Pentingnya Lahirkan Generasi Indonesia Peka Sosial dan Santun Berbahasa

SELASA, 21 FEBRUARI 2017
 

SOLO — Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 21 Februari, Forum Komunikasi Tim Ahli Pendidikan dan Kebudayaan (FK-TADIKBUD) Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS) menggelar seminar bertema Pendidikan dan Kebudayaan dalam Perspekstif Sosial, Bahasa dan Budaya Berkelanjutan.

Suasana seminar dalam rangka Hari Bahasa Ibu Sedunia.

Tujuan dihelatnya seminar yang disertai diskusi kerja bareng dengan UPT Perpustakaan UNS  untuk memaparkan dan menghimpun gagasan para ahli pendidikan, bahasa, dan kebudayaan.  “Out putnya adalah memberikan masukan dan saran kepada pemerintah selaku pengambil kebijakan khususnya dalam bidang pendidikan, bahasa, dan kebudayaan,” ungkap Koordinator Kegiatan Dr. Muhammad Rohmadi  di sela kegiatan  yang digelar di ruang sidang Nakula Lantai 2, Perpustakaan UNS, Selasa (21/2/2017).

Dikatakan Rohmadi,  pendidikan dan kebudayaan menjadi masalah bangsa Indonesia saat ini. Sebab, kekuatan utama untuk membangun negeri adalah sumber daya manusia yang memiliki keunggulan kecerdasan otak maupun kesantunan dalam berbudaya dan berbahasa. Menurut dia, keunggulan sumber daya manusia Indonesia harus dibekali kecerdasan, kepekaan sosial, karakter, dan kesantunan dalam berbahasa.

“Falsafah Jawa, ajining diri gumantung ing lati yakni harga diri seseorang bergantung tutur katanya. Ajining raga gumantung ing busana, harga diri manusia bergantung pada penampilan/pakaiannya. Nilai-nilai falsafah Jawa yang luhur dalam bidang pendidikan tersebut harus terus ditanamkan kepada generasi muda sebagai calon-calon pemimpin bangsa agar memiliki kepekaan sosial, budaya, dan kesantunan dalam berbahasa,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, nilai-nilai pendidikan yang harus ditanamkan sejak dini adalah berbasis nilai sosial, bahasa, dan budaya. Melalui langkah strategis itu mampu membentuk sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Yakni melalui pendidikan karakter yang wajib diimplementasikan pada pendidikan PAUD, sekolah dasar, menengah, dan perguruan tinggi.

“Oleh karena itu, peran pemerintah untuk hadir dalam pendidikan guna mencerdaskan anak bangsa harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Tentunya dengan dilakukan evaluasi pada perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan tindak lanjut dalam bidang pendidikan dan kebudayaan,” imbuh Rohmadi.

Selain itu, peran serta semua elemen masyarakat baik ahli pendidikan, bahasa, dan kebudayaan harus turut serta secara aktif  memberikan kontribusi untuk kemajuan dan kejayaan pendidikan di Indonesia. Ke depan, lahirnya generasi Indonesia yang unggul dan berkarakter bisa memiliki kepekaan sossial, berbudaya, dan santun dalam berbahasa. Bukan hanya sebagai impian, namun telah terealisir secara nyata. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber baik pakar ilmu komunikasi dan sosial, pakar bahasa dan maupun budaya Jawa  dari UNS.

“Melalui  Hari Bahasa Ibu Sedunia, kita harapkan tidak hanya Indonesia tapi negara lainnya terus mengedepankan kesantunan dalam berbudaya maupun berbahasa,” pungkasnya.

Jurnalis: Harun Alrosid / Editor: Satmoko / Foto: Harun Alrosid

Lihat juga...