Mencicipi Kuliner Khas Jalan Lintas Timur, Buras dan Semur Entok
LAMPUNG — Semur entok (unggas sejenis bebek) merupakan salah satu makanan khas Jawa yang dapat ditemui di berbagai daerah, salah satunya di jalan Lintas Timur Sumatera, Lampung. Semur entok merupakan lauk yang paling dicari oleh warga sekitar dan diminati oleh pengendara.
Salah satu pemilik warung makan, Puji Karomah menyebutkan, proses pembuatannya tidak begitu rumit, entok yang dibelinya dari pasar serta pemilik ternak selanjutnya dipotong dalam ukuran kecil kecil dan dibersihkan, untuk selanjutnya dipadukan dengan bumbu bumbu yang telah disiapkan terlebih dahulu.
“Biasanya saya memotong entok tersebut dalam sebanyak 12 bagian karena selain dijual di warungnya terkadang dijual berkeliling,” ungkap Puji Karomah saat ditemui Cendana News di Desa Berundung Jalan Lintas Timur Sumatera, Sabtu (12/8/2017).
Sebelum mengolah semur entok Puji mengaku menyiapkan bahan bahan berupa bawang merah, kunyit, lada putih, ketumbar, cabai rawit merah, bawang putih, kemiri, lada, pala, garam serta bumbu lain yang dihaluskan dengan cara diulek. Setelah disiapkan, bumbu tersebut dimasukkan ke dalam wajan untuk disangrai.
Salah satu resep menjadikan semur entok yang lezat Puji mengaku sengaja memasak menggunakan kayu bakar untuk proses menyangrai bumbu hingga mematangkan entok yang diolah. Setelah tercium aroma harum dari berbagai jenis bumbu tersebut potongan entok yang sudah disiapkan dimasukkan untuk proses memasak hingga daging entok matang selama satu jam. Daging entok yang sudah empuk selanjutnya akan disiapkan dalam wadah khusus menunggu pelanggan datang yang menyukai menu semur entok sekaligus opor ayam dan entok.

Proses pembuatan buras sebagai pelengkap menu semur entok diakui Puji terbilang sederhana karena nasi buras yang merupakan makanan khas Sulawesi Selatan atau Bugis tersebut dengan rasa gurih seperti nasi uduk hanya dibungkus menggunakan daun pisang. Sekali proses pembuatan ia menyediakan beras sebanyak dua kilogram yang dijadikan buras sebanyak 70 bungkus setiap hari dan kerap disajikan setiap pagi.
Beras yang sudah disiapkan selanjutnya dicuci bersih dan dikukus dalam dandang hingga setengah matang selanjutnya dicampurkan dengan santan yang sudah dicampur dengan daun salam. Setelah dicampur bahan tersebut kembali dikukus hingga empuk selanjutnya dibungkus menggunakan daun pisang dan dilipat untuk dikukus kembali hingga matang.
“Buras yang saya buat rasanya gurih sehingga meski sebagai nasi namun sudah cukup nikmat dimakan apalagi ditambah dengan semur entok yang saya sediakan dan saya jual keliling,” ungkap Puji.

“Keluarga saya kerap meminta dibelikan buras untuk sarapan pagi dipadukan dengan semur entok karena rasanya lezat,” terang Yulianti.
Yulianti menyebut cukup senang karena menu buras yang dijual oleh Puji Karomah mengakibatkan warga tidak perlu menunggu lebaran haji atau lebaran Idul Fitri untuk menikmati buras. Sebagian warga Berundung yang bersuku Bugis bahkan kerap memborong buras buatan Puji yang cukup lezat dipadukan dengan semur entok.