Rumah Kayu Pastoran Sikka, Berusia Lebih dari 1 Abad

SABTU, 1 APRIL 2017

MAUMERE — Rumah panggung dan berbahan dasar kayu di Kabupaten Sikka banyak dijumpai di pesisir pantai maupun di kampung-kampung, khususnya di wilayah barat di komunitas masyarakat etnis Lio.

Tampak depan bangunan rumah pastoran paroki St.Ignatius Loyola Sikka yang berbahan baku kayu.

Namun ada yang berbeda dengan bangunan rumah Pastoran Paroki St. Ignatius Loyola, Sikka, Desa Sikka, Kecamatan Lela, yang berjarak sekitar 30 kilometer arah barat Kota Maumere dan berada persis di bibir Pantai Selatan. Bangunan dengan warna dasar cokelat ini terlihat sangat menawan, meski lapang.

Bangunan dengan panjang sekitar 25 meter dan lebar sekitar 10 meter, ini semua materialnya berasal dari kayu jati. Di bagian dalamnya terdapat 3 buah kamar, sebuah ruang tamu dan juga ruang makan yang dilengkapi kamar mandi dan toilet. Kepada Cendana News di Kampung Sikka, Sabtu (1/4/2017) sore, Gregorius Tamela Karwayu, seorang sejarahwan, mengatakan, bangunan yang dibangun pada sekitar 1893 itu dahulu merupakan rumah panggung yang pernah digunakan sebagai sekolah bagi para pastor. “Rumah ini dibangun menggunakan kayu jati yang didatangkan dengan kapal  dari Pulau Jawa, oleh pastor-pastor Yesuit atau SJ dan dibangun hampir bersamaan dengan gereja tua Sikka,” ujarnya.

Baru beberapa tahun terakhir, kata Goris, sapaannya, pondasinya diganti semen sehingga lantainya pun memakai keramik. Bangunan ini mengalami rehab pertama sekitar 1952, dengan mengganti atap seng dengan genteng, karena pengaruh uap air laut membuat atap sengnya mudah berkarat.

Dijelaskannya, bangunan ini dibangun Pater Yohanes Engebelrs. Bangunan awalnya berbentuk panggung, sehingga kamar mandi dan toilet berada terpisah di bagian luar, dan setelah direhab sekitar 2000-an, kamar mandi dan toiletnya dibangun di bagian dalam. “Bangunan ini merupakan cikal bakal Seminari Mataloko, yang awalnya bernama Seminari Sikka sejak  Februari 1926 hingga Juni 1929. Setelah itu dipindah ke Mataloko, Kabupaten Ngada,” terangnya.

Gregorius Tamela Karwayu

Menurut Goris, seminari atau sekolah bagi calon pastor tersebut dipindah, karena dinilai tidak berkembang bagus, lantaran Kampung Sikka sangat kecil dan jauh dari Kota Maumere. Selain itu, air juga tidak ada dan harus dibawa dari Kampung Lela yang berjarak sekitar 3 kilometer arah barat Kampung Sikka.

Sony Kebupung, seorang arsitek muda asli Sikka yang juga dosen di Universitas Nusa Nipa, Maumere, kepada Cendana News, mengatakan, dahulu memang hampir sebagian besar bangunan di Sikka berbahan dasar kayu. Namun, saat ini sudah banyak yang diganti. Bangunan berbahan kayu itu lebih cocok untuk daerah Flores dan NTT, yang merupakan daerah panas atau tropis. Sebab bagian dalamnya akan terasa lebih dingin. Selain itu, juga lebih tahan gempa, mengingat Flores juga  merupakan daerah rawan gempa. “Saya salut dengan bangunan di gereja tua Sikka dan rumah pastoran, karena menggunakan kayu jati dan kayu ulin yang semakin lama semakin kuat, apalagi terkena panas,” ungkapnya.

Sony menambahkan, seharusnya bangunan di Sikka dan beberapa daerah lain di NTT yang memiliki cuaca panas, menggunakan bahan kayu. Namun harga beli kayu sangat mahal dan  bisa dua kali lipat dari nilai bangunan berbahan semen, sehingga sulit terjangkau kalangan bawah. Bahkan kelas menengah di Sikka. “Kalau zaman dahulu, hampir semua bangunan peninggalan Belanda dan Portugis menggunakan bahan baku kayu, bahkan atapnya dari sirap dan rumbia. Tapi, setelah itu mulai diganti dengan genteng, sebab susah dicari sementara kaca jendelanya menggunakan kaca patri,” katanya.

Meski atapnya sudah berganti, namun kaca jendela rumah paroki St. Ignatius  masih tetap sama. Sekeliling bangunan juga diberi pagar kayu setinggi sekitar satu meter, diselingi pagar tembok. Bangunan berbentuk segitiga ini ditopang oleh tiang-tiang kayu berjumlah 20 buah.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Lihat juga...