Acho: Tulisan Apartemen Grand Pramuka Mewakili Kepentingan Warga

JAKARTA — Tersangka Pencemaran nama baik, Muhadkly alias Acho memenuhi panggilan untuk pelimpahan tahap kedua oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya.

Acho dipolisikan oleh pihak pengembang karena dirinya telah menulis unek uniknya di blog pribadinya. Selain Blog, dia juga mengunggah cuitan di Twitter soal pungutan liar (Pungli) yang terjadi di Apartemen Green Pramuka, Cempaka putih Jakarta pusat.

“Saya penuhi panggilan polisi, Kasusnya tentang pencemaran nama baik, karena saya menuliskan kritik ketidakpuasan saya terhadap pelayanan pengelolaan Apartemen Green Pramuka di tempat saya tinggal,” ujar Acho di Mapolda Metro, Jakarta Selatan, Senin, (7/8/3017).

Menurut Acho, tulisan kekecewaan dia terkait dengan fasilitas yang disediakan pengembang Apartemen Green Pramuka tersebut bukan karena keresahan secara pribadi. Dia juga mewakili banyak kepentingan masyarakat umum di daerah itu.

Bahkan, kata dia, warga di sekitar apartemen saat ini pun telah berkumpul untuk mengawalnya. Langkah ini dilakukan guna untuk membuktikan apa yang telah ditulis diblog itu bukan keresahan secara individual.

Acho Menjelaskan, Kritikan terhadap pengelola Apartemen Grand Pramuka itu bukan baru kali ini mencuat ke publik, namun sudah berkali-kali sejak 2013.

Di tahun itu juga pihaknya pernah didatangi DPRD DKI untuk meninjau langsung Apartemen sekaligus mendengar keluhan pendapat secara langsung dari warga setempat.

Selain itu, Warga yang berdomisili di sekitar apartemen itu juga telah berkali-kali bersurat untuk meminta bertemu dengan pihak pengelola, tapi tak kunjung ditemui.

Pengelola Apartemen, beber Acho, sangat sulit diajak diskusi, mereka hanya bisa menempel peraturan yang mesti diikuti warga.

Padahal sebagai pengembang harusnya ada ruang untuk berdiskusi bersama masyarakat. Akan tetapi, setelah menempati apartemen tersebut, warga merasa apa yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan.

“Yang saya tulis di blog itu bukan awal, tapi justru puncak gunung es yang sudah kita lakukan dari tahun 2013. Jadi yang saya tulis pada 2015 adalah puncak keputusasaan kami, karena mentok kemana-mana, kita minta mediasi pun tidak bisa,” tuturnya.

 

Lihat juga...