Geluti Usaha Pembuatan Surjan, Martini Angkat Nama Desa Trirenggo

SABTU, 4 MARET 2017

BANTUL — Sebagai salah satu desa Damandiri Lestari, Desa Trirenggo, Bantul, memiliki begitu banyak potensi yang bisa dikembangkan. Seperti bidang kerajinan atau industri rumah tangga yang ada di desa ini, salah satunya adalah pembuatan baju adat Jawa yang biasa disebut Surjan. 
Martini menunjukkan salah satu baju surjan buatannya
Surjan sendiri merupakan baju tradisonal yang biasa digunakan laki-laki Jawa, dengan ciri berupa krah tegak, lengan panjang dan terbuat dari bahan kain lurik. Surjan konon pertama kali dikenalkan oleh Sunan Kalijaga sejak awal masa kerajaan Mataram Islam dan dikenal memiliki makna filosofis ajaran nilai-nilai Islam yang kental. 
Salah seorang pembuat atau pengrajin Surjan di desa Trirenggo Bantul adalah Martini (39). Warga Pasutan RT 01 Trirenggo, Bantul, ini sudah menekuni sejak 10 tahun silam. Awalnya, ia hanya membuat surjan untuk suaminya yang merupakan seorang dalang.
“Dulu awalnya suami yang minta dibuatkan. Kebetulan saya pernah kursus menjahit, jadi saya lalu mencoba membuatnya. Ternyata banyak teman-teman suami yang tertarik untuk ikut membuat surjan di tempat saya. Berawal dari mulut ke mulut, akhirnya usaha pembuatan surjan ini bisa berkembang,” katanya kepada Cendana eNws. 
Kini Martini mengaku menjadikan usaha pembuatan surjan sebagi pekerjaan utamanya. Ia kerap menerima pesanan dari berbagai kelompok kesenian, instansi pemerintah, perangkat desa hingga guru-guru sekolah. Umumnya baju buatannya digunakan untuk berbagai kegiatan seperti upacara adat, merti desa, hingga kegiatan seperti pernikahan. 
“Sejak adanya UU Keistimewaan DIY, banyak acara acara budaya yang digelar. Bahkan ada kewajiban pemakaian baju adat Jawa setiap hari tertentu di sejumlah instansi pemerintah ataupun sekolah. Sehingga otomatis membuat usaha pembuatan surjan ini berkembang cukup pesat sejak tiga hingga empat tahun terakhir,” katanya. 
Martini
Tak hanya melayani pembuatan surjan di sekitar wilayah Bantul, Martini mengaku juga melayani pesanan hingga ke luar daerah seperti Wonosobo, Jakarta, Lampung hingga Batam. Tak hanya sekedar baju, ia juga membuat dan menyediakan perlengkapan lain berupa kamus, sabuk hingga blangkon. 
“Dalam seminggu kadang bisa mendapat 15 pesanan, kalau ramai bisa sampai 60-an. Untuk harganya satu buah surjan yang polos sekitar Rp.135ribu, sedangkan yang bahannya dari lurik sekitar Rp.185ribu. Memang agak mahal dari surjan yang biasa ada di pasar-pasar, karena memang ini khusus untuk ageman. Bahannya juga beda,” katanya. 
Martini sedang membuat pola baju surjan
Selain melayani pembuatan surjan berdasarkan pesanan, Martini juga menyewakan baju surjan untuk berbagai kegiatan. Meskipun jumlahnya masih sangat terbatas. Ia mengakui salah satu kendala terbesar dalam mengembangkan usahanya adalah persoalan modal. 
“Sebenarnya sudah ada rencana mengembankan usaha ini. Saya juga sudah mulai ikut kursus membuat kebaya dan beskap. Namun memang kendalanya terbentur pada modal,” ungkap wanita yang masih membuka usaha di rumahnya ini. 

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...