Kelompok Nelayan di Manado Ekspos Hasil Kegiatan di Depan CTI-CFF

RABU, 1 MARET 2017

MANADO —University Partnership for Capacity Building Research Colaboration yang diikuti oleh enam negara yang tergabung dalam Coral Triangle Initiative (CTI-CFF) di Manado dimanfaatkan oleh kelompok nelayan Cahaya Tatapaan. Mereka menggelar pameran sebagai bentuk ekspos hasil kegiatan. 

Kelompok nelayan Cahaya Tatapaan bersama Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut Ditjen PRL- KKP Agus Darmawan

Ketua kelompok nelayan Cahaya Tatapaan, Sem Sembur menyebutkan, ekspos aktivitas kelompok Cahaya Tatapaan dalam mengelola perikanan dan wilayah tangkapnya tersebut digelar selama dua hari (28 Februari – 1 Maret 2017) di Kantor Regional CTI – CFF.

“Kami bangga bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini apa lagi hadir utusan dari enam negara yang ada di sekretariat CTI-CFF,”sebutnya.

Dia menjelaskan dalam pameran itu pihaknya mengekspos sejumlah hasil tangkapan dari kelompok nelayan, berupa ikan, cara melakukan penangkapan ikan tanpa menggunakan sianida atau bom ikan, mengukur jenis ikan yang ditangkap, serta melakukan cara membudidayakan kepiting yang dikelola langsung oleh kelompok nelayan Cahaya Tatapan. Beberapa metode yang dilakukan diantaranya praktek langsung serta dalam bentuk slide foto, video yang menjadi dokumenter kelompok Cahaya Tatapan.

“Tujuannya untuk memperkenalkan kepada perwakilan enam negara, kalau di Sulawesi Utara (Sulut) ada kelompok nelayan yang mandiri yang melakukan aktifitas secara tradisional, dengan mengelola hasil tangkapan untuk kesejahteraan kelompok nelayan dan masyarakat tanpa bantuan pemerintah,”sebutnya.

Menurut Sem, Cahaya Tatapaan beserta konsorsiumnya sebagai kelompok nelayan kecil dan tradisional, berkomitmen untuk berusaha mempertahankan kondisi wilayah tangkapnya dengan mengelola secara mandiri. Ia juga menyatakan siap untuk berkolaborasi dalam mendapatkan pendampingan dan penguatan kapasitas kelembangaan serta insentif sains untuk inovasi pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

Dikatakan, sejauh ini Cahaya Tatapaan mengelola wilayah tangkap di area zona tradisional Taman Nasional Bunaken dimana hasil tangkapan ikan diukur dan di timbang untuk melihat kesehatan karang dan produktivitas ikan.

“Tidak menggunakan alat tangkap yang merusak (sianida) serta mengatur waktu tangkapnya dimana dalam wilayah kelola terdapat kawasan larang ambil untuk perlindungan ikan bertelur,”sebutnya sambil menambahkan kelompok konsorsiumnya adalah Tuama Bahari yang sedang mengembangkan budidaya kepiting bakau serta Betlehem sebagai nelayan tangkap jauh/pelagis (Tuna).

Maskot Ikan Baronang Cahaya Tatapaan

Sem juga mengatakan, membangun perikanan yang mengakar dan berasal dari bawah (akar rumput) sebagaimana kelompok nelayan Cahaya Tatapaan akan diimplementasikan sejalan dengan pengembangan kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) yakni pelestarian terumbu karang, ketahanan pangan, dan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

Sementara itu, University Partnership for Capacity Building Research Colaboration diikuti oleh enam negara yaitu Indonesia, Filipina, Timur Leste, Malaysia, Papua New Guinea dan Kepulauan Solomon yang tergabung dalam Coral Triangle Initiative (CTI-CFF) dan digelar kantor sekretariat CTI-CFF di Manado.

Jurnalis : Ishak Kusrant / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ishak Kusrant

Lihat juga...