Upah Tukang Dibayar, Segel Kantor Desa Hale Dibuka

KAMIS, 15 JUNI 2017

MAUMERE — Penyegelan kantor Desa Hale, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka yang dilakukan sejak 5 Juni 2017 berakhir, setelah upah tukang pada pengerjaan jalan semen sepanjang 150 meter pada Oktober 2016 lalu dibayarkan, Rabu (14/6/2017).

Pihak kepolisian sedang melepas segel kantor Desa Hale Kecamatan Mapitara.

Segel kantor desa menggunakan kayu dan bambu akhirnya dilepas aparat desa bersama pihak Kepolisian Sektor Bola sehingga aktivitas pemerintahan desa pun bisa berjalan normal kembali.

Demikian disampaikan Mus Muladi, staf lembaga swadaya masyarakat Wahana Tani Mandiri (WTM) yang bertugas di Mapitara saat ditemui Cendana News, Kamis (15/6/2017), di kantornya.

Dikatakan Mus, upah tukang senilai 11,75 juta rupiah akhirnya dibayarkan kepada para tukang bertempat di kantor camat Mapitara sehingga para tukang yang sudah dua kali melakukan penyegelan kantor desa membiarkan segel kantor desa dibuka.

Pertemuan antara Camat Mapitara, Theresia Silmeta M. Donata, bersama para tukang dan aparat Desa Hale.

“Selain itu insentif para kader posyandu, RT, dan RW sejak bulan Januari 2016 dan gaji aparat desa sejak Juli 2016 yang belum dibayar pun sudah dibayarkan,” ungkapnya.

Camat Mapitara, Theresia Silmeta M. Donata, saat pertemuan dengan masyarakat Desa Hale di kantor Camat Mapitara, Rabu (14/6/2017), mengatakan, meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Desa Hale atas kejadian tersebut.

Dikatakan Theresia, sesungguhnya dirinya yang harus bertanggung jawab sebab ibarat dirinya melahirkan anak tetapi tidak bisa memberi makan sehingga anak-anak lapar dan berteriak serta membuat tetangga harus tahu.

Mus Muladi, staf Wahana Tani Mandiri yang bertugas di Kecamatan Mapitara.

“Kita benar-benar lapar baik tukang, RT, RW, kepala dusun, kader Posyandu dan aparat desa semuanya lapar dan semua kesalahannya ada pada saya,” ungkapnya.

Terkait komentar kenapa ibu camat tidak pernah muncul, Theresia meminta maaf sebab mobil dinas rusak dan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) sudah datang, berbicara dari hati ke hati dengan para tukang.

“Kondisi keuangan kita tahap demi tahap dan disimpan di rekening, namun memang saat itu belum bisa dikeluarkan,” terangnya.

Theresia mengakui, sudah menyampaikan ke wakil bupati Sikka bahwa semua uang sudah ada di rekening, bukan di saku celana Kepala Desa Hale, Sekcam atau ibu camat.

“Mengapa uang itu tidak keluar sebab pada 23 Desember 2016 sudah diajukan seluruh uang untuk dicairkan tetapi tidak bisa sehingga dianggap Sisa Lebih Pemakaian Anggaran (Silpa),” tuturnya.

Theresia menyampaikan bahwa mereka bekerja dengan hati nurani dan tidak makan penderitaan masyarakat serta merasa sedih. Sebab tidak mempunyai apa-apa dan beritanya muncul di media. Dirinya tidak tahu sama sekali sebab sedang berjuang agar dana ini bisa dicairkan.

“Kami diam bukan berarti kami tidur tapi kami berusaha supaya uangnya bisa segera dicairkan untuk membantu masyarakat,” pungkasnya. (Ebed de Rosary/ Satmoko/ Foto: Ebed de Rosary)

Source: CendanaNews

Lihat juga...