SDA Menipis, Dunia Rawan Konflik

KAMIS, 15 JUNI 2017

MALANG — Di abad ke-21, sekarang ini, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Antara lain, menipisnya sumber energi berbasis fosil, dan semakin bertambahnya jumlah penduduk dunia.

Agus Harimurti Yudhoyono

Diperkirakan, 42 tahun lagi cadangan minyak dunia akan habis, dan cadangan minyak Indonesia diperkirakan akan habis 17 tahun lagi. “Karena itu, jangan sampai kita terlena kemudian lupa mencari sumber energi alternatif berupa sumber energi yang terbarukan,” kata Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), ketika menghadiri acara Ngobrol Gaul Bareng AHY di Kota Malang, bertema ‘Saatnya yang Muda Bicara Masa Depan’, pada Rabu (14/6/2017), malam.

Sementara itu, lanjut Agus, Indonesia hidup di tengah-tengah 7,5 miliar penduduk dunia, yang berarti dunia semakin sempit. Tidak hanya areanya yang terbatas, namun summber dayanya juga terbatas, namun diperebutkan oleh banyak manusia. Inilah yang kemudian akan menjadikan banyak terjadi konflik, termasuk bisa melahirkan perang antar negara, sehingga kompetisi semakin sengit.

“Sebab itu, tidak ada cara lain lagi selain kita harus bisa lebih siap untuk menghadapi berbagai kompetisi di abad ke-21. Saat ini, yang jelas Asia pasifik telah menjadi kawasan yang dinamis, karena ada empat kekuatan nuklir yang jika sampai bergesekan bisa menjadi perang dunia ketiga, dan ini sangat bahaya sekali,” ujarnya.

Sementara, Indonesia berada dalam posisi yang strategis, tetapi juga mengandung kerawanan. Karena Indonesia dikelilingi oleh berbagai kekuatan dan berbagai entitas yang memiliki kepentingan masing-masing.

“Belum lagi, kita sendiri mempunyai tantangan yang dalam sejarah bangsa Indonesia selalu diuji, yaitu mengenai persatuan dan integritas dari negara kesatuan Republik Indonesia. Kita harus waspada dan jangan sampai lengah dengan ancaman terorisme, dan hal-hal lainnya yang dapat memecah belah bangsa Indonesia,” katanya.

Menurut Agus, membela dan menjaga negara bukan hanya urusan  Tentara Nasional Indonesia, tetapi juga merupakan hak dan kewajiban seluruh masyarakat sebagai kompenen bangsa Indonesia. Apapun profesinya dan di manapun mereka berada, selama mereka merupakan warga negara Indonesia, mereka harus selalu memiliki kecintaan serta keinginan untuk membela negara Indonesia.

“Saat ini yang disebut patriot  bukan hanya TNI saja, tetapi siapapun warga negara Indonesia yang mencintai dan mau membela negaranya adalah seorang patriot. Oleh sebab itu, kita harus bersatu dan itu harus dimulai dari yang muda, karena generasi muda adalah generasi yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik,” tegasnya. (Agus Nurchaliq/Koko Triarko/ Foto: Agus Nurchaliq)
Source: CendanaNews

Lihat juga...