NTT Boyong Piala Ibu Tien di Parade Tari Nusantara TMII

JAKARTA — Provinsi Nusa Tengggara Timur (NTT) berhasil memboyong piala bergilir pemakarsa Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Ibu Tien Soeharto dalam gelaran Parade Tari Nusantara TMII ke 36 tahun 2017 dalam dalam Malam Anugerah Parade Tari Nusantara TMII Ke 36 di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Sabtu (19/8/2017) malam.

“Penyaji terbaik, juara umum dan berhak mendapatkan piala tetap dari Menteri Pariwisata, serta memboyong piala bergilir pemakarsa TMII Ibu Tien Soeharto, dan uang Rp 13 juta dari Direktur Utama TMII, adalah Provinsi Nusa Tengggara Timur (NTT),” ucap Direktur Umum TMII, Bambang Parikesit.

NTT berhasil memperoleh penghargaan terbanyak dalam parade yang diikuti oleh perwakilan 26 provinsi di Tanah Air itu. NTT berhasil menjadi sebagai penyaji terbaik, penata tari terbaik (M.Jemri E.N), penata musik terbaik (Presley Talaut), penata rias dan busana terbaik (Randy Adnan Adu), penata tari unggulan, dan penyaji terbaik antar wilayah Indonesia Timur.

Direktur Umum TMII, Bambang Pareksit saat memberikan sambutan dan pengumuman pemenang juara umum Parade Tari Nusantara TMII Ke-36 di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Sabtu (19/8/2017) malam. Foto: Sri

Dalam kompetisi bergengsi tingkat nasional bertajuk “Kreativitas Tari Pada Proses Adat Masyarakat Daerah Berbasis Seni Kerakyatan”, NTT membawakan cerita “Mula Hai Ngae”. Cerita tari ini mengisahkan proses adat panen jagung masyarakat suku Helong di Pulau Semau, Nusa Tenggara Timur.

Pada zaman dahulu, orang Helong bermata pencarian sebagai petani ladang yang lebih banyak menanam jagung sebagai makanan pokoknya. Proses panen diawali dengan masyarakat berdoa sebagai ungkapan syukur sambil meniup Kliung Pola, sebuah alat musik tradisional yang sakral untuk meminta berkat-Nya.

Dara wanita lalu membawa Aluk (alat penumbuk jagung) seraya beraktivitas bersama, mereka melantunkan: Malekit Komesamo Dalenmessa, Lekoa Ngae Lia, Male Lobot Leo Leo Taodani sebagai simbol satu hati dalam menanam jagung.

Untuk mengawetkan jagung supaya bertahan lama dan tidak dimakan ulat, jagung yang sudah bersih dicampur dengan abu arang kusambung kemudian diinjak bersama-sama lalu disimpan.

Kemudian para petani wanita akan berpesta sambil menari riang gembira yang diakhiri dengan penumpukan jagung ke bumi sebagai tanda bahwa masyarakat suku Helong tidak akan pernah kelaparan dan panen berikutnya akan penuh berlimpah.

“Kami bangga karena pernah menjadi juara umum tahun 2011. Kami menanti sekian lama enam tahun, malam ini kami kembali meraih juara umum Parade Tari Nusantara TMII ke 36,” kata Eldi Angi, Kepala Bidang Kesenian, Bahasa, dan Sastra NTT Pada Dinas Kebudayaan Provinsi NTT.

Para penari Nusa Tenggara Timur (NTT) bertajuk “Mula Hai Ngae” di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Sabtu (19/8/2017) malam.foto: Sri

Wiwiek Sipala, salah satu tim juri dalam Parade Tari Nusantara TMII mengatakan, salah satu kriteria penilaian dalam kompetisi haruslah mengangkat basis kerakyatan. Tidak saja tertata secara estetika, namun juga harus sarat dengan pesan moral.

“Kami apresiasikan secra keseluruhan semua peserta semangat menggarap tari nusantara, tapi tentunya ada yang terbaik dan layak meraih juara umum, yaitu NTT,” ujarnya.

Para juri, lanjut dia, juga memperhatikan gerak-gerak simbolik yang ditampilkan dan tidak saja terpaku pada gerak tari yang indah. Di samping itu, harus ada pola kostum yang digunakan penampil yang bersifat multifungsi dan pemanfaatan properti secara efektif efisien sesuai dengan tema cerita. Sehingga properti yang ada tidak sekedar menjadi ornamen yang dekoratif.

Begitu pula dengan pemilihan sinopsis agar terjasi relasi yang komunikatif antar konsep dan visual sehingga isi pesan dalam garapan dapat bermakna.

Lihat juga...