SELASA, 14 MARET 2017
LAMPUNG — Beberapa perempuan terlihat memasukkan butiran butiran kedelai yang sudah direbus dan diberi ragi ke dalam bungkusan daun pisang dan awar awar dengan tali pelepah pisang kering sebagai penguat. Sebanyak lima perempuan yang merupakan satu anggota keluarga diantaranya anak, menantu yang sejak pukul 04:00 WIB sudah melakukan proses perebusan menggunakan bahan bakar kayu untuk mematangkan kedelai.
![]() |
| Proses pembuatan tempe |
Produksi tempe di Dusun Bangunrejo Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan tersebut merupakan usaha rumahan milik mbok Nyatun (64) yang merupakan generasi kedua dari mbah Jokarmo (Alm) yang turun temurun melakukan produksi tempe bungkus daun pisang dan daun awar awar.
Mbok Nyatun mengaku meneruskan usaha sejak tahun 1990 dan mulai membuat dengan dua jenis, mendoan dan tempe sayur. Masing-masing memiliki karateristik berbeda, dimana mendoan dibuat melebar berbentuk bulat sementara untuk tempe sayur berbentuk kotak dengan sama-sama berbungkus daun pisang.
“Setiap hari proses pembuatan dimulai sejak subuh dari mulai proses perebusan dan didinginkan untuk selanjutnya diberi ragi selanjutnya dibungkus sejak pagi hingga sore karena mencapai ratusan bungkus,”ungkap Mbok Nyatun saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses pembungkusan tempe bungkus daun pisang bersama beberapa pekerja di Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang, Selasa (14/3/2017)
Sejak pagi hingga siang, Mbok Nyatun mengaku membuat mendoan sebanyak 700 bungkus sementara untuk tempe sayur dibuat sebanyak 800 bungkus. Dalam sehari rata rata tempe yang dibuat mencapai 25 kilogram atau sebanyak 100 kilogram sepekan. Proses pembuatan dilakukan selama empat hari pada hari Selasa, Rabu, Sabtu dan Minggu karena pada hari Senin dan Kamis Mbok Nyatun melakukan penjualan tempe di pasar tradisional Sripendowo.
![]() |
| Mbok Nyatun |
Untuk bahan baku, rata rata perbulan menghabiskan lima kuintal untuk membuat tempe dengan harga Rp750ribu per kuintal atau Rp7500 per kilogram. Jutaan bungkus tempe yang telah selesai dibuat selanjutnya dibeli oleh konsumen diantaranya pemilik warung sekolah, penjual gorengan serta ibu rumah tangga serta konsumen lain diantaranya pemilik warung. Konsumen untuk dijual kembali tersebut rata rata mengambil tempe bungkus daun pisang yang belum jadi dengan jumlah mencapai 50 bungkus dengan harga Rp4 ribu per sepuluh bungkus. Sementara ditingkat konsumen langsung dijual dengan harga Rp5ribu persepuluh bungkus.
Tempe Daun Pisang Dijual Hingga Kecamatan Lain
Produksi tempe yang dijual ke sejumlah pedagang tersebut menurut Mbok Nyatun bahkan dibeli rata rata oleh pemilik warung yang mengambil langsung saat siang dan sore hari untuk dijual kembali. Bahkan beberapa penjual eceran berasal dari beberapa kecamatan lain di wilayah Lampung Selatan dan sebagian dibeli oleh pedagang lokal Ketapang. Ia menyebut tingkat keawetan tempe bungkus daun pisang bisa mencapai lima hari dibandingkan tempe bungkus plastik yang hanya bertahan tiga hari.
Mbok Nyatun mengaku dari hasil pembuatan tempe tersebut berhasil menyekolahkan sebanyak lima anaknya yang empat diantaranya perempuan dan satu laki laki. Sebagian anaknya juga mulai meneruskan keahlian membuat tempe daun pisang yang banyak digemari masyarakat di wilayah tersebut.
“Meski proses poduksi tempe sangat sederhana namun hasil yang diperoleh digunakan untuk keperluan sehari hari dan selanjutnya untuk modal membeli kedelai lagi”ungkap Mbok Nyatun.
Wanita yang tinggal sebagai janda bersama anak anaknya tersebut mengaku menggunakan modal sendiri tanpa mengandalkan modal pinjaman meski usaha kecil tersebut membutuhkan modal Rp3.750.000 setiap bulannya. Ia juga mengungkapkan meski menekuni usaha tradisional tersebut bisa memberi penghasilan bagi anak anaknya, ikut membantu bagi para penjual gorengan serta mendukung sektor usaha bidang usaha kecil. Ia juga mengaku belum pernah mengajukan kredit mikro untuk pembuatan tempe.
Muriah (37) anak nomer empat Mbok Nyatun mengaku sudah membantu proses pembuatan tempe sang ibu sejak belasan tahun lalu. Muriah bahkan menjadi satu satunya anak yang mewarisi keahlian membuat tempe kedelai tradisional dengan bungkus daun pisang yang bisa diperoleh dari kebun miliknya.
“Kalau jenis daun pisang masih bisa diperoleh ditambah daun awar awar terkadang daun jati saat daun pisang langka”ungkap Muriah.
![]() |
| Proses pembuatan tempe |
Meski bekerja di sektor usaha tradisional pembuatan tempe diakuinya masih menjadi mata pencaharian pokok bagi keluarganya yang dikenal sebagai keluarga pengrajin tempe. Bahkan keluarganya yang berada tak jauh dari kantor kecamatan tersebut dikenal sebagai pengrajin tempe tradisional bungkus daun pisang.
Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

