RABU, 22 FEBRUARI 2017
JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Dua tahun lalu, warung Nasi Pecel Blitar, milik Nurul Widayati di Jalan Raya Ceger hanya menempati sisi waralaba ternama ibukota yang ada di ruas jalan tersebut. Nasi pecel standar rasa dan penyajian, begitulah kelas Nasi Pecel Blitar Mbak Nurul, kala itu.
| Warung Nasi Pecel Blitar Mbak Nurul |
Awal 2014, Nurul bertemu Heri Haryadi, Manager Tabur Puja yang sedang mengawali pembentukan Posdaya Bahagia, RW 01, Ceger, Jakarta Timur, bersama tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Trilogi Jakarta. Adalah Sekretaris Posdaya Bahagia, Yana Fajriana, yang kerap membawa Nurul untuk pertemuan kegiatan pemberdayaan yang dilakukan Posdaya di wilayah RW 01, Ceger.
Ketika ada pameran kuliner di Universitas Trilogi, Nurul dan ‘Nasi Pecel Blitar’ ikut ambil bagian. Beragam keahlian memasak Nurul dituangkan menjadi masakan-masakan lezat. Tapi, ternyata lezat itu relatif jika berkaitan dengan lidah banyak orang. Masakan, menu dan penyajian Nurul akhirnya menjadi perhatian pengurus Posdaya. Perlahan, pengurus mulai mendekati Nurul lebih intens untuk melakukan pembinaan mengenai menu masakan dan cara penyajian agar lebih mengundang selera.
“Awalnya, saya memang banyak dibantu pengurus Posdaya mengenai menu masakan dan cara penyajian. Menurut mereka, saya punya potensi bisa punya restoran besar, dan saya ikuti saja arahan pengurus agar lebih baik lagi,” kenang Nurul, kepada Cendana News, di Posdaya Bahagia, RW 01 Ceger, Senin (20/2/2017).
Untuk memberdayakan anggotanya, pengurus Posdaya Bahagia selalu berdiskusi dengan LPPM Universitas Trilogi. Nurul mendapat perhatian dari LPPM melalui Ibu Ludwina, dan LPPM Universitas Trilogi resmi melakukan pembinaan berkelanjutan terhadap Nurul sejak awal 2015. “Sambil terus menjalankan warung nasi pecel Blitar, saya rutin diundang ke Universitas Trilogi untuk mengikuti pelatihan mulai dari cara memasak, pemilihan menu, bahkan lebih jauh sampai bagaimana membuat katering yang enak, menentukan pasar, sekaligus cara memasarkan katering itu,” tutur Nurul, melanjutkan.
Setelah sekian lama mendapatkan pelatihan, muncul 5 menu andalan untuk usaha Nurul, yakni Nasi Pecel Blitar sebagai menu andalan, ditambah Nasi Rawon, Nasi Soto, Ayam Bakar dan Ayam Bakar Tulang Lunak. Dengan modal pelatihan-pelatihan dan pantauan langsung Ibu Ludwina dari LPPM Universitas Trilogi ke tempat usahanya, Nurul mengalami kemajuan pesat.
| Nurul Widayati |
Pelanggan Nurul semakin banyak, karena kelezatan, penyajian makanan serta sensasi rasa yang memikat setiap lidah pelanggannya. Nurul banyak dilatih untuk menggabungkan menu-menu modern dengan menu masakan khas nusantara. Bahkan, menentukan mangkok untuk penyajian soto yang membangkitkan selera juga sudah mulai mengubah wajah usaha warung makannya.
Dari omset hanya Rp. 800.000-Rp. 1 Juta per hari, Nurul bisa tembus hingga Rp. 2 Juta, bahkan lebih. Keuntungannya juga luar biasa, tidak jarang Nurul pendapatan bersih Nurul mencapai Rp. 1 Juta per hari. Minuman dingin seperti es jeruk, es teh manis dan es campur istimewa menjadi penyumbang pendapatan terbesar kedua setelah nasi pecel dan nasi rawon di warungnya.
Dalam waktu 2 tahun, ‘Nasi Pecel Blitar’ Mbak Nurul sudah mapan dengan pelanggan setia dan pesanan katering kecil-kecilan baik dari acara-acara tertentu maupun acara instansi pemerintahan sekitar wilayah Jakarta Timur. Berkat pelatihan-pelatihan memasak dari LPPM Universitas Trilogi, sensasi rasa ‘Nasi Pecel Blitar’ semakin menyengat lidah setiap penikmatnya. Tidak lupa, penyajiannya juga menebar pesona untuk dinikmati.
Usaha kuliner Nurul semakin maju hingga pada akhir 2016, ‘Nasi Pecel Blitar’ Mbak Nurul pindah ke sebuah ruko besar di Jalan Raya Ceger, tidak jauh dari tempat lamanya. Di tempat barunya, warung milik Nurul kelihatan lebih luas untuk menampung jumlah pengunjung yang lebih besar lagi. “Pihak LPPM Universitas Trilogi masih sering datang ke warung untuk sekedar memantau perkembangan usaha saya, terutama Ibu Ludwina. Dan, pengurus Posdaya Bahagia juga terus memberikan perhatian kepada saya dengan rutin berkunjung, terutama Ibu Yana Fajriana,” pungkas Nurul.
Sekarang, Nurul sedang bersiap membuka satu cabang lagi, tapi tidak di ruko besar, melainkan mulai dari kecil-kecilan seperti kala ia memulai ‘Nasi Pecel Blitar’ pertama kali. Hasil pembinaan berkelanjutan dari Damandiri berhasil mengubah wajah usaha Nurul menjadi lebih modern, tanpa meninggalkan kearifan lokal sepiring ‘Nasi Pecel Blitar’ miliknya.
Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw