Mengintip Komunitas Ludruk Jakarta di Anjungan Jawa Timur TMII

JAKARTA — Ketua Komunitas Ludruk Jakarta (KLJ) Andrean Eno Tirtakusumo mengatakan, Bung Karno menekankan bahwa Pancasila adalah nilai-nilai luhur dari bangsa Indonesia. Artinya, Pancasila itu adalah identitas bangsa Indonesia. “Bukan eforia, Saya Pancasila, Saya Indonesia. Bukan pula eforia, kebetulan saya dosen Universitas Pancasila. Tapi saya melihat Pancasila itu ada di Ludruk,” ujar Eno kepada Cendana News, Minggu (6/8/2017).

Eno mengatakan itu punya alasan kuat. Yakni, dia menyakini kalau seniman-seniman Ludruk ketika akan pentas walaupun sudah mahir, mereka tidak lepaskan ikatan bathin dengan Tuhan. Ini menurut Eno, tergambar dalam sila pertama Pancasila.

Adapun sila kedua, yaitu mereka tampilkan cerita Ludruk itu dari nilai-nilai kemanusiaan. Sila ketiga yaitu Persatuan. Mereka bisa pentas “Durasim Pendekar Ludruk” ini saja memerlukan satu kesatuan.

Dan keempat adalah segala keputusannya menyatukan orang-orang di Ludruk ini luar biasa, walaupun Ludruk ini kesenian asli Jawa Timur. ” Tapi tokoh-tokohnya tersebar, tidak hanya wong Jowo. Tapi ono wong Jakarta, wong Batak, ono wong Indiane, wong Arab, wong Londo, wong Chinane.Tumplek kabeh nang Ludruk,” ungkap Andreas.

Andreas kembali menegaskan, bahwa Ludruk ini identitas budaya Indonesia, khususnya Jawa Timur. ” Kalau indentitas itu hilang tidak kebayang. Sama halnya kalau saya lupa nama bisa timbul masalah baru,” katanya.

Eno berharap Ludruk ini tetap diperkuat, pertahankan, dan dicintai selayaknya cinta kepada Pancasila. Maka Ludruk ini pun harus dicintai dan dilestarikan.

“Kita angkat Lundruk ini, kita tunjukkan inilah Indonesia, kalau bisa membahana hingga ke luar negeri seperti zaman kerajaan Majapagit dan Sriwijaya,” ujar Eno.

Minggu (6/8/2017) petang ini, KLJ menggelar “Durasim Pendekar Ludruk”. Ini kata Eno membuktikan kita punya budaya dan harus bangga Indonesia pasti jaya dengan pelestarian seni budaya yang dijunjung tinggi.

“Ludruk ini kesenian yang nyaris punah, anak kecil sekarang ditanya Ludruk, mereka tidak tahu. Padahal ludruk itu kan identitas budaya bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ketua Komunitas Ludruk Jakarta (KLJ) Andreas Eno Tirtakusumo. Foto: Sri Sugiarti

Di Anjungan Jawa Timur TMII, dan salah satu keseniannya adalah ludruk. Juga salah satu pahlawan seniman ludruk adalah Cak Durasim. Eno mengajak, agar rakyat Indonesia membangkitkan semangat ini supaya ludruk ini lebih dikenal lagi.

“Hari ini, saya lihat banyak pemuda yang nonton, dan pemain baru ludruk pun banyak yang datang. Tentu seni ludruk ini naik kalau orang Jawa Timur dan identitasnya jelas, tidak perlu kebarat-baratan, jaga hati nasionaliame akan lebih maju negara ini,”sebutnya.

Dirinya menjelaskan, KLJ jumlah anggotanya sudah mencapai 53 orang, dan seiring waktu akan terus bertambah. Untuk pelatihan ludruk, KLJ rutin setiap Selasa malam dari pukul 18.00-21.00 WIB di anjungan Jawa Timur TMII. Dalam pelatihan itu, pemain ludruk senior Srimulat yaitu Tessy, Tarzan, Nurbuat dan Polo kerap memberikan pembinaan bagi anggota KLJ.

Adapun program KLJ adalah pada Minggu 6 Agustus 2017 ini mengelar ludruk bertajuk ” Durasim Pendekar Ludruk” dan deklarasi KLJ di Anjungan Jawa Timur TMII.

Program selanjutnya kata Eno, KLJ akan mengelar saresehan 17an antara seniman supaya ada kesatuan. Menurutnya, menyatukan para seniman ludruk itu gampang-gampang susah, kalau mereka bersatu bisa membuat karya ludruk lebih bagus lagi.

Dikatakan Eno, KLJ diharapkan tanggal 10 November 2017, pagelaran ludruk  mampu kalahkan konser, sifatnya ekonomis dan komersil, dan pentasnya di luar TMII.

“Ludruk itu bukan nunggu orang, tapi nanti ludruk itu dicari-cari orang yang mau nonton ngantri, bisa kalahkan konser band,” ujarnya.

Terkait fasilitas latihan gratis di Anjungan Jawa Tengah TMII, Eno merasa bersyukur KLJ dapat perhatian hingga bisa berlatih di anjungan ini. Menurutnya, fasilitas yang diberikan anjungan Jawa Tengah sangat luar biasa karena tentunya tempat itu tidaklah murah.

“TMII ini sudah dikenal, memudahkan anggota untuk datang berlatih ludruk di anjungan Jawa Timur, dan kami bangga bisa latihan di sini,” katanya.

Eno juga sangat bangga atas ide cemerlang pengagas TMII yaitu Ibu Tien. Menurutnya, TMII ini identitas bangsa dalam pelestarian budaya nusantara. “TMII ini identitas menyatukan seluruh Indonesia. Saya bisa lihat oh.. ini budaya Aceh, budaya Padang dan lainnya. Bahkan awal dibuka tahun 1970, di TMII sudah ada monoreal dan kereta gantung. Itu luar biasa, negara tetangga ketika itu belum punya,” ungkapnya.

Eno berharap, TMII tetap dijaga dalam visi pelestarian seni budaya bangsa. Dia juga menyarankan agar lebih tertata lagi dengan berbagai inovasi yang mengugah pengunjung.

Lihat juga...