SABTU, 4 MARET 2017
SOLO — Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Nusron Wahid menegaskan, pemerintah Indonesia akan berjuang semaksimal mungkin untuk Siti Aisyah, tersangka pembunuhan Kim Jong-nam. Ia juga menyakini, jika perempuan kelahiran Serang, 22 Februari 1992 itu merupakan korban dari dibalik kasus kematian kakak tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un.
![]() |
| Kepala BNP2TKI Nusron Wahid saat berkunjung ke Karanganyar |
“Intinya kita yakin jika Aisyah itu adalah korban penjebakan. Kita akan bela Aisyah habis-habisan,” ujar Nusron kepada Cendana News, disela kunjungan bersama ketua DPR RI Setya Novanto, di Karanganyar, Jawa Tengah, kemarin (3/3/2017).
Pembelaan pemerintah, lanjut Nusron, bakal dilakukan hingga Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tersebut mendapat kejelasan tidak dihukum mati. Meskipun, saat ini Siti Aisyah di dalam persidangan perdana di Malaysia telah diancam dengan hukuman mati. Selain itu, pemerintah juga telah memberikan bantuan hukum kepada perempuan 25 tahun tersebut.
“Pembelaan kita adalah sampai Siti Aisyah mendapatkan ampunan,” tekan dia.
Ditambahkan Nusron, selama ini dalam kasus luar negeri yang melibatkan TKI, pemerintah selalu menempatkan yang berkaitan sebagai korban. Dalam sidang lanjutan yang bakal digelar pada 13 April 2017 nanti, pemerintah akan semakin mencari peluang untuk bisa membebaskan Siti Aisyah dari hukuman mati.
“Sebelum sidang ke dua dilaksanakan, kita juga tengah berusaha berkomunikasi kepada pihak pemerintah dalam negeri, Pengadilan dan kepolisian Malaysia, untuk bisa membawa keluarga terutama ibunya Aisyah supaya bisa menjumpai di sana (Malaysia),” tambahnya.
Kendati tengah berusaha keras membela Siti Aisyah, Pemerintah Indonesia tetap menghormati proses hukum yang tengah berjalan di negeri Jiran tersebut.
“Termasuk, diperbolehkan tidaknya keluarga bertemu dengan Siti Aisyah. Ini tentunya juga harus mendapatkan izin dari Pemerintah dan pihak yang berkaitan di Malaysia,”pungkasnya.
Jurnalis : Harun Alrosid / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Harun Alrosid