YOGYAKARTA — Wakil Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Amirullah Setya Hardi berharap rencana produksi garam di Daerah Istimewa Yogyakarta bisa diproyeksikan untuk jangka panjang.
“Saya berharap rencana itu bukan respons sesaat karena isu kelangkaan garam, melainkan bisa diproyeksikan untuk jangka panjang,” kata Amirullah di Yogyakarta, Minggu (13/8/2017).
Menurut Amirullah, rencana program produksi garam di Daerah Istimewa Yogyakarta sesuai keinginan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X patut diapresiasi.
Inisiatif itu, menurut dia, cukup strategis untuk membantu memenuhi kebutuhan garam masyarakat.
Meski demikian, ia mengatakan dengan modal garis pantai yang cukup panjang, rencana produksi garam di DIY bisa betul-betul diproyeksikan untuk kebutuhan yang lebih luas. “Bukan hanya latah akan tetapi bagaimana agar bisa digarap secara serius,” kata dia.
Untuk memastikan produksi garam bisa digarap, menurut dia, perlu dilakukan kajian mengenai kadar garam (salinitas) pantai di DIY, serta fasilitas penunjuang produksi. Setelah dipastikan baru dilanjutkan dengan pembinaan terhadap calon pelaku produksi garam.
“Insentif berupa dukungan teknologi serta tata niaga penjualan garam juga perlu menjadi perhatian selanjutnya,” kata dia.
Sebagai negara maritim, menurut Amirullah, cukup ironi apabila kebutuhan garam masyarakat Indonesia justru ditutup dengan mengimpor dari luar negeri.
Oleh sebab itu, agar impor tidak menjadi ketergantungan, menurut dia, perlu ditempuh dengan memberikan kemudahan perizinan pemanfaatan lahan serta memberikan insentif untuk mendukung proses produksi para petani garam di daerah.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY Suwarman Partosuwiryo mengatakan rencana produksi garam sesuai permintaan Gubernur DIY Sultan HB X memang untuk diproyeksikan jangka panjang. Hal ini mengingat DIY sudah memiliki pengalaman produksi garam, meski belum tergarap optimal.
“Produksi garam yang kami rencanakan memang untuk jangka panjang,” kata Suwarman.
DKP DIY telah memetakan enam titik lokasi produksi garam di Kabupaten Bantul, Gunung Kidul, dan Kulon Progo. Di Gunungkidul rencananya ada di Pantai Sepanjang dan di Pantai Nguyahan atau Ngrenehan (Kecamatan Saptosari), di Bantul ada Pantai Samas dan Pantai Goa Cemara, sedangkan di Kulon Progo itu ada di Pantai Trisik dan Pantai Bugel.
Menurut dia, rencana produksi garam di DIY memiliki alasan yang kuat karena laut di DIY, khususnya yang ada di pantai Gunung Kidul sebenarnya memiliki kandungan garam yang tinggi.
“Air laut di Gunung Kidul memiliki kadar garam yang bagus. Tidak ada muara sungai di sepanjang pantai Gunung Kidul dan air lautnya jernih sehingga bagus untuk membuat garam,” kata dia.[Ant]