Posdaya Mergosingo, Berdayakan Anak Muda Lewat Kopi Luwak

MALANG — Posdaya Mergosingo yang berlokasi di Jalan Langsep, Dusun Mergosingo, Desa Jatirejoyoso, Kelurahan Jatirejoyoso, Kecamatan Kepanjen memiliki peranan penting dalam memberdayakan masyarakat terutama pemberdayaan anak-anak muda.

Uniknya, Posdaya yang diketuai oleh Muhammad Eko Nur Salam justru memanfaatkan kopi Luwak sebagai media untuk mengumpulkan para remaja di daerahnya untuk turut berdiskusi.

Di ceritakan, sejak enam tahun yang lalu pria yang memiliki nama panggilan Erik tersebut sudah mulai berkecimpung dalam dunia kopi Luwak. Menurutnya melalui filosofi kopi itu pula, dirinya bisa mengumpulkan para remaja untuk diberdayakan.

“Kalau dulu di zaman Wali songo, Sunan Kalijaga megumpulkan masyarakat dengan menggunakan Wayang, kali ini Posdaya Mergosingo menggunakan perantara kopi Luwak untuk mengajak diskusi anak-anak muda. Posdaya Mergosingo saat ini memang terfokus pada pemberdayaan anak-anak muda,” paparnya.

Arus informasi yang semakin mengerikan, internet mudah diakses yang tidak diiringi dengan tingkat pendidikan yang mumpuni, menyebabkan pengaruh jelek lebih mudah masuk daripada pengaruh baik.

Di tambah lagi kondisis anak muda yang sifatnya masih pencarian jati diri, itu yang menjadi sasaran dari Posdaya Mergosingo.

Posdaya Mergosingo sendiri baru terbentuk pada 2014 dan merupakan salah satu posdaya binaan Universitas Merdeka (Unmer) Malang. Dalam melakukan pemberdayaan remaja, Posdaya Mergosingo lebih mengedepankan bagaimana cara membangun pola fikir, minimal mengajak mereka befikir dengan benar sehingga mampu mengurangi kenakalan remaja.

Tidak hanya itu, Posdaya Mergosingo juga membangun rasa kemandirian, dalam artian mengajarkan anak-anak muda untuk mencari uang.

“Biasanya anak-anak muda ini di undang ke cafe saya untuk menikmati kopi Luwak gratis sambil jagongan (ngobrol), sambil saya ajarkan mereka cara membuat usaha. Kita arahkan mereka kalau bisa jangan sampai menjadi pekerja atau kuli. Tidak apa-apa menjadi kuli tapi kedepannya harus bisa di rubah,” ungkapnya.

Pengalaman Erik dalam hal merintis usaha kopi Luwak hingga sekarang, diceritakan kepada mereka sebagai motivasi.

Lebih lanjut Erik mengaku pernah mendapatkan pinjaman modal lebih dari 100 juta rupiah dari Damandiri yang nantinya harus di kembalikan dengan cara mengangsur. Menurutnya pinjaman dana dari Damandiri tersebut sebenarnya hampir sama dengan pinjaman yang lain, hanya saja yang dari Damandiri tanpa menggunakan agunan.

“Tapi sayangnya dana tersebut hanya berupa pinjaman, harusnya bisa menjadi dana hibah. Karena yang kita lakukan ini bukan profit oriented atau mengejar keuntungan. Jadi sampai sekarang saya belum bisa mengangsur untuk mengembalikan uang itu,” akunya.

Menurutnya, apabila pinjaman uang tersebut ia gunakan untuk membeli alat penggoreng kopi (roasting) yang harganya berkisar 70-100 juta, maka nilai pemberdayaannya tidak ada karena uangnya habis untuk membeli alat roasting.

Kemudian yang kedua, bicara kopi luwak, uang 100 juta hanya bisa digunakan untuk membeli 3 kwintal karung kopi luwak saja. Jadi meskipun jumlah nominalnya besar, tapi kalau di masukkan ke kopi luwak tidak ada apa-apanya.

“Jadi yang saya lakukan sekarang adalah membuat terobosan marketing.  Saya tahu membuat terobosan itu pasti lambat. Tapi ketika keran-keran terobosan itu terbuka, maka tingkat produksi pasti akan naik. Makanya uang tersebut saat ini kita gunakan untuk membuat rombong kopi  (gerobak kopi). Target saya kalau bisa berjalan lancar, minimal tahun ini ada 10 rombong, maka produksi akan ada tambahan,” tandasnya.

Erik memaparkan, kemungkinan besar dalam terobosan marketing dengan menggunakan rombong kopi ia akan menerapkan subsidi silang. Artinya bagi mereka yang benar-benar memerlukan, akan diberikan secara cuma-cuma atau bisa juga dengan bagi hasil untuk lebi memicu mereka sehingga pemberdayaan bisa berjalan. Kemudian ada juga rombong yang di manfaatkan untuk franchise.

Namun begitu, saat ini permasalahan utama yang dihadapi Erik dalam pemberdayaan remaja adalah Sumber Daya Manusianya (SDM). Anak-anak muda tersebut lebih suka menjadi kuli daripada menjadi wirausaha.

“Secara umum anak-anak muda ini mentalnya masih mental pekerja, bukan mental wirausaha. Mereka lebih suka berada di zona aman dan inginnya digaji per bulan,” ungkapnya.

Semangat mereka saat berdiskusi sudah bagus, tapi ketika sudah mulai berjualan, selama tiga hari saja mereka tidak sabar dan akhirnya berhenti.

Menurut Erik lagi memproduksi itu mudah, tapi bagaimana caranya mengemas produk kita agar bisa sejajar dengan produk yang lain, punya nilai jual dan bisa bertahan, itu yang susah.

“Jadi apapun program pemerintah selama tidak ada pendampingan dan perubahan cara berfikir dari masyarakat, maka tidak akan jalan,” pungkasnya.

Lihat juga...