Koleksi Buku Sastra di Perpustakaan Lampung Sangat Minim

SELASA, 21 MARET 2017
 
LAMPUNG — Hari Puisi Internasional yang jatuh pada 21 Maret nyaris tanpa gaung. Selain tidak banyaknya aktivitas yang berkaitan dengan puisi atau sastra, keberadaan buku-buku pendukung tentang sastra dan puisi di sejumlah perpustakaan masih sangat minim.

Enny Amaliah di acara gerakan mencintai perpustakaan di sebuah SMA.

Hal tersebut dibenarkan oleh Ketua Pengurus Daerah (PD) Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Lampung, Enny Amaliah. Ia menyebut, koleksi buku-buku sastra atau puisi di sejumlah perpustakaan desa, sekolah, perguruan tinggi maupun lembaga yang memiliki perpustakaan di Lampung, diakui Enny Amaliah, masih minim. Ia menyebut, dari berbagai kegiatan berkeliling (road show) melakukan sosialisasi tata kelola perpustakaan yang baik di sejumlah kabupaten di antaranya Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Lampung Tengah, Pesisir Barat dan beberapa kabupaten lain, ia menjumpai jumlah buku yang dimiliki sejumlah perpustakaan masih sangat minim.

“Jangankan mau mengklasifikasikan jenis buku apa yang ada di setiap perpustakaan, khususnya buku-buku sastra maupun puisi. Jumlah bukunya saja sangat kurang dengan fasilitas ruang perpustakaan tak memadai dan bahkan nyaris tak ada di beberapa sekolah yang pernah saya kunjungi di Lampung,” terang Enny Amaliah, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Pustakawan Indonesia Lampung saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (21/3/2017).

Ia menyebut, salah satu faktor utama kurangnya koleksi buku-buku di perpustakaan di antaranya ketika pengadaan atau pembelian buku-buku diprioritaskan buku-buku yang sesuai dengan silabus mata pelajaran kuliah di tiap jurusan. Artinya, kebutuhan buku-buku masih sebatas kebutuhan mahasiswa, pelajar atau dosen dalam perkuliahan atau menunjang kegiatan belajar-mengajar atau kegiatan perkuliahan. Jumlah ribuan buku yang ada di sebuah perpustakaan bahkan diakuinya masih akan sangat minim ditemui buku-buku bertema sastra atau puisi.

Hal yang sama juga diakui Enny Amaliah, bahwa di sejumlah lembaga pendidikan dari tingkat SD, MI, SMP, hingga SMA, pengadaan buku sama halnya di jenjang perkuliahan. Pengadaan buku buku yang dibeli merupakan buku buku teks/pelajaran sesuai jenjang sekolah masing-masing.

Di sisi lain, pada sejumlah perpustakaan daerah atau di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, baik level kabupaten hingga provinsi, umumnya memiliki koleksi buku cukup banyak. Namun, untuk porsi buku-buku sastra atau puisi bahkan terbilang bisa dihitung dengan jari atau sangat minim.

“Solusinya adalah saat akan proses pengadaan atau membeli buku sebagai kebutuhan perpustakaan sebaiknya pihak perpustakaan menyediakan permohonan atau request dari pembaca, pengguna, dan anggota perpustakaan,” tegas Enny Amaliah.

Dari permintaan pembaca, khususnya pecinta seni sastra, permintaan bisa diakomodir bersamaan dengan jenis di antaranya buku ilmu pengetahuan, buku fiksi, buku karya ilmiah maupun jenis buku lain. Hal tersebut bisa dilakukan, terang wanita yang juga dosen di salah satu perguruan negeri di Lampung tersebut, untuk mengetahui jenis buku yang banyak diminati para pembaca.

Formula, solusi atau teknik lain yang bisa dilakukan untuk menambah koleksi buku sastra dan puisi,  dianjurkan oleh wanita yang kerap berkeliling kabupaten menularkan virus literasi tersebut adalah dengan mengadakan kegiatan bedah buku dan menghadirkan pengarang buku sastra. Kegiatan meet and great with author dengan melibatkan penerbit buku, kegiatan membedah buku sastra, menghadirkan pengarang, pembacaan karya sastra berupa puisi akan semakin memperkenalkan fungsi dan manfaat buku sastra.

“Jika perlu para komunitas pecinta sastra bisa menggandeng pengarang, penerbit buku sastra dengan menggelar kegiatan menarik berupa one day on poetry atau satu hari satu puisi,” usul Enny Amaliah.

Langkah tersebut, beber Enny Amaliah, akan semakin memasyarakatkan karya-karya sastra, mengenal kekuatan puisi dalam zaman modern ini dengan penataan penampilan yang apik dan mengundang minat. Ia bahkan menyebut, masyarakat pembaca jika berada di lingkungan perpustakaan daerah yang umum atau perpustakaan sekolah akan begitu familiar dengan karya sastra dan juga mengenal sastrawan, penyair di Lampung, sekaligus memotivasi para pembaca untuk menghasilkan karya sastra bermutu.

Hal tersebut pun akan menjadi khazanah bermutu dan bisa menjadi bahan bacaan serta koleksi di perpustakaan yang selama ini masih sangat kurang akan bacaan sastra. Ia juga selalu mengingatkan agar para pemangku kebijakan dalam hal ini para kepala daerah bisa mengimplementasikan Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, khususnya pada pasal 23 ayat (6) jelas tertulis bahwa, penggunaan minimal 5 persen dana operasional sekolah (BOS) adalah untuk pengembangan perpustakaan sekolah.

“Jika semua kepala sekolah khususnya di Lampung melaksanakan amanat undang-undang tersebut, maka kita tidak akan pernah mendengar ada sekolah kekurangan buku koleksi perpustakaan,” terang Enny Amaliah.

Enny Amaliah sebagai pembicara di gerakan peningkatan kualitas perpustakaan.

Ia berharap, pengelolaan perpustakaan termasuk penyediaan buku-buku sastra dan puisi bisa semakin ditambah dan ditingkatkan. Sebab, selama ini, sebagian perpustakaan hanya menjadi sebuah sarana pendukung dengan keterbatasan fasilitas buku. Hal tersebut, diakui Enny, ia temui hampir di setiap kabupaten di Lampung atau sekitar 50 persen sekolah di Lampung belum memiliki perpustakaan.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...