SEMARANG—Untuk mewujudkan Semarang bebas sampah 2020, pemkot Semarang akan mencoba teknologi yang ramah terhadap lingkungan. Menurut Sekertaris Daerah Kota Semarang, Adi Tri Hananto, saat ini jumlah sampah yang dihasilkan di Kota Semarang mencapai seribu ton perhari. Untuk pengelolaannya ditampung TPA sebanyak 850 ton sementara sisanya dikelola oleh bank sampah.
![]() |
| Sekertaris Daerah Kota Semarang, Adi Tri Hananto. |
“Sampah yang didaur ulang berasal dari 16 kecamatan dan 177 kelurahan yang ada di Semarang,” ujar Adi saat dikonfirmasi CDN di Balai Kota Semarang (06/03/2017)
Sebelum bekerjasama dengan Denmark, Pemkot juga sudah menggandeng Prancis untuk menjalankan program Eco Distrik yang diinisiasi oleh Kementerian PU pada 2016. Eco District juga merupakan salah satu upaya untuk menerapkan delapan atribut Kota Hijau ke dalam dokumen perencanaan tata ruang, sebagai dasar kebijakan pembangunan perkotaan.
Sedangkan untuk pengawasan pengelolaan sampah pemkot juga akan membentuk kelompok masyarakat peduli lingkungan (KMPL).
Lebih lanjut Adi menegaskan bahwa di musim hujan seperti sekarang ini pengelolaan sampah menjadi sesuatu yang mendesak mengingat banjir adalah masalah klasik yang harus dihadapi dihadapi di Semarang. Peran serta masyarakat dalam menjaga kebersihan terutama di aliran sungai akan sangat membantu kinerja Pemkot untuk mengatasi banjir.
Koordinator Komunitas Semarang Resik, Slamet Hariadi mengatakan bahwa perkembangan industri yang tidak terkendali selalu menjadi masalah di kota besar, apalagi daerah Semarang kontur tanahnya lebih rendah dari lautan sehingga pelestarian kawasan perbukitan menjadi prioritas yang patut diutamakan.
Dirinya juga menyarankan bahwa pemerintah jangan sampai tergiur oleh iming-iming investasi jika daerah yang akan diincar oleh para investor adalah daerah dengan kawasan hijau.
“Gunungpati dan Mijen adalah kawasan penyangga resapan air, Pemkot Semarang harus memproteksi agar jangan sampai induastrialisasi masuk ke daerah tersebut,” tegasnya.
Industrialisasi memang bisa menguntungkan karena akan menyerap tenaga kerja, tetapi akibat negatifnya adalah pohon-pohon akan ditebang karena akan dijadikan bangunan, otomatis jika bangunan tersebut telah jadi banyak orang yang akan menempati sehingga sampah yang dihasilkan juga semakin banyak.
![]() |
| Koordinator Komunitas Semarang Resik, Slamet Hariadi. |
