YOGYAKARTA—Seluruh sekolah tingkat SMP di DIY mengelar simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di sekolah masing-masing Senin (27/02/2017) hari ini. Masih terdapat banyak kendala dalam proses persiapan UNBK untuk pertama kalinya ini. Baik itu terkait sarana prasarana, SDM atau tenaga ahli hingga kesiapan para siswa sendiri.
![]() |
| Suasana simulasi UNBK di SMPN 15 Yogyakarta. |
Koordinator UNBK SMPN 15 Yogyakarta Totok Widi Darmanto, menyebutkan selama ini pihak sekolah hanya memiliki sebanyak 21 unit komputer. Sebagian bahkan telah rusak dan memiliki spesifikasi yang tidak mendukung untuk menggelar UNBK.
“Karena tidak memiliki perangkat cukup, kita lalu diberikan bantuan komputer oleh dinas sebanyak 115 unit. Namun jumlah itu masih belum cukup. Sehingga pihak sekolah masih harus mencukupi kekurangan jumlah komputer. Bahkan kepala sekolah sampai mengeluarkan uang pribadi,” ujarnya Senin (27/02/2017).
Tak hanya itu, sejumlah orang tua murid melalui komite sekolah juga turut membantu pihak sekolah dengan meminjamkan sejumlah perangkat laptop untuk pelaksanaan simulasi UNBK ini. Terdapat sedikitnya 20 laptop yang dipinjami sejumlah orang tua siswa kepada sekolah.
“Total kita membutuhkan sebanyak 180 perangkat komputer untuk bisa melaksanakan UNBK dalam 2 sesi. Saat ini memang masih kurang, namun saat ujian nanti mudah-mudahan jumlah tersebut bisa terpenuhi, baik dengan pengadaan atau pinjaman dari orang tua siswa,” ujarnya.
Tak hanya perangkat komputer, pihak sekolah juga harus menambah jumlah daya listrik untuk bisa menggelar UNBK. Mereka juga harus menyewa genset dalam simulasi serta sebagai cadangan saat UNBK berlangsung nantinya.
“Ruangan untuk pelaksanaan ini juga baru selesai dibangun. Semua perangkat seperti meja untuk komputer, termasuk instalasi jaringan kita siapkan semua demi bisa menggelar UNBK. AC ruangan juga belum ada. Karena memang selama ini ruang praktek pelajaran TIK hanya menggunakan ruang kecil saja,” katanya.
Memanfaatkan 3 ruang untuk menggelar UNBK, yang terbagi sebanyak 115 komputer di ruang utama, dan 28 komputer di 2 ruang lainnya, pihak sekolah membutuhkan 6 orang proktor serta 6 orang teknisi server. Padahal jumlah teknisi maupun guru TIK yang dimiliki pihak sekolah sendiri masing-masing hanya berjumlah 2 orang.
“Karena kurang kita akhirnya menunjuk guru biasa yang paham komputer untuk menjadi teknisi maupun proktor. Namun mereka hanya membantu, yang utama tetap dipegang oleh 2 orang teknisi dan 2 orang guru TIK tadi,” katanya.
![]() |
| Koordinator UNBK SMPN 15 Yogyakarta Totok Widi Darmanto, |
Wakil Kepala Sekolah SMPN 15 Yogyakarta, Sukoco, mengakui pelaksanaan UNBK bagi semua sekolah termasuk SMP memang cukup membebani. Hal itu terjadi karena pihak sekolah harus menyiapkan semua kebutuhan khususnya terkait peranggkat atau fasilitas pendukung dengan biaya yang tidak sedikit.
“Sebenarnya menjadi beban bagi sekolah. Namun karena sudah menjadi kebijakan ya mau gak mau harus kita lakukan. Semua sekolah juga mengalami,” katanya.
![]() |
| Wakil Kepala Sekolah SMP N 15 Yogyakarta, Sukoco. |

