JUMAT, 3 MARET 2017
MAGELANG — Terdengar dari sebuah rumah, suara kicauan burung melengking panjang. Tak lama kemudian, sang jantan mendekati indukan betina. Dengan sikap manja mereka memadu kasih tanpa menghiraukan pandangan orang-orang yang terkesima melihatnya.
![]() |
| Peternakan Love Bird |
Love Bird, memang tergolong spesies burung yang unik. Kesetiaan terhadap pasangannya tidak perlu diragukan lagi. Hingga meninggal, Love Bird hanya akan mempunyai satu pasangan saja. Menurut pembudi-daya Love Bird, Agus Prasojo (32), saat pejantan jatuh cinta, maka akan menaiki betina, setelah itu mereka berciuman selama kurang lebih 3 menit, baru kemudian terjadi proses perkawinan. Selain suaranya yang melengking, proses inilah yang menarik minat penggemar Love Bird.
Agus mengakui, ada banyak keuntungan jika ingin membudi-dayakan Love Bird, karena semua bagian dari burung tersebut laku untuk dijual. “Dari nama, warna hingga suara bisa mendatangkan keuntungan, apalagi jika sudah pernah memenangkan lomba,” terangnya, saat ditemui Kamis, (2/3/2017) di Desa Menayu.
Jika dipelihara dengan baik, umur Love Bird bisa mencapai 10 tahun lebih dengan masa produktif mulai 7 tahun. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, tergantung jenis dan suara yang dihasilkan. Love Bird termurah jenis Pastel dibanderol mulai Rp. 250-500.000, sementara rekor termahal dimiliki jenis Blorok yang dihargai Rp. 1 Juta untuk anakan, dan dewasa bisa mencapai Rp. 3 Juta.
![]() |
| Agus Prasojo, Pembudidaya Love Bird di Desa Menayu |
Sejak mulai membudi-dayakan pada 2005, Agus saat ini sudah mempunyai peternakan Love Bird di Purworejo dan Magelang, Jawa Tengah, dengan total 1.500 pasang burung. Dalam sebulan, ia bisa menerima lebih dari 10 permintaan dari Jakarta, Bandung, Samarinda dan Bali. “Bulan Januari dan Februari puncak orderan, karena di bulan-bulan itu banyak lomba,” tambah Agus, yang juga menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Desa Menayu.
Dalam 1 bulan, Agus bisa mengantongi keuntungan bersih Rp. 10 Juta. Karena laba yang diperoleh lumayan besar, ia kemudian mencoba untuk mengembangkan bisnis yang telah dilakoninya selama 12 tahun ini. “Awal mulanya memang saya coba-coba, tetapi setelah melihat pasarnya relatif stabil, saya fokus ke usaha burung ini,” katanya.
Untuk menjaga kualitas, Agus seringkali selektif dalam menakar komposisi makanan yang akan diberikan, walaupun perawatan Love Bird tergolong mudah. Saat ini, ia meracik sendiri makanan yang akan diberikan, untuk mencegah agar Love Bird tidak gampang stress. Cirinya adalah seringkali tidak merasa nyaman, tidak tenang dan cepat lemas. Selain itu, bulunya menjadi kusam dan gampang rontok.
Untuk mengatasi Love Bird yang stress, solusinya adalah kebersihan kandang harus dijaga. Di waktu-waktu tertentu, terutama saat hujan deras, kandang ditutupi terpal yang gelap, agar Love Bird bisa beristirahat. Jika tidak ada perubahan perawatan saat Love Bird stress, maka 2-3 minggu burung tersebut akan mati.
Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin
