Eksotisme Kota Lama, Tempat Favorit Syuting Film Tempo Dulu

JUMAT, 31 MARET 2017

SEMARANG — Siapa yang tak mengenal Kota Lama, kawasan seluas 31 hektar ini merupakan salah satu ikon sejarah Kota Semarang, sebanyak lima puluh bangunan dengan arsitektur Belanda berdiri kokoh menunjukkan keangkuhannya. 

Kawasan Kota Lama yang sering dijadikan syuting film berlatar belakang sejarah,

Kota Lama sendiri sering menjadi tempat syuting Film Nasiona seperti Soe Hok Gie (Nicholas Saputra, Wulan Guritno), Ayat-Ayat Cinta (Rianti Cartwright, Carissa Putri, Fedi Nuril), Tanda Tanya (Revalina S Temat, Reza Rahadian, Agus Kuncoro), Soekarno (Maudy Koesnadi, Ario Bayu), Sang Kyai (Christine Hakim, Agus Kuncoro, Adipati Dolken) dan masih adda beberapa lagi.

Desain bangunan yang kuno menjadikan Kota Lama dirasakan sangat pas untuk dijadikan tempat bagi pembuatan film yang mengambil setting percintaan, perjuangan dan akulturasi budaya.

Menurut pengamat Film dari Kelompok Fotografi Logawa Syaqib Asykar, saat ini di Indonesia memang jarang ditemui lokasi pengambilan film yang berlatar belakang bangunan historis, jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari, seperti Kota Tua di Jakarta dan Kota Lama di Semarang, sehingga tempat-tempat tersebut seringkali menjadi ‘hidangan’ wajib bagi sutradara saat melakukan proses syuting.

Gereja Blenduk, tempat syuting film paling populer di kota lama.

Apalagi bagi pria yang lebih akrab dipanggil Qiu tersebut, kawasan kota lama sampai saat ini masih terjaga kelestariannya di tengah pembangunan, letaknya pun dianggap strategis karena bersebelahan dengan Pecinan sehingga tidak membuat kru film yang bertugas menjadi kerepotan ketika merubah scene syuting.

“Yang harus diperhatikan adalah kesadaran masyarakat sekitar dalam menjaga kebersihan Kota Lama, karena di beberapa sudut saya melihat sampah berserakan dan aksi vandalisme di tembok,” terang Syaqib saat ditemui CDN (30/03/2017).

Lebih lanjut dirinya menjelaskan ada banyak spot yang biasanya menjadi tempat pengambilan film di Kota Lama, yang paling popular adalah Gereja Blenduk yang didirikan pada tahun 1753. Setelah itu Polder Tawang dan Stasiun Tawang. Saat syuting yang berkesan juga membuat pemeran Film kembali mengunjungi kawasan tersebut di kemudian hari.

Syaqib Asykar.

 Di Kesempatan terpisah, Andy Kusworo dari Komunitas Sinema Semarang menambahkan bahwa lokasi Kota lama sangat cocok dipakai untuk memproduksi film drama dan horror karena nuansanya yang klasik dan eksotis, tetapi sangat disayangkan bahwa perhatian pemerintah terhadap lokasi tersebut kurang maksimal, dirinya mempunyai pengalaman harus dihadapkan pada birokrasi yang berbelit-belit saat akan mengurus ijin syuting di lokasi tersebut.

“Pemerintah juga belum memberikan perhatian khusus yaitu dengan melakukan konservasi kota lama agar lebih nyaman dan indah,” tambah Andy yang telah memproduksi film Blind Date, Aku Punya Cinta Kamu Berani Bayar Berapa, Potehi, Lentera Teknologi, 100 Kesunyian, Djitoeng.

Senada dengan Syaqib dan Andy, sineas muda dari Winart Studio, Aditya Kukuh Wicaksono menambahkan bahwa Kota lama memang menjadi lokasi favorit untuk mengambil film berlatar belakang zaman dahulu, entah itu film nasional maupun film lokal. Banyak dari sineas-sineas kota Semarang juga membuat film Indie di sini.

“Selain film biasanya pemerintah rutin menggelar festival tahunan Kota Lama dimana dipamerkan barang-barang kuno yang antik,” ujar Aditya.

Dirinya berharap bahwa masyarakat dan pemerintah bisa menjaga salah satu warisan budaya tersebut demi perkembangan film di Indonesia.

Andy Kusworo.


Jurnalis: Khusnul Imanuddin/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Khusnul Imanuddin

Lihat juga...