RABU, 14 JUNI 2017
BANJARMASIN — Ketua Ikatan Kekeluargaan Antar Suku Bangsa (IKASBA) Kalimantan Selatan, Gusti Satya Dharma, mengingatkan, masyarakat lebih bersabar dan tidak mudah terhasut atas silang informasi di media sosial (medsos). Ia mengatakan, banyak informasi di media sosial yang menyesatkan, bahkan memicu konflik antar umat beragama dan suku di Indonesia.
![]() |
| Ketua IKASBA Kalsel, Gusti Satya Dharma. |
“Saat menerima informasi di media sosial, lihat dulu sumbernya dari mana, apakah dari blog abal-abal atau media resmi. Khususnya bagi informasi yang berbau sara dan menghasut, lebih baik dihiraukan saja,” ujar Gusti Satya Dharma di Banjarmasin, Rabu (14/6/2017).
Ia mengimbau warga hendaknya segera dihapus bila menerima informasi yang sifatnya sara dan menghasut. Gusti Satya berharap warga jangan malah menyebarkan pesan hasutan yang dapat memberikan efek negatif bagi orang lain. Di era serba digital, dia melanjutkan, informasi sangat mudah dibuat dan didapat. “Nah tinggal kitanya saja yang harus pintar memilah mana yang memang bermanfaat bagi kita mana yang tidak bermanfaat,” ujar Gusti.
Gusti pun mewanti-wanti kepada para kepala suku yang tergabung di IKASBA Kalsel untuk terus mempererat persatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Tokoh masyarakat juga mesti meredam berita-berita yang sifatnya keliru atau HOAX dan tidak mudah terhasut.
“Kita ingin para kepala suku bisa memberikan pemahaman pada komunitasnya tentang pentingnya semangat persatuan untuk membangun bangsa yang lebih baik di masa depan,” Gusti mengingatkan. Hal itu penting mengingat pihak luar sedang mencoba memecah belah bangsa dan negara Indonesia.
Pendapat serupa dilontarkan oleh David Setiawan yang mewakili suku Betawi di IKASBA Kalsel. David menuturkan masyarakat harus bisa membedakan antara informasi yang sifatnya menghasut dan informasi terverifikasi. David mengimbau agar kepala suku atau tokoh masyarakat yang tergabung dalam IKASBA Kalsel bisa turut mensosialisasikan pemahaman yang benar atas informasi di media sosial. “Agar tidak ikut dalam arus informasi yang berbau menghasut dan sara,” ujar David Setiawan.
“Kita harus keroyokan memerangi informasi di media sosial yang banyak menghasut dan berbau sara. Karena jika tidak kita akan terjebak pada perang argumen dan saudara yang bakal sangat merugikan bangsa dan negara,” demikian ia menambahkan. {Diananta P. Sumedi / Satmoko /Foto: Diananta P. Sumedi}
Source: CendanaNews
