Sineas Muda Balikpapan, ini Raih Prestasi Internasional

KAMIS, 30 MARET 2017

BALIKPAPAN — Dalam satu dasawarsa terakhir, industri film nasional berkembang dengan baik, yang ditandai dengan kemunculan film-film Indonesia di kancah internasional, juga dari tingginya animo masyarakat menyaksikan film nasional, maupun kualitas film yang dihasilkan para sineas.

Abdul Rachman Rizky

Tingginya minat menonton film nasional tak lepas dari semakin beragamnya tema ataupun jenis film yang diproduksi. Saat ini, masyarakat tidak hanya bisa menyaksikan film dengan tema drama, roman ataupun horor. Para sineas telah berani membuat film laga, thriller, fiksi, maupun komedi. Namun, tak banyak sineas daerah yang dilirik para produser nasional, meski mereka tak kalah hebat dalam menampilkan cerita dalam layar.

Salah satunya, Abdul Rachman Rizky. Pria 30 tahun asal Kota Balikpapan ini pernah menjadi finalis di ajang Indonesia Short Film Festival (ISFF) 2015 dengan tema ‘Act on Climate Change’, yang diikuti oleh 27 Negara. Atas keberhasilannya, Rizky diundang ke The Gaumont Champs-Elysees Theater, Paris, Perancis.

Tahun lalu, karyanya terpilih sebagai finalis di acara Global Video Competition  Connect 4 Climate yang digelar di Maroko, dalam rangkaian kegiatan Conference of The Parties. Film karya Rizky berjudul ‘The Message’ bercerita tentang seorang anak yang berprofesi sebagai pemulung yang peduli terhadap keberadaan mangrove, terpilih sebagai finalis. Sebagai ganjaran, film pendek itu mendapat kesempatan pemutaran khusus (special screening) di Gedung World Bank, Washington DC. “Saat ini saya tengah menunggu informasi hasil Conference of The Parties (COP) ke-23 yang berlangsung di Hamburg, Jerman,” kata Risky, seraya menambahkan, jika keberhasilannya menjadi finalis di festival film berkelas internasional membuatnya semakin percaya diri untuk memproduksi film.

“Meski sampai saat ini tidak memperoleh materi di festival tersebut, namun saya cukup bangga bisa menghasilkan karya yang dinikmati masyarakat internasional, dari Maroko, Prancis, bahkan Amerika Serikat,” ungkap pria kelahiran 1986 itu saat ditemui, Kamis (30/3/2017).

Sejak 2011, Rizky telah memproduksi sedikitnya 25 film pendek dengan berbagai tema, termasuk laga, komedi, drama dan tema-tema sosial semi dokumenter. Menurutnya, banyak anak muda Balikpapan yang tertarik dan memiliki bakat di bidang ini. Sayangnya, mereka tak memiliki kesempatan dan wadah untuk mengekspresikan. Karena itu, pada 2012, Rizky dan dua sineas lain, Fajar Zen dan Dwi Fiker Elvitria, membentuk Komunitas Sineas Muda Balikpapan (KMSB).

“Dengan komunitas ini, saya berharap sineas Balikpapan dapat berbagi ide, sehingga dapat menghasilkan film orisinal, sesuai dengan realita, berkebebasan dalam karya dan mengedepankan kemandirian dengan mengacu norma masyarakat kita,” beber Rizky, yang memiliki impian dapat ikut serta memajukan perfilman di Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan. Dalam peringatan Hari Perfilaman Nasional tahun ini, ia berharap generasi muda mencintai dan suka menyaksikan film-film nasional.

Rizky juga menilai, perfilman Indonesia semakin membaik secara kualitas dan kuantitas. Saat ini banyak sineas yang peduli dan membuktikan Indonesia layak menjadi tuan di negeri sendiri. “Bangkitnya perfilman Indonesia juga harus tumbuh bersama para penontonnya,” katanya, yang hingga kini berharap memiliki kesempatan untuk menampilkan karya di layar-layar bioskop tanah air.

Jurnalis: Ferry Cahyanti/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Istimewa

Lihat juga...