaga ibunya.

Pada kondisi itu, Adhi tetap mengajak ibunya untuk membaca Surat Al Fatiha. “Bu, baca lagi, ya,” ucap dia kembali menirukan ajakannya pada sang ibu saat itu.

“Pas bacaan keenam, ibu narik nafas kenyang dan menghepaskannya pelan-pelan, lalu nafas ibu pun terhenti. Saya bangunkan ibu, tapi tak ada respon,” kata Adhi. Dia percaya, kekuatan doa itu sangat dahsyat tak terkalahkan oleh gelombang apapun.

Adhi pun membaca ayat kursi niat dalam hati tiga kali dengan tetap mengajak ibunya berdoa. “Bu, baca ayat kursi, ya,” ujar Adhi, saat itu. Saat Adhi membaca ayat kursi, dia melihat kondisi ibunya tak berdaya. Adhi pun mendekati bundanya, dan mengajaknya untuk membaca dua kalimat sahadat. “Bu, baca dua kalimat sahadat dulu ya, Adhi tuntun,” kata Adhi kembali menirupkan ucapanya saat itu.

Dalam kondisi ibunya tak berdaya, Adhi melantunkan dua kalimat sahadat di telinga sang ibu tercinta. “Alhamdulilah, baca dua kali kalimat sahadat, ibu kembali bernapas. Saya pun tuntun ibu untuk membaca lagi, tapi nafas ibu malah berhenti, terlihat juga di mesin juga gerak nafas ibu terhenti. Allahu Akbar, ibu telah pergi,” ungkap Adhi.

Adhi memanggil perawat memintanya untuk memeriksa ibunya. Setelah tiga kali diperiksa, tidak ada perubahan. Perawatpun memanggil dokter untuk memeriksa kembali Ibu Dewi, dan Adhi diminta untuk keluar. Saat dokter itu ke luar ruangan, Adhi langsung bertanya, “Ibu saya sudah meninggal ya, Dok?”

Dokter itu malah menjawab, “Panggil keluarganya”.

Saat itu juga Adhi menelepon Riesang yang sedang shalat magrib bersama ayahnya di Mushola RS Fatmawati, untuk segera ke lantai 3, karena dokter mau bicara. Sesampainya di lantai 3, Adhi langsung bilang pada kakak dan ayahnya, agar mengiklaskan Sang Ibu. “Dokter belum ngasih tahu, saya sudah bilang Mas lo harus iklas ya, Bapak, juga. Karena saya yakin kalau Ibu sudah diambil yang berhak, yaitu Allah SWT,” kata Adhi.

Akhirnya, dokter pun memberitahu, kalau Ibu Dewi telah berpulang ke Rahmatullah, pihak RS telah berusaha, tetapi Allah SWT punya kuasa atas semuanya.

Di mata Adhi, Bundanya itu adalah sosok perempuan penyabar dan selalu mengayomi anak-anaknya. Ibunya itu pun tidak pernah  menyusahkan orang lain. “Ibu itu perempuan sangat luar biasa, lembut banget sosok perempuan Jawa banget,” ujarnya.

Begitu juga di mata Riesang. Bunda Dewi adalah sosok ibu yang penyabar, ramah dan pengertian. “Ibu tak tergantikan. Kalau Adhi bilang saya harus iklas, insya allah saya iklas,” kata Riesang.

Saat ditanya apakah punya firasat atas kepergian sang bunda, Reisang mengaku tak ada firasat, pesan pun tidak. Hanya saja, kata dia, Atun (pengasuh Reisang dan Adhi sejak kecil) yang hingga kini menjadi asisten rumah tangga orangtuanya pernah bermimpi dua kali.

Dalam mimpi pertamanya, kata Reisang, Bi Atun didatangi Ibu dan berpesan “Nitip Bapak dan anak-anak, ya”. Kemudian mimpi keduanya di malam Minggu, Ibu berpesan lagi dan meminta Bi Atun segera pulang ke rumah. “’Kamu sekarang pulang beres-beres rumah, nanti malem mau ada tamu’. Itu mimpi Bi Atun”, kata Reisang.

“Iya benar, Senin (14/8/2017) pukul 18.50 WIB, Ibu wafat dan malamnya banyak tamu datang ke rumah kami melayat Ibu. Subhanaallah, Kuasa Allah SWT,” ungkap Reisang.

Kini, dengan keiklasan hati keluarga tercinta, Dewi tenang di peristirahatan terakhir. Semoga almarhumah khusnul khotimah, ditempatkan di ruang terbaik di sisi Allah SWT.

 

Lihat juga...