JUMAT, 3 MARET 2017
YOGYAKARTA — Upaya pemberdayaan masyarakat melalui program Desa Damandiri Lestari, dinilai penting sebagai upaya nyata mengurangi kesenjangan pembangunan ekonomi antara desa dengan desa lainnya, dan antara desa dengan kota. Namun, upaya itu juga harus diimbangi dengan langkah Pemerintah yang harus meredam terus merebaknya bisnis korporasi jaringan internasional.
![]() |
| Fuad Bawazier saat mendampingi Titiek Soeharto dalam pencanangan Desa Damandiri Lestari di Bantul |
Mantan Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VII era pemerintahan Presiden Soeharto, Fuad Bawazier, mengatakan, model pemberdayaan ekonomi seperti Desa Lestari yang dilakukan oleh 7 yayasan Pak Harto, sangat perlu dikembangkan, agar pelaku usaha mikro, kecil, menengah, tidak tersapu oleh model bisnis jaringan konglomerat internasional. Seiring dengan pemberdayaan masyarakat dari berbagai aspek itu, Pemerintah juga harus bisa mengerem laju bisnis jaringan internasional yang membanjiri Indonesia dengan usaha-usaha konsumen.
“Sekarang ini, banyak sekali usaha-usaha konsumen berjaringan. Satu usaha berjejaring itu membunuh puluhan warung-warung kecil. Kalau ini dibiarkan terus, pelaku usaha kita bisa tersapu bersih dan akhirnya hanya menjadi buruh semuanya,” jelas Fuad, saat ditemui di sela pencanangan Desa Damandiri Lestari di Desa Trirenggo, Bantul, Yogyakarta, kemarin.
Fuad mengatakan lagi, program desa lestari dengan pemberdayaan ekonomi, sosial, agama, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup, melalui pendampingan dan bantuan modal, merupakan upaya berkelanjutan yang harus dilakukan sungguh-sungguh. Upaya keberpihakan kepada rakyat kecil ini tidak bisa dilakukan hanya sekedar lipstick.
“Ketidak-adilan atau ketimpangan ekonomi di Indonesia saat ini berada di rangking keenam terburuk di dunia. Dan, program ini (desa damandiri lestari -red), adalah upaya mengurangi ketidak-adilan pembangunan ekonomi itu, yang harus dilakukan sungguh-sungguh. Jika ketidak-adilan itu dibiarkan terlalu lama, rakyat bisa marah,” pungkas Fuad.
Jurnalis: Koko Triarko/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Koko Triarko