Pemerintah Pertimbangkan Tawaran Daging Sapi Afrika Selatan
JAKARTA — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia, dalam waktu dekat akan mempertimbangkan penawaran ekspor daging beku yang diajukan oleh Pemerintah Afrika Selatan, yang sangat serius menawarkan hal tersebut kepada Kemendag RI.
Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita, menjelaskan, Pemerintah Afrika Selatan pada dasarnya setuju dan berminat ingin mengekspor daging beku ke Indonesia. Bahkan, siap mengekspor daging beku sesuai permintaan atau berapapun jumlah yang dibutuhkan oleh Indonesia.
Namun demikian, Enggartiasto menyampaikan, bahwa pihaknya akan mempertimbangkan wacana tersebut. Pada intinya, Kemendag setuju, asalkan sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku terkait aturan ekspor daging beku tersebut, di antaranya terkait dengan halal dan higienitas.
saat menggelar acara jumpa pers di kantornya. Enggartiasto belum lama ini baru saja tiba di tanah air, setelah sebelumnya melakukan kunjungan kerja ke sejumlah negara, salah satunya ke Afrika Selatan.
“Selama ini, Indonesia banyak mengimpor daging beku dari Negara Australia, kita tidak boleh menggantungkan impor komoditas pangan dari satu negara saja, makanya kita buka kran impor daging beku dari India, Meksiko, Chile. Nah, yang terbaru Pemerintah Afrika Selatan berminat menawarkan ekspor daging beku ke Indonesia” jelasnya, kepada wartawan di Kantor Kemendag, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (31/7/2017).
Engartiasto menambahkan, stok daging beku di Afrika Selatan yang siap diekspor ke Indonesia diperkirakan mencapai 125.000 ton, sedangkan harga rata-rata daging beku di sana sekitar Rp40.000 per kilogram. Harga tersebut bisa dibilang relatif murah dibandingkan harga daging beku dari negara-negara lainnya.
Enggartiasto juga menceritakan, bahwa Negara Afrika Selatan selama ini memang dikenal sebagai salah satu negara dengan stok daging sapi atau daging beku yang sangat melimpah. Afrika Selatan berminat mengekspor daging beku ke Indonesia dalam jumlah besar, karena komoditas andalan Afrika Selatan seperti sektor pertambangan dan mineral dalam beberapa tahun terakhir mengalami kelesuan.