Di Usia 14 Tahun, Halbiroen Sudah Ikut dalam Serangan Umum 1 Maret

RABU 1 MARET 2017

YOGYAKARTA —Peristiwa Serangan Umum 1 Maret tahun 1949  di Yogyakarta merupakan salah satu tonggak bersejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Lewat serangan heroik selama 6 jam inilah Indonesia mampu membuktikan kedaulatannya sebagai sebuah bangsa dan negara. Tak heran setiap tahunnya peristiwa Serangan Umum 1 Maret selalu diperingati dengan menggelar sejumlah kegiatan seperti upacara bendera di berbagai daerah di Indonesia. 

Halbiroen, saksi sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949.
Namun di mata salah seorang pelaku sejarah peristiwa tersebut, Halbiroen (82) warga Sendowo, Sinduadi, Mlati, Sleman, peristiwa Serangan Umum 1 Maret tahun 1949, merupakan sebuah perjuangan yang sangat berat dengan mempertaruhkan nyawa. Di usia yang masih sangat belia yakni 14 tahun, ia sudah harus ikut maju ke medan perang dan memanggul senjata.

Ditemui di sela kegiatan peringatan Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta, Halbiroen, mengaku saat peristwa itu terjadi ia tergabung dalam satuan Tentara Pelajar yang kemudian menggabungkan diri dengan satuan Wehrkreise III. Ia mengaku tergabung dalam Pos 4 yang dipimpin langsung oleh Komandan Brigade 10 Wehrkreise III Yogyakarta Letkol Soeharto.

“Saat itu saya masih umur 14 tahun. Memang masih sangat muda. Namun pada saat itu semua pemuda seusia saya memang sudah mulai ikut berperang,” katanya Rabu (01/03/2017).

Kakek 8 cucu ini mengaku ikut melakukan penyerbuan dari sisi sebelah barat untuk menyerang sasaran Istana Negara. Pukul 06.00 tepat ia menyerang bersama pejuang lainnya seusai mendengar suara sirine tanda berakhirnya jam malam. Merangsek melewati sungai Winongo, Halbiroen, menggambarkan begitu beratnya perjuangan para pejuang saat itu.

“Jangankan untuk menyerang, untuk bisa masuk ke wilayah Kota Yogyakarta saja kita harus bersusah payah dan berkorban nyawa. Banyak teman-teman saya yang gugur selama masa peperangan itu,” katanya.

Halbiroen menuturkan selama perang ia biasa membawa senjata berupa pistol dan granat. Namun ia mengatakan senjata itu tidak seterusnya ia gunakan seorang diri.

Keterbatasan senjata yang dimiliki pejuang Indonesia saat itu, membuat setiap pejuang harus menggunakan senjata secara bergantian. Tak sedikit pejuang yang ikut berperang tanpa membawa senjata api, kecuali hanya bermodal bambu runcing.

“Dalam satu kelompok kecil sebanyak 13 orang itu hanya ada 4 senjata api. Sehingga setiap pejuang harus menggunakan senjata itu secara bergantian,” katanya.

Meski tak sempat mengalami luka selama peperangan, Halbiroen, mengaku pernah ditangkap oleh tentara Belanda. Bersama 3 orang kawannya dia kemudian dibawa ke Pangkalan Militer Udara Maguwo yang telah dikuasai Belanda.

“Beruntung saya bisa melarikan diri pukul setengah tiga pagi. Karena setelah itu banyak pejuang lain yang tertangkap akhirnya dieksekusi dan ditembak mati,”, katanya.

Mengingat beratnya perjuangan melawan penjajah saat itu, Halbiroen berharap agar generasi penerus yang ada saat ini dapat lebih serius dalam mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif. Salah satunya adalah dengan tidak menggunakan narkoba dan mengkonsumsi minuman keras.

“Jaman dulu itu hidup susah. Bertaruh nyawa. Tapi sekarang justru malah banyak anak  muda yang pakai narkoba dan mabuk-mabukan. Itu harus dihindari, ” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...