RABU, 15 FEBRUARI 2017
PONOROGO — Kasur yang bahan bakunya berasal dari kapuk ternyata masih diminati oleh masyarakat. Hal ini terbukti, para pembuat kasur kapuk di Desa Bajang, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, masih eksis hingga saat ini. Meski sekarang sudah mulai tergeser dengan keberadaan kasur busa, minat masyarakat membeli kasur kapuk masih banyak. Kapuk merupakan hasil dari tanaman pohon randu yang banyak tumbuh di Ponorogo.
![]() |
| Mbah Cepluk. |
Salah satu pembuat kasur kapuk, Mbah Cepluk (65) misalnya, mengaku, setiap harinya mampu memproduksi tiga buah kasur kapuk dibantu oleh enam orang karyawannya.
“Ada empat jenis kasur yang kami produksi, tergantung pemesan inginnya yang seperti apa,” jelasnya kepada Cendana News saat ditemui di rumahnya, Rabu (15/2/2017).
Empat jenis kasur yang diproduksi di rumah Mbah Cepluk, yakni kasur dengan ukuran 1,5 meter dijual dengan harga Rp 270 ribu, ukuran 1,25 meter dijual dengan harga Rp 250 ribu, ukuran 1 meter dengan harga Rp 210 ribu, dan jenis kupu tarung dijual dengan harga Rp 280 ribu.
“Kalau yang tebal harganya beda lagi bisa sampai Rp 1 juta juga,” ujarnya.
Kasur kapuk buatan Mbah Cepluk ini dinilai paling ekonomis, karena menurutnya, kasur buatannya juga mampu bertahan hingga bertahun-tahun berbeda dengan kasur busa yang mudah kempes.
Nenek tujuh orang cucu ini menambahkan, usaha pembuatan kasur kapuk ini sudah dilakoninya sejak 10 tahun lalu. Selain Mbah Cepluk, ada tiga orang warga Desa Bajang juga memproduksi kasur kapuk di rumahnya.
“Pesanan paling ramai kalau pas mau Lebaran saja, selebihnya tiap bulan sekali saya baru kirim ke Pacitan, karena pelanggannya berasal dari sana,” cakapnya.
Ditanya terkait bahan baku pembuatan kasur kapuk, ibu empat orang anak ini mengaku tidak kesulitan.
“Kapuknya ambil dari Kecamatan Slahung, per kilogram dihargai Rp 3 ribu,” tuturnya.
Proses pembuatan kasur kapuk terbilang mudah. Pertama kapuk dijemur hingga kering kemudian kapuk tersebut dibersihkan dengan cara diblower dalam mesin untuk memisahkan antara kapuk dengan biji kapuk. Kemudian kain sesuai ukuran yang diinginkan dijahit dan dibentuk cuki atau pentolan. Setelah itu diisi dengan kapuk hingga penuh dan dijahit lagi hingga empat kali.
![]() |
| Mbah Cepluk (paling ujung) saat memproduksi kasur kapuk di rumahnya. |
“Selain membuat kasur, saya juga bisa membuat bantal,” pungkasnya.
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti
