SABTU, 17 JUNI 2017
BALIKPAPAN — Memilih profesi sebagai Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan Semayang Balikpapan menjadi pilihan Messa. Sejak muda ia memilih bekerja TKBM sebagai mata pencaharian satu-satunya untuk menafkahi anak dan isterinya.
![]() |
| Messa salah seorang Tenaga Kerja Bongkar Muat Pelabuhan Semayang Balikpapan. |
Tepat tahun 1984, Messa merantau ke kota minyak untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Sebelum memilih pekerjaan sebagak TKBM, ia bekerja sebagai tenaga keamanan perusahaan. Namun karena terikat sebuah perusahaan yang tidak membuatnya nyaman dalam bekerja, Messa memilih untuk berhenti dan beralih menjadi TKBM pelabuhan.
Tahun 1984 hingga 2000 an aktivitas bongkar muat di pelabuhan Semayang sangat padat karena menjadi satu-satunya pelabuhan yang lengkap dengan bongkar muat, sekaligus pelabuhan penumpang.
Karena padatnya kegiatan bongkar muat peti kemas dan pertumbuhan ekonomi yang terus tumbuh, permintaan akan tempat bongkar muat sangat besar, sehingga pelabuhan bongkar muat atau barang pindah ke pelabuhan peti kemas Karingau di kawasan Balikpapan Utara.
“Sejak aktivitas bongkar muat pindah pada dua tahunan lebih, sangat berpengaruh pada pendapatan yang diperoleh,” katanya saat beristirahat di terminal pelabuhan Semayang Balikpapan, Sabtu (17/6/2017).
Messa mengatakan saat aktivitas bongkar muat masih dipelabuhan Semayang, penghasilan atau pendapatan yang diperoleh mencapai Rp3 juta per bulan. “Saat itu sebulan bisa memperoleh Rp3 juta per bulan, bahkan lebih. Karena banyak yang diangkut. Sekarang berbeda bongkar muat barangnya sudah tidak padat, terkadang dalam sebulan tidak dapat. Lima bulan kadang-kadang hanya peroleh Rp500 ribu,” cerita pria yang sudah memiliki 3 anak.
Dengan berkurangnya aktivitas bongkar muat di pelabuhan Semayang karena pindah ke Kariangau, ia menyebutkan sejak tahun 2009 mulai beralih ke penumpang. “2009 saya mulai ke bantu angkat barang penumpang untuk tambah-tambah mencari makan. Di pelabuhan penumpang hasilnya tidak pasti kadang sehari bisa Rp100-200 ribu,” tandas pria asal Makasar.
Menurutnya, membantu mengangkat barang penumpang ke kapal tarifnya sesuai kemampuan penumpang. “Penumpang yang bayarnya sesuai kemampuan terkadang Rp30 ribu atau Rp50 ribu. Alhamdulillah tetap ada rezekinya, karena saya juga sudah tua,” ujar Messa.
Dia menambahkan uang yang diperoleh dari pekerjaannya sehari-hari sebagai TKBM sangat dinikmati karena bekerja dengan lhklas dan bertanggungjawab.
“Rezeki sudah ada yang ngatur, yang penting berusaha dan menikmati pekerjaannya dengan senang hati,” tutupnya.
Jurnalis: Ferry Cahyanti/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Ferry Cahyanti
Source: CendanaNews
