Citayam Tidak lagi Sebuah Desa (2) Kisah Sampah tak Bertuan

KAMIS 23 FEBRUARI 2017
CITAYAM—Pesatnya pertumbuhan penduduk di Jakarta memberikan dampak bagi daerah-daerah di sekitarnya. Bekasi, Tangerang, Depok, Bogor, maupun Citayam. Citayam. Sebetulnya hanya “sebuah desa” di antara Depok, Cibinong, Bogor dan Parung. Desa ini masuk dalam wilayah Kabupaten Bogor. Namun justru di “desa”  ini terdapat perumahan-perumahan di mana sebagian besar penghuninya bekerja di luar Jakarta. 
Salah satu sudut Citayam yang menjadi Tempat Pembuangan Sampah,
  
Salah satu perumahan yang cukup lama adalah perumahan Departemen Agama di Jalan Raya Citayam. Seiring berjalannya waktu berdiri Komplex LIPI  dan  Perumahan Taman Raya Citayam dan Komplex Perdagangan merupakan perumahan padat penduduk yang terletak jauh dari pusat keramaian.Tiga perumahan ini  dapat diakses melalui satu gang kecil, Gang Langgar yang terletak di Jalan Raya Citayam-Bojong. 
Ketiganya berbatasan dengan sungai Ciliwung di sebelah Timur. Daerah ini menjadi lokasi yang strategis ketika jembatan penghubung yang menghubungkan Bojong Gede dan Cibinong dibangun. Jembatan ini merupakan satu akses menuju Jalan Raya Tegar Beriman yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bogor. Ketiganya  menjadi strategis karena memiliki aksesibilitas yang cukup mudah enuju Stasiun Citayam.
Akibat perkembangan pemukiman (dari pendatang)  membawa perubahan baik positif maupun negatif bagi lingkungan Citayam. Gang Langgar contohnya, tempat ini disebut gang Langgar karena ada satu langgar di situ. Dua puluh tahun lalu merupakan daerah yang wingit (daerah angker), pasalnya dahulu masih banyak hutan bambu di kanan-kiri-nya.
Situasi ini menjadi tambah menyeramkan karena kontur tanah di gang Langgar merupakan kontur perbukitan, ada bagian menanjak, dan ada yang menurun. Sehingga melalui daerah ini menjadi menakutkan bak dalam film horor.
Namun Dalam sepuluh tahun belakangan, hutan bambu sudah mulai beralih fungsi menjadi kompleks perumahan, dan kavling-kavling. Dari hasil pantauan Cendana News, sudah  ada dua perumahan, tiga mini market, dan satu kompleks sekolah.“Dulu mah sepi” kata Boy Kelana (53), pemilik sebuah toko material yang letaknya tidak jauh dari gang langgar.
Boy mulai membuka usaha toko material di daerah ini sejak tahun 1993. Hingga saat ini Gang Langgar sudah tidak wingit seperti dahulu. Menurut penuturan pria itu, dua puluh tahun lalu, di gang langgar sudah sepi menjelang maghrib. Namun saat ini aktivitas Gang Langgar bisa mencapai pukul sembilan malam di hari kerja, “Jika akhir pekan  keramaian berlangsung hingga  lebih malam,” ujarnya.
Dari hasil pantauan Cendana News, sekalipun sudah banyak perumahan namun masih ada kesejukan di daerah ini, karena masih ada beberapa wilayah yang masih asri sebagai hutan bambu. Hawa di daerah ini tidak se-menyengat Depok. Dalam beberapa kesempatan, masih turun kabut tebal di daerah ini.
Kebiasaan Buruk
Dengan munculnya perumahan di “desa” yang strategis menghadirkan pendatang-pendatang baru dari luar daerah Jabodetabek. Pendatang ini bekerja di sejumlah tempat di    Jakarta-Citayam. Sayangnya perubahan demografi yang terjadi memberikan dampak buruk. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan warga membuang sampah bukan pada tempatnya. Salah satu titik tempat pembuangan sampah adalah di Jalan Tiang Dua, akses menuju Stasiun Citayam atau lebih dikenal dengan nama Kampung Plered.
Kebiasaan buruk ini mengundang keprihatianan berbagai pihak. Di antaranya Dena Fijanatin Alya, Ketua komunitas GANDEWA mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menilai kebiasaan itu dari sudut pandangnya sendiri. “Mungkin mereka tidak membayar iuran sampah, atau tidak ada tempat sampah di rumahnya,” ucapnya dengan nada kecewa. 
Bagaimana dengan kebiasaan masyarakat asli Citayam? Cendana News mengunjungi pemukiman yang bersebelahan dengan perumahan Taman Raya Citayam. Di sana tinggal Keluarga Alm. Haji Somad merupakan warga asli Citayam turun temurun. Saat ini anak-anak Haji Somad sudah terpencar ke beberapa daerah di Citayam.  Orang asli Citayam punya kebiasaan yang baik  terhadap lingkungan, Mereka memiliki satu tempat khusus untuk membakar sampah rumah tangga, “Biasanya sih dibakar mas!” ujar Ridwan, cucu dari Haji Somad.
Keluarga ini biasa membakar sampah anorganik, dan sampah sampah organik seperti batang daun, atau kulit buah, dijadikan makanan ternak. Meskipun setiap hari, mamang nya selalu mengarit rumput untuk makanan ternak. Dari hasil pantauan tersebut, saya rasa kecil kemungkinan apabila warga asli Citayam yang membuang sampah sembarangan, dan kecil kemungkinan juga warga pendatang yang mebuang sampah sembarangan.
Sebetulnya  dalam satu minggu, selalu ada mobil truk dari Dinas Kebersihan Kabupaten Bogor yang menarik sampah-sampah di daerah perumahan, namun masih banyak orang yang membuang sampah di pinggir rel, di antara di dekat  Kampung Plered.  Hingga beberapa waktu silam warga kampung Plered membersihkan sampah-sampah tersebut dan memberikan satu ultimatum berupa tulisan yang ditulis tangan pada sebuah papan.
Sangat menyedihkan apabila ke-asrian desa di tengah kota ini tercemar oleh limbah rumah tangga yang dibuang oleh oknum-oknum warga yang tidak bertanggungjawab.  Sayangnya hingga saat ini sulit dietahui kalangan mana pelaku pembuangan sampah. Apalagi tempat yang menjadi tempat pembuangan sampah memang menjadi tempat lalu lalang orang karena akses terecpat ke stasiun.  Selain itu di sekitarnya banyak tanah tak bertuan.  Maka sampahnya pun menjadi tak bertuan. (Bersambung)
Baca:
Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Yohannes Krishna Fajar Nugroho
Lihat juga...